
Nasihat Orang Tua Fathian: Sabar adalah Perisai Mukmin.
Udara senja di penghujung bulan Juli 2026 menyaput kota kelahirannya dengan warna jingga keemasan yang hangat, perlahan berubah menjadi kelam ketika azan Maghrib berkumandang dari surau tua di sudut kampung. Di teras rumah kayu berukuran sedang yang dikelilingi rimbunnya pohon rambutan dan mangga, Fathian duduk bersimpuh di atas kursi rotan usang milik ayahnya. Aroma khas tanah basah bercampur wangi bunga melati dari halaman depan menguar terbawa angin malam yang mulai turun mendinginkan kulit.
Rumah itu adalah tempat di mana Fathian dibesarkan, sebuah tempat perlindungan sederhana yang selalu menawarkan ketenangan di tengah riuhnya badai kehidupan kota besar. Di hadapannya, secangkir teh poci hangat mengepulkan uap tipis, diletakkan di atas meja kayu jati tua yang sudah banyak goresan di permukaannya.
"Sudah lama kamu tidak pulang ke kampung, Fath. Wajahmu menyiratkan beban yang tidak kecil," suara serak namun tegas milik Abah—panggilan akrab ayahnya—memecah kesunyian malam. Abah duduk di kursi sebelah, mengenakan sarung tenun Samarinda tua dan kemeja koko putih yang bagian kerahnya sudah sedikit menguning.
Fathian mendongak, menatap mata ayahnya yang mulai rabun ditelan usia, namun sorot kebijaksanaannya tetap terpancar tajam. "Iya, Bah. Pekerjaan dan masalah di toko membuat Fathian baru sempat menengok Abah dan Emak sekarang. Rasanya beban hidup di kota kian hari kian menyesakkan dada."
"Masalah tidak pernah datang untuk melemahkanmu, Fath, tapi untuk menguji seberapa kokoh akar keimananmu," sahut Emak yang baru saja keluar dari pintu dapur membawa piring berisi pisang goreng hangat. Emak meletakkan piring itu di atas meja dengan hati-hati lalu duduk di samping Abah. "Makanlah dulu, jangan biarkan perutmu kosong membawa gundah."
Fathian tersenyum pahit, mengambil sepotong pisang goreng namun tidak langsung memakannya. Ia hanya memutar-mutar potongan pisang itu di atas piring kecil. "Bagaimana Fathian tidak gundah, Emak? Utang usaha yang menumpuk, persaingan dagang yang semakin kejam, ditambah lagi teguran dari bank beberapa waktu lalu membuat Fathian merasa hampir kehilangan arah."
"Apakah kamu sudah mengadu kepada Zat yang Maha Memiliki segalanya?" tanya Abah lembut sambil menyeruput teh hangatnya. Suara Abah terdengar begitu tenang, kontras dengan gemuruh amarah dan keputusasaan yang sejak sepekan terakhir bergejolak di dada Fathian.
Fathian terdiam sejenak. Ia menunduk menatap lantai papan kayu rumah orang tuanya yang berderit setiap kali tertiup angin malam. "Fathian sudah shalat malam, Bah. Fathian sudah beristighfar ribuan kali. Tapi rasanya jalan keluar itu masih tertutup rapat, seolah langit menutup pintu bagi doa-doa hamba yang penuh dosa ini."
"Hus! Jangan pernah berburuk sangka pada ketetapan Allah, Fath," tegur Emak dengan nada lembut namun tegas. "Allah tidak pernah tuli mendengar rintihan hamba-Nya. Mungkin cara-Nya menguji kesabaranmu bukan sekadar lewat keringanan materi, melainkan lewat keteguhan hatimu dalam menerima cobaan."
❖ ❖ ❖
Fathian menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi aroma pedesaan yang menenangkan untuk meredakan denyut di pelipisnya. Target utamanya pulang ke kampung halaman kali ini bukan sekadar melarikan diri dari tekanan penagih utang di kota, melainkan mencari petuah dan ketenangan batin dari kedua orang tuanya yang telah kenyang makan asam garam kehidupan.
"Abah, tujuan Fathian datang ke sini sebenarnya ingin meminta nasihat. Fathian lelah harus pura-pura kuat di hadapan istri dan anak-anak Fathian," aku Fathian jujur, suaranya sedikit bergetar menahan kepedihan yang teramat sangat. "Setiap hari Fathian harus tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, padahal di dalam hati Fathian merasa hancur lebur."
Abah meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja, lalu menatap putranya lekat-lekat. "Menjadi kepala keluarga memang tidak mudah, Fathian. Kamu adalah nakhoda di atas kapal rumah tanggamu. Kalau nakhodanya goyah dan mengeluh di hadapan penumpang, maka seluruh isi kapal akan panik dan tenggelam."
"Tapi Fathian juga manusia biasa, Bah. Fathian punya batas kesabaran," protes Fathian lirih, menatap tangan kasar ayahnya yang penuh bekas luka masa muda ketika berjuang menghidupi keluarga mereka.
"Siapa bilang sabar itu ada batasnya, Fath?" tanya Abah dengan senyuman tipis penuh makna. "Kalau kesabaran ada batasnya, berarti itu bukan lagi sabar, melainkan keluh kesah yang tertunda. Sabar seorang mukmin itu tidak bertepi, selaras dengan luasnya rahmat Allah."
Emak mengangguk menyetujui perkataan suaminya. "Abahmu benar, Fath. Dulu waktu kamu kecil, saat usaha Abah bangkrut total dan kami bahkan tidak punya beras untuk dimasak esok hari, apa yang Abahmu lakukan? Beliau tidak pernah memaki keadaan. Beliau justru memperbanyak sujud dan istighfar di sepertiga malam."
"Fathian ingat masa-masa itu, Emak. Tapi situasi zaman sekarang jauh lebih keras dan kejam dibandingkan dulu," sangkal Fathian dengan nada frustrasi. "Sekarang semua diukur dengan uang. Kalau tidak punya uang, kita dianggap tidak ada artinya di mata masyarakat."
"Itu karena kamu melihat dunia dengan pandangan manusia, Fath, bukan dengan pandangan iman," timpal Abah dengan suara tenang yang berwibawa. "Tujuan utamamu datang ke sini harus diluruskan. Kamu tidak boleh hanya mencari solusi duniawi semata, tetapi kamu harus mencari ketenangan jiwa agar hatimu lapang menerima apa pun ketentuan Allah."
Fathian merenungkan setiap kata yang meluncur dari bibir ayahnya. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu berfokus pada angka-angka di buku utang dan mengabaikan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Tujuan utamanya malam ini adalah membersihkan karat-karat keputusasaan yang mengotori hatinya.
"Ajari Fathian, Bah... bagaimana caranya agar hati ini bisa benar-benar sabar menghadapi badai sebesar ini?" pinta Fathian dengan tulus, menatap kedua orang tuanya penuh harap.
❖ ❖ ❖
Suasana malam di desa semakin larut. Suara jangkrik dan katak bersahutan di kebun belakang rumah menciptakan simfoni alam yang mendamaikan. Angin malam berhembus melalui celah-celah dinding kayu, membawa kesejukan yang perlahan meresap ke dalam tulang sumsum Fathian.
Abah bangkit dari kursi rotannya secara perlahan, dibantu oleh Emak yang memegang lengan suaminya dengan penuh kasih sayang. "Mari kita ambil air wudhu, Fath. Sebentar lagi masuk waktu shalat Isya berjamaah di surau kecil depan rumah kita. Setelah itu kita lanjutkan perbincangan ini di dalam rumah."
Fathian mengangguk, ikut berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia berjalan menuju sumur tua di samping rumah yang airnya selalu terasa dingin menyegarkan. Saat air wudhu mengguyur wajahnya, Fathian merasakan sensasi kesegaran yang luar biasa, seolah membasuh sebagian besar kepenatan yang menggelayuti kepalanya sejak perjalanan dari kota tadi sore.
Sesampainya kembali di ruang tamu rumah orang tuanya yang diterangi lampu bohlam kuning remang-remang, Abah sudah duduk bersila di atas tikar pandan tua. Emak menyajikan kendi berisi air putih dingin dan sepiring ubi rebus hangat.
"Duduklah yang dekat, Fath," panggil Abah sambil menepuk tikar di sampingnya. Fathian menurut, duduk bersila dengan takzim di hadapan orang tuanya.
"Hidup ini seperti roda yang berputar, Fathian," kata Abah memulai kembali perbincangan mereka setelah meneguk sedikit air putih. "Kadang kita di atas menikmati kemudahan, kadang kita di bawah merasakan pahitnya ujian. Orang yang cerdas adalah orang yang tidak terlena saat di atas dan tidak putus asa saat di bawah."
"Fathian paham secara akal, Bah. Tapi menerapkannya saat debt collector datang menagih di depan mata dan anak-anak meminta uang kuliah... itu rasanya seperti menelan bara api," ujar Fathian jujur, mencurahkan isi hatinya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Emak tersenyum hangat, mengelus pundak anaknya dengan lembut. "Itulah sebabnya Allah memberikan perisai bagi orang-orang beriman, Fath. Perisai itu bernama sabar dan shalat. Tanpa perisai itu, jiwamu akan tertusuk oleh keputusasaanmu sendiri."
Fathian merenungkan analogi yang diberikan oleh ibunya. Ia merasa seperti seorang prajurit yang nekat maju ke medan perang tanpa mengenakan pakaian pelindung, sehingga setiap serangan musuh langsung melukai jantungnya.