
Menjaga Pandangan (Ghadhdhul Bashar) di Lingkungan yang Sama.
Pukul delapan lewat sepuluh menit di lantai empat gedung pencakar langit korporasi media kreatif "Nusantara Visual" selalu menyuguhkan keriuhan yang terstruktur, di mana deru mesin pendingin ruangan berpadu dengan ketukan sepatu hak tinggi di atas lantai marmer putih mengkilap. Di balik kubikel bersekat kaca transparan bercorak minimalis, Farhan merapikan tumpukan berkas tata letak majalah edisi bulanan sambil menghela napas panjang untuk menepis rasa penat yang mulai merayap di pundaknya sejak ia tiba pukul tujuh pagi tadi. Ruangan kerja itu terasa sangat modern sekaligus steril, dipenuhi cahaya lampu LED putih terang yang memantul dari layar-layar komputer jinjing dan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah jalan raya protokol ibu kota yang padat merayap.
"Pagi yang melelahkan, Farhan. Kau tampak sudah tenggelam dalam lautan tenggat waktu bahkan sebelum matahari benar-benar naik sepenuhnya," tegur Siska, rekan sekantornya yang mengenakan blazer merah muda rapi, sambil membawa cangkir keramik berisi kopi hitam panas yang mengepulkan aroma harum ke udara.
Farhan mendongak dari layarnya, tersenyum tipis seraya merapikan letak kemeja lengan panjang dan peci hitam kecil yang selalu ia kenakan ke mana pun ia pergi. "Ah, Siska. Ya, seperti biasa, edisi kali ini membutuhkan ketelitian ekstra karena direktur meminta perombakan total pada rubrik gaya hidup sehat."
"Kau selalu bisa diandalkan untuk urusan ketelitian," puji Siska sambil meletakkan beberapa lembar dokumen cetak di atas meja kerja Farhan. "Tetapi omong-omong, kau tidak merasa lingkungan kerja kita sekarang semakin terbuka dan menantang? Maksudku, dengan konsep kantor terbuka tanpa sekat solid seperti ini, menjaga fokus dan pandangan tentu bukan perkara mudah bagi seseorang yang memegang prinsip sepertimu."
Farhan mengangguk pelan, jemarinya kembali menari di atas papan tik komputer. "Benar, Siska. Tantangannya memang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika sekat kubikel masih tinggi. Tetapi di situlah letak ujian konsistensinya; bagaimana kita tetap bisa profesional tanpa harus mengorbankan prinsip moral yang kita yakini."
Siska tersenyum maklum, lalu menepuk pelan partisi kaca kubikel Farhan sebelum berbalik melangkah pergi menuju pantri. "Kalau begitu, semoga pertahananmu tetap kokoh hari ini, Farhan. Mengingat hari ini ada sesi pemaketan model untuk rubrik sampul utama di studio lantai bawah."
Farhan hanya mengangguk pelan sebagai balasan, namun dalam hatinya, kata-kata Siska barusan langsung memicu kesadaran mendalam mengenai realitas pelik yang dihadapinya setiap hari di lingkungan kerja modern tersebut. Menjaga pandangan—atau yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai Ghadhdhul Bashar—bukanlah sekadar teori moral yang mudah diucapkan di atas kertas, melainkan sebuah perjuangan mental dan spiritual yang harus ia jalani setiap detik di tengah arus dinamika interaksi sosial korporasi yang sangat terbuka, bebas, dan terkadang tanpa batas norma.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Farhan hari itu bukanlah sekadar menyelesaikan tugas penyuntingan tata letak majalah atau memenuhi target tenggat waktu yang diberikan oleh perusahaan demi mendapatkan bonus akhir bulan. Jauh melampaui urusan profesionalitas karier semata, Farhan membawa sebuah misi pribadi yang jauh lebih sakral dan mendasar bagi integritas jiwanya: ia bertekad untuk membuktikan bahwa seorang profesional muda di era modern tetap dapat sukses berkarier di lingkungan korporasi yang sangat terbuka tanpa harus melunturkan prinsip-prinsip moral agamanya, khususnya dalam hal menjaga kehormatan pandangan mata dari hal-hal yang tidak diridhai.
"Bukan hal yang mudah bertahan di dunia kerja saat ini jika kau tidak memiliki kompas moral yang jelas, Farhan," bisik Rian, seorang senior di divisi pemasaran yang kebetulan melintas dan berhenti sejenak di dekat kubikel Farhan untuk menyerahkan laporan keuangan bulanan.
Farhan menerima laporan itu dengan sopan, menatap Rian dengan tatapan hangat yang penuh rasa hormat. "Aku sangat menyadari hal itu, Rian. Itulah sebabnya setiap kali aku melangkah masuk ke lobi gedung ini setiap pagi, aku selalu memperbarui niatku: bahwa bekerja di sini adalah bentuk ibadah, dan integritas diri adalah harga mati yang tidak bisa ditawar demi jabatan apa pun."
Rian tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan dengan campuran antara rasa kagum dan keheranan. "Kau terdengar seperti seorang pertapa yang tersesat di tengah rimba kapitalisme global, Farhan. Di luar sana, orang-orang berlomba-lomba memanfaatkan setiap daya tarik visual untuk menarik perhatian klien, sementara kau justru dengan sengaja menundukkan pandanganmu dari semua keindahan duniawi itu."
"Menundukkan pandangan bukan berarti menutup mata terhadap realitas atau menolak kemajuan zaman, Rian," sanggah Farhan dengan nada tenang namun tegas. "Itu adalah bentuk perlindungan diri agar hati kita tetap bersih dari godaan sesaat yang bisa merusak ketenangan batin jangka panjang. Aku ingin sukses secara profesional, ya, tetapi aku tidak mau kesuksesan itu dibayar dengan hilangnya rasa malu dan kendali atas hawa nafsuku sendiri."
Rian terdiam sejenak, merenungkan makna di balik kata-kata rekan kerjanya yang dikenal paling taat beragama di lantai empat tersebut. "Aku menghormati prinsipmu itu, Farhan. Dan jujur saja, di tengah dunia korporasi yang serba bebas ini, keberadaan orang sepertimu memberikan keseimbangan tersendiri bagi kami semua."
"Terima kasih atas dukungannya, Rian," balas Farhan tulus. "Aku hanya berusaha menjalani apa yang aku yakini benar, sekecil apapun usaha itu di tengah lingkungan yang serba menantang ini."
Setelah Rian berlalu kembali ke ruangannya, Farhan kembali memfokuskan pandangannya pada layar monitor di hadapannya. Ia tahu bahwa tujuan luhur yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri hari itu akan diuji secara nyata, terutama ketika ia harus menghadiri rapat koordinasi lintas divisi di ruang sidang utama lantai sepuluh nanti siang, di mana interaksi langsung dengan berbagai pihak dengan latar belakang dan gaya berpakaian yang sangat beragam tidak dapat dihindari sama sekali.
❖ ❖ ❖
Jarum pendek di jam dinding kubikel Farhan menunjuk angka sebelas lewat empat puluh lima menit ketika pintu lift utama berdenging pelan menandakan kedatangannya di lantai empat. Suasana kantor mendadak berangsur-angsur sibuk karena para pegawai mulai bersiap-siap untuk istirahat makan siang atau bergegas menuju ruang rapat utama untuk agenda koordinasi mingguan divisi kreatif dan pemasaran. Farhan merapikan beberapa dokumen penting di mejanya, memasukkannya ke dalam tas kerja kulit sintetis hitam, lalu bangkit berdiri dari kursi kerjanya sambil meluruskan punggungnya yang sedikit pegal.
"Kau langsung ke ruang rapat utama, Farhan?" tanya Siska yang lewat sambil merapikan tas jinjingnya.
"Ya, benar," jawab Farhan sambil mengenakan kembali jas kerjanya yang rapi. "Agenda koordinasi lintas divisi dimulai tepat pukul dua belas siang, dan aku tidak ingin terlambat datang ke sana."
"Baiklah, kalau begitu kita bisa berjalan bersama ke sana," kata Siska ramah. "Koridor lantai sepuluh hari ini pasti sangat ramai karena direktur utama baru dijadwalkan hadir langsung untuk memberikan arahan strategi kampanye digital triwulan kedua."
Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri koridor panjang berkarpet tebal berwarna abu-abu gelap menuju lift eksekutif. Sepanjang perjalanan, Farhan menunjukkan sikap profesional yang konsisten; saat berpapasan dengan rekan-rekan kerja wanita maupun pria di sepanjang lorong, ia mengangguk sopan sekadarnya sebagai bentuk salam tanpa membiarkan pandangannya terarah liar ke sembarang arah. Ia melatih dirinya untuk menjaga arah pandangan tetap lurus ke depan atau sedikit menunduk ke arah lantai bersih di bawah langkah kakinya, sebuah kebiasaan kecil yang telah ia bangun selama bertahun-tahun demi menjaga kemurnian niat dan ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
"Kau tahu, Farhan," ucap Siska membuka percakapan ringan saat mereka menunggu pintu lift terbuka. "Beberapa pegawai baru terkadang salah mengartikan sikapmu yang sering menunduk saat berbicara dengan rekan wanita sebagai bentuk kesombongan atau ketidakramahan."
Farhan tersenyum tipis mendengar komentar jujur dari rekan kerjanya itu. "Aku tahu, Siska. Dan aku tidak pernah berniat untuk bersikap sombong kepada siapa pun di kantor ini. Menundukkan pandangan justru adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa aku berikan—menghormati kehormatan mereka sekaligus menjaga kehormatan diriku sendiri dari hal-hal yang tidak diiginkan."