Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Batasan-Batasan Tegas

Batasan-Batasan Tegas: Tidak Ada Ruang untuk Galau yang Melalaikan Kewajiban.

Pukul setengah dua belas malam di kamar minimalis berlantaikan parket kayu itu selalu menyisakan keheningan yang tebal, di mana deru angin malam bulan Oktober menderu pelan menghantam kaca jendela kamar kos. Cahaya lampu tidur berwarna kuning temaram memantul lembut di atas meja belajar kayu mahoni yang dipenuhi tumpukan buku catatan tebal, diktat kuliah, serta sebuah laptop yang layar monitornya masih menyala menampilkan draf laporan akhir. Di balik meja tersebut, Bagas duduk bersandar dengan punggung sedikit pegal, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara untuk merilekskan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah berjam-jam berkutat dengan angka-angka analisis data.

"Sudah hampir tengah malam, Bagas. Kau benar-benar tidak berencana untuk tidur?" bisik sebuah suara berat dari arah pintu kamar yang terbuka setengah, memperlihatkan Dimas—rekan sekamar sekaligus sahabat karibnya—yang berdiri mengenakan kaus oblong abu-abu sambil memegang segelas air putih hangat.

Bagas menoleh perlahan ke arah sahabatnya, tersenyum tipis seraya merapikan letak kacamata bacanya. "Sebentar lagi, Dim. Laporan penelitian ini harus selesai sebelum subuh, karena besok pagi pukul delapan aku harus mempresentasikannya di hadapan dosen pembimbing utama."

Dimas melangkah mendekati meja belajar, menggelengkan kepalanya pelan seraya meletakkan gelas air hangat di dekat tangan Bagas. "Aku tahu kau sedang menghadapi masa-masa berat setelah perpisahanmu dengan Nabila minggu lalu, tetapi menyiksa diri dengan bekerja seharian penuh tanpa istirahat seperti ini bukanlah cara yang tepat untuk melarikan diri dari rasa galau."

Bagas menghela napas panjang, menatap pantulan bayangannya sendiri di layar laptop yang gelap sebelum menyala kembali. "Aku tidak sedang melarikan diri, Dim. Aku hanya mencoba untuk tetap rasional."

"Rasional?" potong Dimas dengan nada setengah mengejek namun sarat akan kepedulian. "Setiap kali kau duduk di depan meja itu, matamu selalu menerawang kosong ke arah luar jendela setiap kali teringat pesan terakhirnya. Jangan bohongi aku, Bagas. Aku tahu kau sedang bersedih, dan itu wajar. Tetapi membiarkan rasa galau itu merusak fokus belajarmu adalah hal lain."

"Justru karena aku menyadari rasa sedih itu ada, aku menetapkan batasan yang tegas," jawab Bagas dengan nada suara yang tenang, tegas, dan tidak bisa ditawar. "Aku tidak akan membiarkan perasaan patah hati atau kegalauan murahan melalaikan kewajibanku sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir. Masa depanku tidak boleh hancur hanya karena sebuah bab percintaan yang usai."

Dimas terdiam sejenak, menatap lekat-lekat mata sahabatnya yang memancarkan tekad baja di tengah kepenatan malam itu. "Baiklah. Jika itu prinsip yang kau pegang teguh, aku hanya bisa mendoakan semoga ketahanan mentalmu tidak runtuh di tengah jalan."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bagas malam itu bukanlah sekadar merampungkan tugas laporan akhir perkuliahan demi mendapatkan nilai kelulusan yang sempurna di atas kertas. Jauh melampaui urusan akademis semata, ia membawa sebuah misi spiritual dan mental yang jauh lebih fundamental bagi keutuhan jiwanya: ia bertekad untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa rasa galau, patah hati, dan kekecewaan akibat putusnya hubungan asmara tidak memiliki hak untuk mendikte arah hidup, merusak produktivitas harian, atau melalaikan kewajiban-kewajiban utamanya sebagai manusia yang bertanggung jawab.

"Dengarkan aku baik-baik, Dim," ujar Bagas dengan nada serius sambil menatap lurus ke mata sahabatnya. "Banyak orang di luar sana berpendapat bahwa patah hati memberikan izin bagi seseorang untuk bermalas-malasan, mengurung diri di kamar, atau mengabaikan tanggung jawab akademis dan profesional dengan dalih sedang 'berproses menyembuhkan luka'. Menurutku itu adalah pembenaran yang salah."

Dimas menarik kursi plastik di sebelah meja belajar, lalu duduk sambil menyimak dengan penuh perhatian. "Lalu, apa pandanganmu tentang proses penyembuhan luka hati itu, Bagas?"

"Penyembuhan luka hati tidak boleh dilakukan dengan cara merusak masa depan kita sendiri," tegas Bagas mantap. "Rasa sedih adalah emosi manusia yang sah dan wajar dirasakan, tetapi ia tidak boleh dibiarkan menjadi parasit yang melumpuhkan akal sehat serta kewajiban harian kita. Aku punya target, aku punya amanah dari orang tua di kampung halaman, dan aku punya tanggung jawab moral untuk menyelesaikan studi ini tepat waktu. Titik."

Dimas mengangguk-angguk pelan, mengakui ketegasan prinsip yang dipegang oleh sahabatnya tersebut. "Tetapi bukankah menekan rasa sedih secara berlebihan justru berisiko membuat mentalmu meledak di kemudian hari, Bagas? Kau tidak bisa berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa setelah tiga tahun menjalin hubungan dengan Nabila."

"Aku tidak sedang berpura-pura tegar, Dim," sanggah Bagas dengan suara yang sedikit melunak namun tetap penuh keyakinan. "Aku tidak menutupi rasa sedihku; aku merasakannya, aku mengakuinya, tetapi aku menempatkannya pada porsi yang tepat. Ketika aku harus belajar, aku belajar dengan sepenuh hati. Ketika aku harus menangis atau merenung, aku melakukannya di luar jam produktifku, bukan saat kewajiban utamamu sedang menanti untuk diselesaikan."

"Prinsip yang sangat disiplin," puji Dimas tulus. "Tetapi pertanyaannya sekarang, apakah kepalamu benar-benar bisa fokus seratus persen pada angka-angka statistik di layar laptop itu ketika bayang-bayang kenangan masa lalu masih sering berkelebat di dalam pikiranmu?"

"Itulah sebabnya aku memasang batasan-batasan yang sangat tegas," jawab Bagas sambil kembali mengarahkan jemarinya ke papan ketik laptop. "Setiap kali pikiran tentang Nabila muncul di tengah-tengah pengerjaan tugas ini, aku secara sadar langsung mengalihkan fokus kembali ke data analisis. Disiplin adalah obat terbaik untuk mengalahkan rasa galau yang melalaikan."

Dimas tersenyum maklum, menepuk pelan pundak Bagas sebelum bangkit berdiri dan berjalan kembali menuju tempat tidurnya di sudut kamar. "Baiklah kalau begitu, kapten. Lanjutkan perjuanganmu. Aku akan tidur lebih dulu, dan semoga paginya laporanmu sudah siap untuk dipresentasikan."

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding kamar kos menunjuk angka dua lewat lima belas menit ketika keheningan malam semakin pekat menyelimuti seluruh bangunan kos bertingkat dua tersebut. Suara deru angin di luar jendela perlahan mereda, digantikan oleh suara ketukan tombol papan ketik laptop Bagas yang berirama konstan dan teratur di tengah remang-remang cahaya lampu kamar. Bagas tidak beranjak sedetik pun dari kursi kerjanya; ia mempertahankan postur tubuhnya tetap tegak, menjaga konsentrasi mentalnya agar tidak terkikis oleh rasa kantuk yang mulai menyerang kelopak matanya yang terasa berat.

"Kau masih terjaga, Gas?" gumam Dimas setengah mengantuk dari balik selimut tebalnya di tempat tidur seberang.

"Ya, masih menyelesaikan bagian kesimpulan analisis regresi linier," jawab Bagas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang menyilaukan mata. "Sebentar lagi selesai, jadi lanjutkan saja tidurnya, Dim."

Bagas menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang dingin untuk menyegarkan kembali pikirannya. Ia tahu persis bahwa godaan terbesar dari rasa galau bukanlah kesedihan itu sendiri, melainkan rasa malas yang menyertainya—kecenderungan psikologis untuk menyerah pada keadaan, membiarkan waktu terbuang percuma dengan meratapi nasib di atas tempat tidur, dan melupakan bahwa hidup terus berjalan tanpa menunggu kita siap.

Sepanjang malam itu, ia dengan sadar menerapkan prinsip batasan tegas yang ia yakini. Setiap kali memori tentang kenangan bersama Nabila—seperti gelak tawa mereka di kafe kampus atau janji-janji masa depan yang pernah mereka ukir bersama—muncul di benaknya, ia langsung mengibaratkan kenangan itu sebagai tamu yang datang tanpa diundang; ia akui kehadirannya sekilas, lalu dengan sopan ia persilakan untuk pergi karena ia sedang sibuk menyelesaikan tugas yang jauh lebih penting bagi masa depannya.

"Tidak ada ruang untuk galau yang melalaikan kewajiban," bisik Bagas pada dirinya sendiri pelan, menegaskan kembali komitmen mental yang telah ia bangun sejak hari pertama perpisahan mereka terjadi.

Ia membuka buku catatan catatan kuliah semester lalu, mencocokkan rumus-rumus statistik yang tertera di sana dengan data mentah di layar komputer untuk memastikan tidak ada satupun kesalahan kecil yang bisa mengurangi kualitas laporan akhirnya. Proses transisi dari malam yang panjang menuju fajar pagi itu ia lewati bukan dengan ratapan atau keluh kesah, melainkan dengan produktivitas nyata yang membuktikan bahwa tekad manusia jauh lebih kuat daripada luka emosional mana pun.

Lihat selengkapnya