Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Memaknai Waktu Produktif

Memaknai Waktu Produktif Lewat Majelis Ilmu Syar'i---

Pukul delapan lewat sepuluh menit pagi hari Minggu, suasana di halaman luas Masjid Al-Furqon, Bandar Lampung, tampak begitu hidup namun tetap menyimpan ketenangan yang khas. Langit biru cerah tanpa gumpalan awan mendung memayungi kota, membiarkan bias sinar matahari hangat menyapu barisan pohon mahoni dan lantai pelataran masjid yang bersih. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, membawa kesejukan dari sisa embun pagi yang menguap lambat di atas rumput-rumput taman sekitar halaman utama.

Di teras samping ruang utama masjid yang berlantai keramik krem, puluhan perempuan dari berbagai kalangan usia tampak duduk rapi di atas kursi lipat plastik maupun hamparan karpet tipis. Mereka mengenakan pakaian muslimah bernuansa lembut seperti pastel, abu-abu muda, dan navy, bersiap menyimak rangkaian acara majelis ilmu syar'i pekanan yang rutin diadakan setiap akhir pekan.

Rania duduk di barisan tengah, mengenakan gamis berwarna dusty pink yang dipadukan dengan jilbab pashmina instan berwarna senada. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kecil bersampul kulit sintetis cokelat tua dan pena hitam tersemat rapi, siap merekam setiap mutiara hikmah yang akan disampaikan oleh pemateri hari itu. Suasana sekitar tampak khidmat, diwarnai suara gumaman pelan para peserta yang saling menyapa ramah sebelum kajian dimulai.

Bagi Rania, hari Minggu ini bukan sekadar hari libur biasa untuk beristirahat di rumah, melainkan momentum emas untuk mengisi kembali ruhiyah dan menata ulang produktivitas hidupnya di atas rel syariat. Setelah berbagai badai emosional dan dinamika masa lalu yang menguji keteguhan hatinya, menghadiri majelis ilmu adalah pelabuhan terbaik untuk mendamaikan jiwa sekaligus memaknai waktu agar tidak terbuang sia-sia pada perkara yang sia-sia.

"Alhamdulillah, kita masih diberikan nikmat waktu luang untuk berkumpul di taman surga ini," bisik seorang perempuan berkerudung hijau toska yang duduk di sebelah kanan Rania, menyapa dengan senyuman ramah.

"Iya, semoga Allah memberkahi majelis kita pagi ini," balas Rania lembut sambil tersenyum tulus, menyambut kehangatan saudarinya seiman itu dengan hati yang lapang.

❖ ❖ ❖

Sesaat sebelum pengeras suara masjid berdengung pelan menandakan kajian akan segera dimulai, Rania menundukkan pandangannya sejenak ke arah buku catatan di pangkuannya. Hari ini, ia menetapkan sebuah tujuan mulia dan terukur bagi dirinya sendiri: ia ingin belajar bagaimana cara memetakan waktu harian secara produktif berdasarkan panduan syariat Islam, bukan sekadar mengejar target duniawi yang sering kali melelahkan dan melalaikan kewajiban akhirat.

"Ya Allah, bimbinglah akal dan hatiku untuk memahami bagaimana memanfaatkan setiap detik usia yang Engkau titipkan di dunia ini dengan sebaik-baik ibadah," ucap Rania dalam doa lirih di dalam hatinya.

Selama ini, Rania sering kali merasa keteteran atau terjebak dalam rasa bersalah setiap kali waktu berjalan begitu cepat tanpa diisi dengan amal yang berarti. Kadang kala, kesibukan mengurus pekerjaan rumah tangga dan urusan pribadi membuatnya abadi dalam kelalaian. Namun, melalui tema kajian hari ini yang membahas tentang manajemen waktu dalam Islam—Al-Waqtu ka al-Saif (Waktu itu bagaikan pedang)—Rania bertekad untuk merombak total pola hidupnya. Ia ingin setiap jam dalam harinya memiliki nilai tambah di hadapan Sang Pencipta.

"Rania, apakah kamu sudah menyiapkan pertanyaan kalau nanti ada sesi diskusi?" tanya sahabat karibnya, Salma, yang tiba-tiba duduk di kursi sebelah kirinya sambil merapikan tas kain miliknya.

Rania menoleh dan mengangguk pelan. "Ada beberapa hal tentang pembagian waktu antara ikhtiar mencari nafkah halal dan menuntut ilmu yang ingin aku tanyakan langsung pada ustadz, Salma. Rasanya penting sekali untuk mendisiplinkan diri agar tidak terjebak dalam kesibukan yang sia-sia."

"Bagus sekali kalau begitu. Aku juga ingin belajar bagaimana menata ulang jadwal harian agar tidak keteteran antara urusan dunia dan akhirat," sahut Salma penuh semangat, membuka buku catatannya yang serupa dengan milik Rania.

Tujuan Rania hari ini sangat jelas dan terarah: ia ingin pulang dari majelis ilmu ini bukan sekadar dengan tumpukan catatan teori di kepalanya, melainkan dengan sebuah kerangka kerja praktis—sebuah cetak biru produktivitas Islami yang bisa ia terapkan langsung mulai esok hari, menjadikan setiap detik napasnya bernilai pahala dan mendekatkan diri kepada Al-Khaliq.

❖ ❖ ❖

Seketika suara dengung mikrofon mereda, seorang ustadz paruh baya berpeci putih dan mengenakan gamis abu-abu rapi melangkah tenang menuju mimbar kecil di depan ruangan. Beliau mengucapkan salam dengan suara bariton yang lembut namun tegas, langsung menarik perhatian seluruh jamaah perempuan yang hadir. Suasana di teras masjid seketika berubah menjadi senyap penuh kekhidmatan; lembaran-lembaran buku catatan dibuka serentak, dan pena-pena di tangan para jamaah siap menorehkan tinta.

Perpindahan dari hiruk-pikuk aktivitas luar masjid menuju keheningan konsentrasi di dalam majelis ilmu menjadi sebuah jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi Rania. Ia menarik napas dalam-dalam, melepaskan segenap beban pikiran duniawi yang sempat mengekor di kepalanya sepanjang perjalanan tadi, lalu memfokuskan seluruh indranya untuk menyimak setiap kalimat pembuka yang disampaikan oleh sang pemateri.

"Kaum muslimah yang dirahmati Allah, mari kita renungkan sejenak. Waktu adalah modal utama manusia yang paling adil, karena setiap orang diberikan jatah 24 jam sehari yang sama persis," suara ustadz itu mengalun tenang, menggugah kesadaran setiap pendengarnya. "Namun, mengapa ada orang yang hidupnya penuh keberkahan dan produktivitas tinggi, sementara sebagian lainnya merasa waktu begitu sempit dan hampa tanpa arah?"

Kalimat pembuka tersebut langsung menghujam relung hati Rania. Ia mencatat kalimat itu dengan goresan pena yang tegas di halaman pertama buku catatan kecilnya. Transisi pemikiran terjadi secara drastis di dalam kepalanya; ia mulai menyadari bahwa produktivitas sejati dalam pandangan Islam bukanlah tentang seberapa banyak tugas duniawi yang berhasil diselesaikan dalam sehari, melainkan seberapa besar ketaatan dan dzikir yang menyertai setiap langkah aktivitas tersebut.

"Kalau kita salah meletakkan prioritas, maka dunia akan memperbudak waktu kita. Sebaliknya, jika kita mendahulukan rida Allah, dunia justru akan datang melayani kita dengan penuh keberkahan," lanjut sang ustadz memberikan analogi yang sangat mencerahkan.

Rania mengangguk-angguk kecil, meresapi setiap butir ilmu yang disampaikan bagaikan tetesan air hujan yang menyiram tanah tandus. Jembatan transisi ini membawanya keluar dari labirin kebingungan manajemen waktu menuju sebuah pencerahan teologis yang kokoh. Ia tidak lagi melihat waktu sebagai beban tenggat waktu yang menakutkan, amanah yang harus dikejar dengan cemas, melainkan sebagai ladang amal saleh yang terbentang luas, siap dipanen kapan saja melalui niat yang lurus karena Allah.

Lihat selengkapnya