Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Tawakal Tingkat Tinggi

Tawakal Tingkat Tinggi: Menyerahkan Skenario Hidup pada Sang Sutradara---

Malam semakin larut di pelataran Pondok Pesantren Al-Falah, membawa serta hembusan angin dingin pegunungan yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Jam dinding kayu jati di ruang tamu utama ndalem menunjukkan pukul 23.45 WIB, berdetak pelan dalam keheningan yang nyaris sempurna. Hanya terdengar suara jangkrik bersahutan dari kebun belakang dan sesekali deru angin malam yang menggoyang dahan-dahan pohon mangga di halaman. Di ruangan yang diterangi cahaya lampu kuning temaram itu, suasana terasa begitu khusyuk dan sarat akan kontemplasi mendalam. Zaidan duduk bersila di atas permadani tebal berbulu lembut, mengenakan jubah putih bersih berbalut sarung hitam bercorak klasik. Di hadapannya, secangkir teh jahe hangat yang telah mendingin mengepulkan uap tipis terakhir sebelum benar-benar kehilangan panasnya.

Telepon genggam di atas meja kayu masih tergeletak bisu setelah panggilan mengejutkan dari Kairo tadi sore. Namun, kegelisahan yang sempat merayap di dada Zaidan kini telah berganti dengan ketenangan yang luar biasa. Pintu kamar sebelah terbuka pelan, menampilkan sosok Nayla yang melangkah keluar dengan mengenakan mukena putih bersih, baru saja selesai menunaikan salat malam. Wajah gadis itu tampak teduh, memantulkan cahaya ketulusan yang terpatri dalam setiap langkahnya mendekati Zaidan.

"Zaidan, kau belum tidur?" tanya Nayla lembut, suaranya memecah kesunyian malam seraya menarik kursi kayu kecil untuk duduk di dekat suaminya. "Pikiranmu masih melayang pada telepon dari konsulat di Kairo tadi, ya?"

Zaidan mendongak, menatap istrinya dengan senyuman tipis yang menenangkan. Ia menggeleng pelan sambil merapikan lembaran kertas catatan di atas meja. "Tidak, Nayla. Aku tidak sedang cemas. Justru sebaliknya, aku sedang mencoba merenungkan betapa rapi skenario yang telah Allah tetapkan untuk kita."

"Aku melihat ketenangan di matamu, berbeda dari biasanya," ujar Nayla, tangannya terulur meraih cangkir teh yang sudah dingin. "Biasanya kau akan langsung sibuk menganalisis setiap masalah kecil yang datang."

❖ ❖ ❖

Bagi Zaidan, tujuan hidupnya kini telah mengalami pergeseran yang sangat fundamental. Jika dulu ia mendedikasikan seluruh energinya untuk membuktikan kebenaran, menuntut keadilan duniawi, dan membalas sisa-sisa luka masa lalu, kini orientasinya sepenuhnya tertuju pada kepasrahan mutlak kepada Sang Pencipta. Warisan atau arsip rahasia milik mendiang Prof. Dr. Arkan yang ditemukan di Kairo bukanlah lagi sebuah beban masa lalu yang harus ditakuti atau diperebutkan, melainkan sebuah amanah yang harus disikapi dengan kebijaksanaan tingkat tinggi. Target utamanya malam ini adalah mencapai derajat tawakal yang sesungguhnya—menyerahkan kendali penuh atas masa depan keluarganya kepada Allah, tanpa ada rasa cemas berlebihan terhadap apa yang akan terjadi esok hari.

"Nayla, tujuan hidupku bukan lagi tentang bagaimana menguasai harta atau mempertahankan harga diri keluarga dari masa lalu," ucap Zaidan dengan suara mantap, menatap lurus ke dalam mata istrinya. "Aku ingin membersihkan hatiku dari segala bentuk ketergantungan selain kepada-Nya. Jika warisan Kairo itu membawa maslahat, kita terima dengan syukur. Jika ia hanya membawa fitnah dan perpecahan, kita relakan ia pergi tanpa rasa penyesalan."

Nayla mendengarkan dengan penuh takzim, matanya berkaca-kaca menahan haru melihat transformasi spiritual yang dialami suaminya. "Aku bangga padamu, Zaidan. Perjalanan panjang kita tidak sia-sia jika pada akhirnya kita menemukan esensi kepasrahan yang sejati."

"Tawakal tingkat tinggi bukanlah berarti kita duduk diam tanpa berbuat apa-apa, Nayla," lanjut Zaidan menjelaskan sambil merapikan sajadah di sisinya. "Melainkan bekerja secara maksimal dengan ikhtiar terbaik, lalu setelah itu melepaskan seluruh kecemasan hasil akhirnya kepada Sang Sutradara kehidupan. Biarlah Allah yang mengatur skenarionya."

Nayla mengangguk pelan, menyetujui setiap kata yang keluar dari suaminya. "Mari kita hadapi apapun isi pesan dari Kairo itu besok pagi dengan hati yang bersih, tanpa beban ambisi duniawi."

❖ ❖ ❖

Obrolan hangat itu terhenti sejenak ketika suara ketukan pintu utama terdengar pelan sebanyak tiga kali. Di tengah malam yang sudah larut, kedatangan tamu tentu mengundang tanda tanya besar. Zaidan dan Nayla saling berpandangan dengan ekspresi heran. Pak Karto, yang biasanya sudah beristirahat di paviliun belakang, terlihat berjalan tergopoh-gopoh dari arah lorong samping untuk membukakan pintu depan.

"Sebentar, malam-malam begini siapa yang datang?" gumam Pak Karto setengah berbisik, lalu memutar kunci pintu utama dan membukanya lebar-lebar.

Cahaya lampu luar memantulkan sosok seorang lelaki paruh baya berjas rapi namun basah oleh embun malam, berdiri bersama seorang pemuda berseragam kurir ekspedisi internasional. Lelaki berjas itu mengenakan kacamata berbingkai tipis dan membawa sebuah koper kecil berwarna hitam di tangan kanannya.

"Maaf mengganggu waktu istirahat malam Gus Zaidan. Apakah benar ini kediaman beliau?" tanya tamu tak diundang itu dengan nada sopan namun tergesa-gesa.

Zaidan bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati ruang depan, diikuti oleh Nayla yang berjalan di belakangnya. "Ya, benar. Saya sendiri Zaidan. Ada keperluan apa malam-malam begini Anda datang ke pesantren?"

Tamu tersebut memperkenalkan dirinya sebagai perwakilan resmi dari kantor konsulat jenderal yang mengurus arsip mendiang Prof. Dr. Arkan. Ia membuka koper kecil yang dibawanya, memperlihatkan sebuah kotak kayu berukir klasik yang terkunci rapat dengan segel resmi kenegaraan.

Lihat selengkapnya