Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Fathian dan Dakwah Pemuda

Fathian dan Dakwah Pemuda: Menyibukkan Diri dalam Kebaikan---

Pukul tiga sore lewat lima belas menit di hari Sabtu yang cerah, suasana di halaman sebuah pusat kegiatan remaja Islam di kawasan Way Halim, Bandar Lampung, tampak begitu dinamis dan penuh energi positif. Langit sore dihiasi gumpalan awan putih tipis yang berarak perlahan, membiarkan cahaya matahari keemasan memantul lembut dari kaca jendela ruang aula pertemuan. Angin sepoi-sepoi berhembus menyejukkan pelataran berumput hijau, tempat beberapa pemuda tampak merapikan spanduk kegiatan bertuliskan "Festival Pemuda Syar'i: Menebar Kebaikan, Menggapai Keberkahan."

Di dalam ruang aula utama yang berpendingin udara cukup sejuk, Fathian berdiri di dekat meja registrasi sambil memegang setumpuk brosur kegiatan sosial. Mengenakan kemeja koko putih lengan panjang yang dipadukan dengan celana bahan hitam rapi serta peci hitam di kepalanya, Fathian tampak sibuk mengarahkan para relawan muda yang akan diterjunkan ke berbagai titik panti asuhan dan masjid di seantero kota. Wajahnya memancarkan ketenangan sekaligus ketegasan seorang pemuda yang mendedikasikan energinya untuk jalan dakwah.

"Fathian, tim logistik untuk panti asuhan di Teluk Betung sudah siap berangkat sekarang," sapa seorang pemuda berkaus relawan hijau terang sambil membawa papan klip catatan.

"Alhamdulillah, pastikan semua paket bantuan sembako dan buku bacaan Islam sudah terperiksa lengkap ya,dimasukkan ke dalam mobil dengan rapi," jawab Fathian ramah sambil tersenyum hangat, menyambut laporan tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Bagi Fathian, sore hari ini bukan sekadar rutinitas akhir pekan biasa, melainkan bagian dari ikhtiar besarnya untuk menyibukkan diri dalam kebaikan yang nyata. Setelah melewati berbagai dinamika kehidupan pribadi, ujian perasaan, dan pergulatan batin yang panjang, ia memilih untuk mengalihkan seluruh fokus energinya ke dalam medan dakwah kepemudaan. Fathian meyakini bahwa obat terbaik untuk mengatasi kehampaan jiwa dan keraguan masa depan adalah dengan aktif bergerak, menebar manfaat, dan membersamai barisan pemuda yang haus akan nilai-nilai kebaikan.

"Semoga Allah memberkahi ikhtiar kita sore ini agar bernilai amal saleh," ucap Fathian dalam hati, meluruskan niatnya semata-mata karena mengharap rida Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah memastikan tim logistik pertama beranjak meninggalkan halaman parkir pusat kegiatan, Fathian melangkah masuk ke ruang utama aula untuk mengecek persiapan acara inti yang akan dimulai selepas salat Ashar. Di tangannya, sebuah buku agenda harian bersampul kulit hitam terbuka lebar, memperlihatkan jadwal padat yang telah ia susun rapi bersama para pengurus pemuda masjid lainnya.

Hari ini, Fathian menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: ia ingin sukses menginisiasi gerakan dakwah pemuda berbasis aksi sosial dan kajian interaktif, sekaligus membimbing generasi muda agar tidak terjerumus dalam kesia-siaan waktu luang. Fathian bertekad untuk membuktikan bahwa anak muda Islam bisa tampil sebagai agen perubahan yang produktif, berakhlak mulia, dan berdaya guna bagi masyarakat luas.

"Fathian, apakah materi presentasi tentang kepemudaan produktif sudah siap di laptop utama?" tanya seorang pemuda berkacamata bernama Ilham, yang datang mendekat sambil membawa kabel proyektor.

Fathian mendongak dan mengangguk mantap. "Sudah siap, Ilham. Semua data statistik kegiatan sosial bulan ini dan modul kajian tematik sudah aku masukkan ke dalam folder khusus. Kita pastikan acaranya berjalan lancar tanpa ada kendala teknis."

"Baguslah kalau begitu. Peserta yang mendaftar online ternyata membludak sampai seratus orang lebih, melebihi target awal kita," sahut Ilham dengan nada antusias yang kentara.

Fathian tersenyum mendengar kabar baik tersebut, namun di balik senyumannya tersimpan sebuah tekad yang jauh lebih mendalam. Tujuan utamanya hari ini bukan sekadar menciptakan acara yang megah atau ramai dihadiri orang, melainkan menyentuh hati para pemuda yang hadir agar mereka tergerak untuk hijrah, meninggalkan gaya hidup hedonis, dan menyibukkan diri dalam kebaikan yang berkesinambungan. Fathian ingin menjadikan majelis dakwah ini sebagai rumah kedua bagi anak-anak muda yang sedang mencari jati diri di tengah arus modernitas yang deras.

"Kita harus pastikan materi yang disampaikan nanti benar-benar aplikatif, tidak hanya retorika kosong," tutur Fathian kepada Ilham dengan suara penuh keyakinan. "Anak muda butuh contoh nyata bagaimana Islam hadir menjawab kegelisahan zaman sekarang."

❖ ❖ ❖

Azan Ashar berkumandang merdu dari pengeras suara masjid terdekat, memecah kesibukan sore di aula kegiatan. Suara kumandang azan tersebut langsung direspons oleh Fathian dan seluruh panitia dengan menghentikan sejenak aktivitas fisik mereka. Dengan sigap, Fathian mengajak para relawan dan pemuda yang hadir untuk segera merapikan barisan dan bersiap melaksanakan salat Ashar berjemaah di ruang salat utama.

Perpindahan dari hiruk-pikuk persiapan teknis acara menuju kesyahduan salat berjemaah menjadi sebuah jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi Fathian. Ia mengambil air wudu di tempat wudu luar ruangan yang bersih, membasuh wajah dan kedua tangannya dengan penuh kesadaran, merasakan kesegaran air menyiram setiap titik kelelahan fisiknya setelah berjam-jam berdiri mengatur persiapan.

"Allah tempat kita bergantung dalam segala urusan," gumam Fathian pelan saat melangkah masuk ke dalam saf salat.

Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian. Ia menyadari bahwa seberapa pun hebat rencana kegiatan sosial yang ia susun, dan seberapa pun banyak peserta yang hadir, keberhasilan sejati mutlak berada di tangan Allah SWT. Melalui salat Ashar berjemaah, Fathian melepaskan segala rasa lelah dan ego personal, menggantinya dengan kepasrahan total agar setiap langkah dakwahnya murni karena mengharap rida Al-Khaliq.

Selesai salat berjemaah dan dzikir singkat, suasana aula kembali hidup. Para peserta umum mulai berdatangan memadati kursi-kursi lipat yang telah disiapkan. Transisi fisik dari ruang ibadah menuju ruang seminar dipenuhi oleh senyuman ramah dan jabat tangan hangat antarpemuda yang hadir. Fathian berdiri di depan pintu masuk, menyambut setiap peserta dengan sapaan penuh kehangatan, menciptakan suasana kekeluargaan yang membuat siapa saja merasa diterima di dalam lingkaran kebaikan tersebut.

Lihat selengkapnya