Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Fathian Menemukan Ketenangan

Fathian Menemukan Ketenangan dalam Hafalan Al-Qur'an.

Cahaya keemasan matahari yang perlahan tergelincir di balik kubah hijau Masjid Al-Hidayah memancarkan bias hangat ke seluruh kompleks pesantren. Di serambi lantai dua yang menghadap langsung ke arah lapangan utama, Fathian duduk bersila di atas tikar pandan kasar. Angin senja berembus sepoi-sepoi, membawa serta aroma khas halaman pesantren—campuran antara wangi tanah basah sehabis disiram, wangi kayu bakar dari dapur santri, dan harumnya halaman yang ditanami bunga melati.

Di usianya yang menginjak dua puluh dua tahun, Fathian tampak tenggelam dalam keheningan batinnya sendiri. Di hadapannya terbentang sebuah mushaf Al-Qur'an berukuran sedang dengan sampul kulit sintetis yang sudut-sudutnya sudah mulai mengelupas karena sering disentuh.

"Fath, belum mau bersiap ke masjid? Sebentar lagi azan magrib berkumandang," tegur Ilyas, teman sekamarnya, yang melangkah mendekat sambil merapikan sarung tenunnya.

Fathian mendongak perlahan, mematikan lampu meja belajar kecil yang terhubung dengan stopkontak portabel. "Sebentar lagi, Yas. Aku masih ingin menyelesaikan setengah halaman terakhir dari hafalan surah Al-An'am ini," jawab Fathian dengan suara bariton yang tenang.

Ilyas tersenyum maklum, lalu duduk di sebelah Fathian. "Kamu ini, kalau sudah memegang mushaf seperti lupa waktu. Padahal wajahmu masih kelihatan lelah sekali sejak kejadian kemarin."

"Justru di sinilah letak obatnya, Yas," balas Fathian lembut, kembali menundukkan pandangannya ke lembaran ayat suci. "Setiap kali hatiku terasa penat memikirkan dunia luar dan segala kerumitannya, hanya Al-Qur'an tempat pelarian yang paling menenangkan."

Suasana senja di pesantren itu memberikan kontras yang sangat tajam dengan hiruk-pikuk kota besar yang baru saja ditinggalkan Fathian beberapa bulan lalu. Di pesantren inilah ia mencoba membangun kembali puing-puing hidupnya yang sempat hancur lebur.

❖ ❖ ❖

Malam hari setelah salat isya berjemaah, suasana masjid mulai sepi. Sebagian besar santri kembali ke asrama untuk istirahat atau mengulang pelajaran malam, sementara Fathian memilih tetap tinggal di saf paling depan dekat mihrab. Tujuan utama Fathian malam ini sangat spesifik: ia ingin menyelesaikan target hafalan juz sepuluh dan memantapkan bacaannya langsung di hadapan Ustadz Hanafi, pengasuh halaqah tahfiz yang terkenal sangat teliti.

"Fathian, malam ini giliranmu menyetorkan hafalan surat Al-A'raf?" suara Ustadz Hanafi terdengar lembut dari balik meja kecil tempatnya biasa mengoreksi bacaan santri.

Fathian segera merapikan duduknya, menegakkan punggung, lalu mengangkat mushafnya dengan kedua tangan penuh takzim. "Iya, Ustadz. Insya Allah saya siap menyetorkan dari ayat seratus sampai seratus empat puluh."

"Silakan dimulai, bacalah dengan tartil dan perhatikan makhraj serta panjang pendeknya," perintah Ustadz Hanafi sambil membuka lembaran catatan kecil di pangkuannya.

Fathian menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat. Ia mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang merdu dan syahdu. Setiap huruf yang keluar dari lisan Fathian seolah membawa gelombang ketenangan yang meresap ke dalam relung jiwanya yang paling dalam.

"Tujuanmu menghafal ini apa, Fathian?" tanya Ustadz Hanafi tiba-tiba di tengah sesi setoran, menghentikan bacaan Fathian sejenak.

Fathian menatap gurunya dengan tatapan jujur. "Saya ingin mencari ketenangan yang hilang, Ustadz. Selama ini hidup saya dipenuhi ambisi duniawi yang sia-sia, hingga membuat batin saya kering. Saya ingin Al-Qur'an bukan sekadar hafalan di kepala, tapi benar-benar hidup di dalam dada saya."

Ustadz Hanafi tersenyum bangga, menepuk pelan pundak Fathian. "Niat yang lurus. Al-Qur'an tidak akan pernah mendustakan hamba yang mendekatinya dengan ketulusan. Lanjutkan bacaanmu."

Fathian kembali melanjutkan hafalannya dengan semangat baru yang membuncah. Target utamanya malam ini bukan sekadar lulus setoran, melainkan meraih kedamaian batin yang selama ini ia cari ke berbagai tempat namun nihil hasil.

❖ ❖ ❖

Jam dinding di ruang kantor pondok menunjuk angka sepuluh malam ketika Fathian berjalan menyusuri koridor asrama yang temaram. Lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan yang memantul di lantai keramik bersih. Transisi dari kehidupan seorang pemuda kota yang ambisius, penuh tekanan sosial, dan terbiasa dengan gaya hidup serba cepat menuju kehidupan seorang santri yang tenang dan penuh disiplin bukanlah hal yang mudah. Fathian sering merenungkan betapa drastis perubahan arah hidupnya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

"Fath, belum tidur?" sapa ustaz muda penjaga asrama yang sedang berkeliling memeriksa kamar-kamar santri.

Fathian berhenti sejenak, tersenyum sopan. "Belum, Ustadz. Baru saja selesai setor hafalan di masjid."

"Baguslah. Istirahat yang cukup ya, Fath. Perjalanan spiritual itu butuh fisik yang bugar juga," pesan sang ustaz ramah sebelum melanjutkan langkahnya.

Fathian membuka pintu kamarnya pelan-pelan agar tidak membangunkan Ilyas yang sudah tertidur pulas di ranjang sebelah. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, membuka buku harian bersampul cokelat tua, lalu mulai merenungkan perjalanan batin yang telah ia lalui.

“Dulu aku mengira kebahagiaan terletak pada seberapa banyak materi yang bisa dikumpulkan dan seberapa tinggi jabatan yang bisa diraih. Ternyata, semua itu palsu. Ketenangan sejati baru kudapat ketika lidahku basah oleh ayat-ayat-Nya dan hatiku tunduk di atas sajadah malam.”

Lihat selengkapnya