
Udara malam di Kota Bandar Lampung merayap dingin, membawa serta aroma khas debu jalanan yang basah selepas sisa hujan sore hari. Jam di dinding ruang tamu baru saja menunjukkan pukul sembilan malam, berdentang lirih menandakan dimulainya sepertiga malam pertama. Suasana rumah terasa begitu sunyi, hanya menyisakan deru kipas angin tua yang berputar lambat dan suara cicak dari sudut langit-langit.
Fathian duduk bersila di atas sajadah tebal berwarna hijau tua yang mulai pudar di beberapa bagian. Punggungnya bersandar pada dinding kamar yang bercat putih kusam. Di hadapannya, sebuah Al-Qur'an kecil berukuran saku tergeletak terbuka di atas meja nakas kecil, di samping segelas air putih yang permukaannya tampak tenang memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram.
"Sudah malam, Fath. Kenapa belum tidur? Besok kamu harus bangun pagi lagi untuk mengurus toko," suara lembut istrinya, Salma, terdengar dari ambang pintu kamar. Salma berdiri mengenakan mukena putih yang belum dilepas selepas shalat Isya.
Fathian mendongak, menatap istrinya dengan senyuman tipis yang menyembunyikan kelelahan luar biasa di balik kantung matanya. "Sebentar lagi, Sal. Kepalaku masih terasa penat. Rasanya ada beban berat yang menindih dada sejak siang tadi, semenjak surat pemberitahuan dari bank itu datang."
Salma melangkah masuk, lalu duduk di tepi tempat tidur yang berada tidak jauh dari tempat Fathian bersimpuh. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sendiri. "Aku tahu ini berat buat kita, Mas. Tapi kita harus tetap tenang. Marah atau sedih berlebihan tidak akan mengubah isi surat itu."
"Bukannya aku tidak ikhlas, Sal. Tapi, memikirkan utang yang jatuh tempo minggu depan sementara omzet toko terus menurun drastis... itu membuatku sesak," ucap Fathian lirih, jemarinya meremas kain sarungnya sendiri dengan erat. "Dua puluh tahun aku merintis usaha ini dari nol, dan sekarang semuanya seperti berada di ujung tanduk."
"Istighfar, Mas... Astagfirullahal'azim," Salma bergeser, duduk bersila di samping suaminya, lalu mengelus punggung Fathian dengan penuh kelembutan. "Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Kita jalani saja dulu apa yang ada di depan mata."
Fathian menunduk, menatap butiran tasbih kayu di tangannya. "Aku malu pada diriku sendiri, Sal. Selama ini aku selalu mengajarkan anak-anak kita untuk tawakal, tapi ketika ujian ini menimpa diriku sendiri, hatiku justru goyah dan merasa seolah-olah Allah jauh."
"Jangan bicara seperti itu, Mas. Manusia tempatnya lupa dan lemah. Justru karena itulah kita dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, terutama di waktu-waktu sepi seperti sekarang ini," balas Salma dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.
Suasana kembali hening sejenak. Hanya terdengar suara detik jam dinding yang berdetak konstan, seolah menghitung detik demi detik kecemasan yang menggelayut di benak Fathian. Ia tahu malam ini adalah malam penentu bagi langkah-langkah selanjutnya yang harus ia ambil demi menyelamatkan masa depan keluarganya.
❖ ❖ ❖
Fathian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadanya dengan oksigen sebanyak mungkin guna meredakan rasa sesak yang kian menjadi. Targetnya malam ini sangat jelas: ia harus menemukan ketenangan batin terlebih dahulu sebelum merumuskan strategi pelunasan utang yang logis keesokan harinya. Tanpa ketenangan hati, pikirannya akan buntu dan ia tidak akan bisa berpikir jernih.
"Sal, tujuan utamaku malam ini bukan sekadar meratapi nasib atau menghitung kerugian," kata Fathian sambil menatap lurus ke arah jendela kaca kamar yang memperlihatkan pekatnya malam di luar sana. "Aku ingin mengadu pada Yang Maha Kuasa. Aku ingin memohon petunjuk secara langsung, jalan mana yang harus aku tempuh agar toko dan rumah ini tidak disita pihak bank."
"Langkah apa yang sudah ada di kepalamu sekarang, Mas?" tanya Salma serius, menatap lekat-lekat mata suaminya.
"Pertama, aku harus bisa melunasi cicilan yang tertunda selama tiga bulan ini sebelum surat peringatan kedua diterbitkan minggu depan," jawab Fathian dengan nada tegas namun sarat keputusasaan. "Kedua, aku harus meyakinkan para supplier agar mau memberikan kelonggaran tempo pembayaran barang dagangan yang baru saja masuk kemarin sore."
"Apakah supplier kita mau mengerti kondisi keuangan kita yang sedang sekarat seperti ini?" tanya Salma ragu-ragu. "Kemarin Pak Hartono, pemilik toko grosir langganan kita, sudah menelepon dua kali menanyakan pembayaran nota yang jatuh tempo."
"Aku harus mencobanya, Sal. Tidak ada jalan lain selain berbicara jujur kepada mereka," ujar Fathian mantap. "Selama ini kita selalu menjaga kepercayaan dalam berdagang. Aku yakin, jika kita jujur mengenai kesulitan ini, masih ada sedikit celah keringanan yang bisa diberikan."
Salma mengangguk pelan, meskipun bayang-bayang kegagalan tetap membayangi pikirannya. "Kalau begitu, mulailah dengan shalat tahajud dan istighfar sebanyak-banyaknya, Mas. Ketukan pintu langit adalah satu-satunya harapan kita yang paling pasti saat ini."
Fathian bangkit perlahan dari duduknya. Ia merapikan sarung dan pecinya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Air dingin yang membasuh wajah, tangan, dan kakinya sedikit banyak berhasil menyegarkan kembali fisik dan pikirannya yang sempat kalut.
Sesampainya kembali di atas sajadah, Fathian berniat menegakkan shalat sunnah mutlak empat rakaat sebelum menutupnya dengan witir. Setiap gerakan shalat ia lakukan dengan khusyuk, mencoba meresapi setiap bacaan doa, seolah-olah shalat malam itu adalah shalat terakhir yang ia lakukan di dunia ini.
Di dalam doanya yang panjang, Fathian mencurahkan segala keresahan hatinya. Ia tidak meminta kekayaan yang berlimpah, melainkan kemudahan dalam menyelesaikan tanggungan dan perlindungan bagi keluarganya dari kehinaan akibat lilitan utang yang menumpuk.
❖ ❖ ❖
Waktu terus merayap menuju tengah malam. Suara bising kendaraan di jalan raya utama yang biasanya ramai kini sudah mulai mereda, menyisakan keheningan malam yang semakin pekat. Fathian masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya, menundukkan kepala dengan tasbih yang terus berputar di antara jari jemarinya.
"Astaghfirullahal'azim... astaghfirullahal'azim..." bisik Fathian berulang-ulang, pelan namun penuh penghayatan. Setiap lafaz istighfar yang meluncur dari bibirnya terasa seperti tetesan air sejuk yang memadamkan bara api di dalam dadanya.
Salma yang sejak tadi mengawasinya dari tempat tidur perlahan mendekat dan meletakkan secangkir teh hangat di dekat sajadah suaminya. "Minum dulu sedikit, Mas. Tenggorokanmu pasti kering dari tadi."
Fathian menghentikan dzikirnya sejenak, lalu menoleh dan tersenyum tipis kepada istrinya. "Terima kasih, Sal. Rasanya luar biasa berat, tapi seiring dengan istighfar yang kubaca, ada semacam kelegaan yang merambat pelan ke dalam hati."
"Itulah rahasia istighfar, Mas," kata Salma sambil duduk bersimpuh di sebelah Fathian. "Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesusahan, melonggarkan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka."
"Aku tahu ayat itu, Sal. Tapi mempraktikkannya di tengah himpitan kenyataan pahit seperti ini ternyata membutuhkan mental baja," aku Fathian jujur sambil menyeruput teh hangat buatan istrinya. Hangat cairan itu mengalir ke tenggorokannya, sedikit meredakan ketegangan otot di lehernya.
"Justru di situlah letak ujian keimanan kita," timpal Salma bijak. "Kalau semuanya mudah, kita tidak akan pernah tahu seberapa besar pertolongan Allah yang nyata dalam hidup kita."
Fathian merenungkan perkataan istrinya. Pikirannya mulai melayang kembali pada perjalanan hidupnya selama dua dekade terakhir. Toko kelontong kecil yang ia dirikan bersama Salma dulunya hanyalah sebuah kios papan berukuran tiga kali empat meter. Berkat kerja keras, kejujuran, dan doa yang tidak pernah putus, usaha itu berkembang pesat hingga mampu membiayai kuliah anak-anak mereka.
Namun, hantaman pandemi beberapa tahun lalu, disusul oleh kenaikan harga bahan pokok yang tidak stabil serta serbuan toko-toko ritel modern di dekat lingkungan rumah mereka, perlahan-lahan menggerus keuntungan bersih tokonya. Puncaknya adalah bulan ini, ketika ia harus menarik pinjaman bank untuk menutupi modal operasional yang berujung pada kemacetan cicilan.
"Apakah kita harus menjual mobil tua itu, Sal?" tanya Fathian tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat tercipta.