Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Waktu Pagi yang Barokah

Waktu Pagi yang Barokah: Memulai Hari dengan Dzikir---

Fajar menyingsing perlahan di ufuk timur Kota Santri Al-Falah, mengusir pekatnya malam dengan semburat cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pohon mahoni. Udara subuh terasa begitu sejuk, membawa serta embun pagi yang masih menempel di ujung-ujung rumput hijau halaman pesantren. Pukul 04.30 WIB, suara azan subuh yang merdu berkumandang dari menara surau utama, menggema ke seluruh penjuru kompleks pondok dan membangunkan ketenangan jiwa setiap santri yang mendengarnya. Di dalam kamar utama ndalem, cahaya lampu tidur kuning temaram mulai berpadu dengan sinar keperakan pagi yang menyeruak dari balik jendela kaca berukir kayu jati. Suasana terasa begitu sakral, dipenuhi kedamaian mutlak yang jarang ditemukan di tempat lain.

Zaidan membuka matanya perlahan, menyesuaikan penglihatan dengan cahaya pagi yang lembut. Ia meraba sisi ranjang dan mendapati Nayla sudah lebih dulu bangun, mengenakan mukena putih bersih sambil merapikan sajadah kecil di sudut kamar. Di luar jendela, suara langkah kaki para santri yang berbondong-bondong menuju tempat wudu mulai terdengar bersahut-sahutan dengan suara deburan air keran dan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an pelan dari kejauhan. Pagi itu, terlepas dari segala badai masalah dan pembekuan aset yang terjadi semalam, Zaidan merasakan aliran energi spiritual yang luar biasa menenangkan di dalam dadanya.

"Kau sudah bangun, Zaidan?" tanya Nayla lembut sambil menoleh ke arah suaminya, senyuman tulus menghiasi wajah teduhnya di pagi hari.

Zaidan bangkit dari posisinya, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu tersenyum hangat. "Iya, Nayla. Suara azan tadi benar-benar membangunkan semangat baru di dalam diriku. Mari kita bersiap untuk salat subuh berjemaah di surau."

"Alhamdulillah, mari kita awali hari ini dengan dzikir dan memohon petunjuk-Nya," jawab Nayla menyambut ajakan suaminya penuh suka cita.

❖ ❖ ❖

Bagi Zaidan, tujuan utama di pagi hari ini bukanlah memikirkan bagaimana cara membuka kembali rekening yayasan yang dibekukan atau mencari celah hukum untuk melawan pihak anonim yang mencatatkan sengketa. Target utamanya jauh lebih esensial: meraih keberkahan waktu pagi melalui dzikir, tilawah, dan penyerahan diri secara total kepada Sang Pencipta. Ia menyadari bahwa kekhawatiran duniawi tidak akan pernah ada habisnya jika tidak dilawan dengan keteguhan iman dan dzikir yang istiqamah. Zaidan bertekad untuk menjadikan pagi ini sebagai titik tolak pembersihan hati, memohon ketenangan jiwa agar mampu menghadapi segala kerumitan hidup dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

"Nayla, apapun yang terjadi dengan dokumen dan aset warisan Kakek hari ini, aku tidak ingin membiarkan kecemasan merusak ketenangan pagi kita," ucap Zaidan mantap saat mereka berjalan berdampingan menuju surau pesantren.

Nayla menatap suaminya dengan sorot mata penuh kekaguman. "Aku sangat mendukungmu, Zaidan. Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa keberkahan umat ini terletak pada waktu pagi mereka? Kita mulai dengan zikir dan doa terbaik."

"Tepat sekali," balas Zaidan ramah. "Kita titipkan seluruh urusan dunia kepada Allah, dan fokus kita pagi ini adalah mengisi relung hati dengan dzikir dan kalimat-kalimat suci-Nya."

Setibanya di surau, suasana sudah dipenuhi oleh para santri yang duduk bersila rapi, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil menunggu imam besar datang. Zaidan mengambil tempat di shaf depan, merapatkan barisan, dan mulai meresapi setiap butir bacaan istighfar yang keluar dari bibirnya untuk membersihkan hati dari sisa-sisa keraguan.

❖ ❖ ❖

Seusai pelaksanaan salat subuh berjemaah yang dipimpin langsung oleh Kyai Marwan, para santri tidak langsung bubar. Mereka tetap duduk melingkar di dalam surau yang luas untuk mengikuti majelis dzikir pagi yang rutin dipimpin oleh pengasuh pesantren setiap harinya. Cahaya matahari pagi kini mulai merangsek masuk melalui jendela-jendela besar surau, menerangi wajah-wajah muda para santri yang tampak khusyuk memegang tasbih di tangan masing-masing. Zaidan dan Nayla duduk di barisan samping, bergabung bersama para pengurus senior lainnya.

"Mari kita mulai wirid dan dzikir pagi kita dengan membaca Sayyidul Istighfar sebanyak tiga kali," suara berat Kyai Marwan bergemengar lembut melalui pengeras suara kecil di depan surau.

Zaidan meraba tasbih kayu kokka di sakunya, mulai memutar butiran demi butiran tasbih tersebut seiring bacaan wirid yang dilantunkan bersama-sama oleh ratusan santri. Suara gemuruh dzikir yang keluar dari ratusan dada manusia itu menciptakan getaran spiritual yang merasuk hingga ke sumsum tulang, melunturkan segala beban pikiran yang sempat singgah di benak Zaidan semalam.

"Mas Zaidan," bisik Pak Karto yang duduk tepat di sebelah kanannya, menyerahkan secarik kertas kecil usai wirid selesai. "Ada pesan singkat masuk ke ponsel saya dari pihak bank pusat. Katanya ada perkembangan baru terkait status pembekuan rekening."

Zaidan melirik sekilas kertas kecil itu, lalu menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tenang. "Simpan dulu, Pak Karto. Kita selesaikan dulu dzikir pagi ini. Urusan dunia bisa menunggu setelah matahari benar-benar naik."

Lihat selengkapnya