Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Mengapa Cinta Manusia Begitu Fana?

Refleksi Masa Lalu: Mengapa Cinta Manusia Begitu Fana?

Pukul tiga pagi di bilik sempit perpustakaan arsip langit kelima selalu membawa keheningan yang pekat, seolah waktu pun enggan berdetik lebih cepat di antara tumpukan manuskrip tua yang mulai rapuh dimakan usia. Arka duduk termenung di balik meja kayu jati yang permukaannya sudah terkelupas di banyak sisi, ditemani sebatang lilin lebah yang menyala dengan nyala kuning kemerahan yang menari-nari pelan, melemparkan bayangan panjang ke dinding batu yang lembap. Di luar jendela kaca patri yang berdebu, badai salju pertama musim dingin menderu-deru, menghantam bingkai jendela dengan suara gemeretak yang konstan, menciptakan kontras yang tajam antara kehangatan kecil di dalam ruangan dan kekejaman cuaca di luar sana.

Udara di dalam ruangan itu terasa berat, dipenuhi aroma kertas kuno, debu berabad-abad, dan sedikit bau tinta sepia yang mengering. Arka merapatkan mantel wol tebalnya ke tubuh, mencoba menepis gigil yang merambat dari lantai batu dingin ke ujung jemarinya yang kaku. Di hadapannya terbentang sebuah buku catatan bersampul kulit domba hitam yang sudah retak-retak—sebuah benda peninggalan dari masa lalu yang baru saja ia temukan di balik dinding palsu lantai bawah.

"Malam ini, badai benar-benar tidak kenal ampun," bisik sebuah suara lembut dari sudut gelap ruangan, memecah keheningan yang mendominasi sejak tengah malam tadi.

Liora melangkah keluar dari bayangan rak buku tertinggi, membawa dua cangkir tanah liat berisi seduhan teh arum manis yang mengepulkan uap hangat tipis ke udara. Gadis itu mengenakan jubah panjang berwarna hijau lumut, dengan rambut peraknya yang diikat longgar ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah tirusnya.

"Kau seharusnya sudah tidur, Liora," jawab Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku yang terbuka. Suaranya terdengar serak, lelah, dan sarat akan beban pikiran yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. "Pekerjaan ini tidak akan selesai hanya dalam satu malam, dan kau tahu betul arsip-arsip ini tidak akan lari ke mana-mana."

"Aku tahu," balas Liora sambil meletakkan salah satu cangkir di sebelah tangan Arka yang sedang memegang pena bulu. Ia lalu menarik kursi kayu reyot dan duduk di hadapan pria itu, menatap lekat-lekat mata Arka yang tampak merah karena kurang tidur. "Tetapi kau juga tidak akan bisa memutar balik waktu hanya dengan menatap lembaran-lembaran kertas itu sampai matamu berdarah. Apa yang sebenarnya kau cari di dalam buku catatan tua itu, Arka?"

Arka mendesah pelan, menyesap teh hangat yang langsung memberikan sensasi nyaman di tenggorokannya yang kering. Ia menatap Liora dengan tatapan yang menyiratkan keraguan mendalam sebelum akhirnya menunjuk sebuah kalimat yang tertulis dengan tinta merah pudar di halaman tengah buku tersebut.

"Aku sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang menghantui separuh hidupku," kata Arka lirih. "Mengapa cinta manusia begitu fana? Mengapa ikatan yang kita bangun dengan susah payah, yang kita janjikan untuk bertahan selamanya, bisa runtuh begitu saja hanya karena waktu dan kematian?"

Liora terdiam sejenak. Sorot matanya berubah menjadi lebih lembut, namun ada kilatan kesedihan yang tersirat di sana, seolah ingatan lama yang menyakitkan baru saja tersentuh. Ia tahu persis bahwa Arka sedang membuka kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh dari kehidupan mereka sebelumnya.

"Pertanyaan itu sudah ada sejak manusia pertama menginjakkan kaki di bumi ini, Arka," ucap Liora pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara deru angin malam yang semakin kencang di luar. "Dan mungkin, jawabannya memang tidak pernah ada, atau sengaja disembunyikan dari kita."

"Tidak, Liora," sanggah Arka tegas, jemarinya mencengkeram tepi meja dengan erat. "Catatan ini... peninggalan dari para leluhur penjaga gerbang waktu, mereka tahu sesuatu. Dan aku bertekad untuk menemukannya malam ini juga, sebelum fajar menyingsing dan badai ini menutup jalan kita selamanya."

❖ ❖ ❖

Tujuan Arka malam itu bukanlah sekadar merangkai sejarah atau membaca dongeng masa lalu yang tersimpan rapi di perpustakaan terpencil tersebut. Lebih dari itu, ia memiliki misi pribadi yang sangat mendesak dan penuh risiko: menemukan formula atau catatan leluhur mengenai inti dari eksistensi emosional manusia, khususnya mengapa perasaan cinta yang begitu agung dan abadi di dalam jiwa ternyata memiliki batas waktu yang sangat rapuh di dunia nyata.

Ia ingin membuktikan bahwa kefanaan bukan sekadar takdir biologis, melainkan sebuah cacat desain dalam penciptaan eksistensi fana yang bisa diperbaiki, atau setidaknya dipahami secara utuh agar rasa sakit kehilangan tidak lagi menghancurkan jiwa-jiwa yang rapuh.

"Dengarkan aku, Liora," ujar Arka dengan nada penuh keyakinan, mencondongkan tubuhnya mendekati gadis itu demi memastikan setiap kata yang diucapkannya terdengar jelas di tengah suara angin yang menderu. "Jika kita bisa memahami akar dari kefanaan ini, kita bisa menemukan cara untuk menghentikan siklus kehilangan yang terus berulang dari generasi ke generasi. Bayangkan berapa banyak air mata yang bisa diselamatkan jika cinta tidak lagi harus berakhir pada kematian atau perpisahan."

Liora menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam terhadap obsesi yang sedang merasuki pikiran rekan seperjalanannya itu. "Arka, kau sedang mencoba melawan hukum alam yang paling fundamental. Cinta itu fana justru karena ia memiliki batas; keterbatasan itulah yang membuat setiap detik kebersamaan menjadi begitu berharga. Jika cinta itu abadi tanpa akhir, manusia tidak akan pernah belajar menghargai arti kehadiran seseorang."

"Itu adalah argumen para filsuf yang menyerah pada takdir, Liora!" seru Arka, nada suaranya sedikit meninggi. "Aku tidak mencari filosofi yang puitis. Aku mencari kebenaran mutlak. Di halaman-halaman awal catatan ini, tertulis tentang sebuah artefak kuno yang disebut Cawan Ingatan Abadi. Konon, artefak itu mampu menyimpan esensi perasaan seseorang tanpa tergerus oleh waktu atau kematian fisik. Itulah yang harus kita temukan."

Liora menghela napas panjang, menyadari bahwa tidak ada argumen di dunia ini yang dapat mengubah pikiran Arka saat ia sudah menetapkan suatu tujuan. "Dan di mana kau perkirakan benda itu berada, Arka? Peta di dalam buku itu sudah robek di bagian akhirnya. Kita bahkan tidak tahu apakah artefak itu benar-benar ada atau hanya sekadar mitos penenang bagi orang-orang yang patah hati."

"Kita akan mencarinya di ruang bawah tanah tingkat tiga, tempat penyimpanan arsip terlarang," jawab Arka tanpa ragu.

Mendengar kata-kata itu, Liora terkesiap. "Kau pasti sudah gila! Ruang bawah tanah itu disegel sejak ratusan tahun lalu karena kutukan gas beracun dan runtuhnya struktur bangunan akibat gempa besar. Tidak seorang pun diizinkan turun ke sana."

"Aku tidak peduli dengan larangan para pendeta masa lalu," kata Arka sambil berdiri, merapikan mantelnya dan mengambil sebuah lentera besi tua yang diisi minyak khusus. "Aku sudah menunggu selama sepuluh tahun untuk mendapatkan petunjuk ini, Liora. Aku tidak akan mundur sekarang, bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawaku sendiri di dalam kegelapan itu."

Liora menatap Arka lekat-lekat, melihat tekad baja yang membara di balik mata pria itu. Meskipun ia tahu tindakan ini sangat berbahaya dan berpotensi menjadi jalan buntu yang mematikan, ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk membiarkan Arka pergi sendirian menghadapi bahaya tersebut.

"Baiklah," ucap Liora akhirnya sambil bangkit dari kursinya dan meraih jubah cadangan dari balik gantungan. "Jika kau bersikeras untuk turun ke jurang kegelapan itu, aku akan menemanimu. Tetapi ingat, Arka, jika keadaan menjadi terlalu berbahaya, kita harus segera kembali ke atas. Sepakat?"

Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang menyiratkan rasa terima kasih yang mendalam di tengah ketegangan malam itu. "Kesepakatan yang adil, Liora. Mari kita buktikan apakah cinta manusia benar-benar ditakdirkan untuk fana ataukah kita bisa menulis ulang takdir itu bersama-sama."

❖ ❖ ❖

Langkah kaki mereka berdua menggema pelan menuruni tangga batu melingkar yang curam dan dipenuhi lumut tebal, meninggalkan kehangatan semu di perpustakaan atas menuju kelembapan abadi di perut bumi. Setiap anak tangga yang mereka lewati terasa semakin dingin, seolah suhu di dalam gedung tua itu menurun secara drastis setiap kali mereka mendekati fondasi terdalam bangunan tersebut.

Lेंटera di tangan Arka memancarkan cahaya remang-remang yang hanya mampu menembus kegelapan sejauh beberapa meter ke depan, menyisakan bayangan-bayangan aneh di dinding batu yang basah oleh tetesan air bawah tanah.

"Tetaplah dekat di belakangku, Liora," bisik Arka saat mereka tiba di sebuah ancak tangga yang ujungnya langsung terhubung dengan pintu besi besar berkarat yang tertutup rapat oleh rantai tebal dan gembok raksasa. "Udara di sini mulai terasa tipis, dan bau belerang mulai tercium dari celah-celah lantai."

Liora mengangguk, merapatkan jubahnya sambil memperhatikan gembok raksasa yang tampak sudah berkarat parah namun masih kokoh menahan pintu tersebut. "Apakah kunci di saku mantelmu itu benar-benar akan berfungsi untuk membuka gembok kuno ini, Arka? Jangan sampai kita terjebak di sini selamanya karena salah membawa kunci."

"Kunci ini bukan sekadar alat mekanis, Liora," jawab Arka sambil merogoh saku dalamnya dan mengeluarkan sebuah anak kunci perak kecil yang memancarkan pendar kebiruan samar saat didekatkan ke logam berkarat tersebut. "Ini adalah kunci resonansi yang dibuat dari logam khusus oleh para penjaga gerbang. Ia akan mengenali getaran pintu ini jika niat kita selaras dengan rahasia yang tersimpan di baliknya."

Arka memasukkan anak kunci perak itu perlahan ke dalam lubang gembok yang penuh kotoran. Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Namun, saat Arka memutar kunci tersebut searah jarum jam disertai bisikan mantra kuno yang ia ingat dari halaman terakhir buku catatan, terdengar suara klik mekanis yang dalam dan berat dari dalam mekanisme gembok tersebut. Rantai-rantai besi yang melilit pintu tiba-tiba bergetar hebat, melepaskan debu tebal dan serpihan karat ke lantai batu.

Lihat selengkapnya