Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Memindahkan Fokus Hati

Pukul empat lewat empat puluh menit dini hari, suasana di sebuah rumah petak sederhana di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, masih diselimuti keheningan yang pekat. Udara dingin sisa malam menyusup lewat celah-celah jendela kayu, membawa aroma tanah basah setelah gerimis tipis mengguyur kota semalam. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, seberkas cahaya kuning temaram dari lampu tidur meja menyinari sudut ruangan yang dipenuhi tumpukan buku-buku agama dan sebuah meja kerja kayu kecil.

Rania duduk bersila di atas sajadah beludru berwarna hijau tua yang sudah mulai menipis bulunya. Mengenakan pakaian tidur terusan panjang berwarna abu-abu terang yang tertutup rapi dengan jilbab instan hitam, kedua telapak tangannya menengadah khusyuk. Bibirnya bergerak-gerak melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar, meresapi setiap maknanya hingga menembus relung jiwa.

"Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afa' fa'fu 'anni..." gumamnya lirih, mengakhiri rangkaian tahajudnya dengan sujud yang cukup panjang.

Di hadapannya, keheningan subuh seolah menjadi saksi bisu atas pergulatan batin yang telah ia jalani selama beberapa minggu terakhir. Setelah peristiwa di kedai kopi Pahoman dan pesan misterius tentang amanah almarhumah ibunya, hidup Rania tidak lagi sama. Hari-hari yang dulunya diwarnai oleh bayang-bayang masa lalu, rasa cemas terhadap penilaian manusia, dan sisa keterikatan emosional pada sosok Arka, kini perlahan-lahan mulai terkikis. Ia menyadari bahwa ujian terbesar dalam hidup seorang hamba bukanlah kehilangan sesuatu yang dicintai di dunia, melainkan kehilangan arah hati yang seharusnya hanya bersandar kepada Sang Pencipta, Al-Khaliq.

Suara azan subuh berkumandang merdu dari musala kecil di ujung gang rumahnya, memecah kesunyian malam dan membangunkan denyut kehidupan pagi hari. Rania bangkit perlahan dari sujudnya, merapikan mukena, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Segar air wudu yang membasuh wajahnya seolah menyiram setiap sisa keraguan yang sempat singgah di benaknya.

Bagi Rania, hari Selasa ini menandai sebuah fase baru yang sangat krusial dalam perjalanan spiritualnya—sebuah proses hijrah rasa yang menuntut ketulusan mutlak untuk mencopot rasa cinta yang berlebihan kepada makhluk, dan memindahkannya seutuhnya kepada Zat yang Maha Abadi.

❖ ❖ ❖

Selesai melaksanakan salat sunah rawatib subuh dan menunaikan kewajiban fardunya, Rania tidak langsung beranjak dari sajadah. Ia meraih sebuah buku catatan berpoles kulit sintetis cokelat tua yang di sampulnya tertulis kutipan ayat: "Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (Kematian) yang tidak mati..."

Hari ini, Rania menetapkan satu tujuan yang sangat mulia sekaligus menantang bagi kestabilan mental dan spiritualnya: ia ingin menuntaskan proses detoksifikasi hati dari segala bentuk ketergantungan emosional terhadap masa lalu. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi ruang sekecil apa pun di dalam hatinya yang menyisakan rasa kecewa, dendam, atau bahkan secercah pengharapan kosong kepada manusia.

"Ya Rabb, aku ingin hati ini benar-benar bersih hanya untuk-Mu," ucap Rania dalam bisikan batinnya, memegang erat buku catatan tersebut di atas dadanya.

Ia tahu persis bahwa memindahkan fokus hati dari makhluk ke Al-Khaliq bukanlah perkara mudah membalikkan telapak tangan. Selama bertahun-tahun, manusia sering kali terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari restu, perhatian, atau kehadiran orang lain di sisi mereka. Ketika ikatan itu putus—seperti pembatalan pertunangannya dengan Arka—hatinya sempat hancur berkeping-keping karena ia menaruh sandaran harap pada tempat yang salah.

Kini, Rania bertekad untuk meluruskan kiblat hatinya. Setiap kali bayangan wajah Arka atau ucapan menyakitkan dari Siska tebersit di kepalanya, ia segera melawannya dengan dzikir dan pengingat teologis bahwa manusia hanyalah mahluk fana yang tidak memiliki daya apa pun tanpa izin-Nya.

"Rania, apa kamu yakin sudah benar-benar siap melepaskan semuanya?" suara pelan ibunya seolah berkelebat di dalam ingatannya, mengingatkan pada pesan-pesan bijak semasa almarhumah masih ada.

"Insya Allah, Ibu. Aku siap," jawab Rania mantap di dalam hatinya.

Tujuan utamanya hari ini bukan sekadar melupakan, melainkan mengganti posisi cinta duniawi di dalam hatinya dengan cinta ilahi yang hakiki. Ia ingin belajar mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan meridai segala ketentuan takdir tanpa ada protes atau keluh kesah yang keluar dari lisannya. Buku catatan di hadapannya akan menjadi saksi atas lembaran baru hijrah rasa yang ia mulai detik ini juga, sebuah perjalanan sunyi menuju kedamaian jiwa yang abadi di bawah naungan rida Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan-lahan merangkak naik, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah ventilasi rumah petak Rania. Suara deru kendaraan bermotor mulai ramai terdengar dari jalan raya utama di luar kompleks perumahan. Pukul delapan pagi, Rania telah bersiap dengan balutan gamis polos berwarna navy dan jilbab instan senada, siap melangkahkan kaki keluar rumah untuk menghadiri sebuah majelis taklim pekanan di Masjid Al-Furqon, pusat kota Bandar Lampung.

Perjalanan dari rumah menuju masjid tersebut menjadi sebuah jembatan transisi yang sangat penting bagi mental Rania. Di dalam angkutan umum kota yang ditumpanginya, ia memilih duduk di dekat jendela, memandangi deretan ruko dan pepohonan mahoni yang berlarian mundur seiring laju kendaraan.

Pemandangan kota yang sibuk pagi itu mengingatkannya pada betapa cepatnya dunia berputar, dan betapa ironisnya manusia sering kali menghabiskan waktu hidupnya yang singkat hanya untuk meratapi kekecewaan pada sesama makhluk yang juga fana.

"Kenapa kita sering lupa bahwa dunia ini hanya tempat singgah sementara?" gumam Rania pelan di dalam hatinya, merenungkan perjalanan batin yang telah membawanya dari titik terendah kepedihan menuju kesadaran spiritual yang mendalam.

Transisi dari fase meratapi masa lalu menuju penerimaan takdir yang ikhlas menuntut adanya perpindahan paradigma berpikir. Rania menyadari bahwa selama ini ia memandang masalah pertunangannya sebagai sebuah kegagalan personal yang memalukan. Namun, seiring berjalannya waktu dan kedalaman ilmu agama yang ia pelajari di majelis-majelis taklim, pandangan itu berubah total. Kegagalan duniawi tersebut justru merupakan bentuk penjagaan ketat dari Allah SWT agar ia tidak terjerumus ke dalam kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas fondasi kemaksiatan dan pelanggaran syariat.

"Setiap rasa sakit yang kita rasakan karena makhluk adalah cara Allah menarik kembali hati kita yang sempat tersesat mencintai selain-Nya," begitu kalimat mutiara dari seorang ustadzah yang pernah ia dengar, dan kalimat itu kini terpatri kuat di dalam ingatannya.

Setibanya di halaman Masjid Al-Furqon yang megah, Rania turun dari angkutan umum dengan langkah yang ringan dan mantap. Suasana halaman masjid tampak asri dengan beberapa pohon besar yang menaungi pelataran parkir. Hawa sejuk langsung menyapa wajahnya begitu ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga masjid. Transisi fisik ini mencerminkan transisi batin yang sedang ia jalani—berpindah dari hiruk-pikuk keduniawian yang melelahkan menuju ketenangan spiritual yang hakiki di rumah Allah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya