Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Kesabaran Menghadapi Fitnah Dunia.

Refleksi Surat Yusuf: Kesabaran Menghadapi Fitnah Dunia

---

Cahaya lampu neon berdaya sepuluh watt memancarkan warna kuning temaram ke seluruh sudut kamar santri yang berukuran tiga kali empat meter tersebut. Di luar, rintik hujan gerimis jatuh menimpa atap aspal pesantren, menciptakan irama monoton yang menenangkan di tengah keheningan malam yang telah merambat hingga pukul dua dini hari. Udara dingin khas malam pegunungan merayap lewat celah-celah ventilasi kayu, membuat Fathian mempererat balutan jaket rajut abu-abu yang melekat di tubuhnya.

Di hadapannya, di atas sebuah meja kayu kecil yang sudah terkelupas catnya, terbentang sebuah mushaf Al-Qur'an berukuran sedang dengan lembaran-lembaran kertas yang mulai menguning. Di samping mushaf itu terletak sebuah buku catatan tebal bersampul kulit hitam dan pena hitam yang tinta nya hampir habis.

"Fathian, belum tidur juga?" suara Ilyas terdengar pelan dari balik selimut tebal di ranjang tingkat sebelah, suaranya parau karena menahan kantuk.

Fathian mendongak perlahan, menatap temannya sejenak sebelum tersenyum tipis. "Belum, Yas. Mataku masih belum mau diajak kompromi. Ada ayat yang terus berputar di kepala sejak pengajian ba'da isya tadi," jawab Fathian dengan nada suara yang tenang, nyaris seperti berbisik agar tidak membangunkan santri lain di kamar itu.

Ilyas mengubah posisi tidurnya, menyangga kepala dengan satu tangan. "Ayat tentang Nabi Yusuf lagi? Kamu ini seperti tidak ada habisnya menelaah surah itu setiap malam."

"Kisah Nabi Yusuf itu samudra hikmah, Yas. Semakin dibaca, semakin kita sadar betapa kecilnya ujian yang kita hadapi dibandingkan badai fitnah yang beliau lalui," balas Fathian sambil kembali menundukkan pandangannya ke lembaran tafsir di samping mushafnya.

Suasana malam di pesantren itu terasa begitu sakral bagi Fathian. Di usianya yang menginjak dua puluh dua tahun, ia merasa setiap bait ayat dalam Surah Yusuf seolah berbicara langsung kepada jiwanya yang pernah terluka oleh ambisi duniawi dan fitnah masa lalu. Kamar sederhana itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemuda berusaha merajut kembali kepingan kesabaran, menjadikan kisah keteguhan Nabi Yusuf sebagai cermin utama dalam menatap masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut, namun semangat di dalam dada Fathian justru kian membuncah. Tujuan utamanya malam ini sangat jelas dan terarah: ia ingin merampungkan tulisan refleksi mendalam mengenai Surah Yusuf ayat demi ayat, khususnya berfokus pada bagaimana Nabi Yusuf menghadapi berbagai macam fitnah—mulai dari maksuhan perempuan bangsawan hingga kedzaliman penjara—tanpa kehilangan sedikit pun keistiqomahan imannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Fathian membuka halaman yang memuat Surah Yusuf ayat 33, tempat di mana Nabi Yusuf berdoa agar dijauhkan dari tipu daya mereka dan memilih mendekam di dalam penjara daripada harus terjerumus ke dalam kemaksiatan yang merusak kehormatan. Ia mengambil penanya, lalu mulai menuliskan goresan kata-kata di atas kertas buku catatannya dengan penuh penghayatan.

"Fath, apa sebenarnya yang ingin kamu capai dengan menulis tafsir pribadi setiap malam begini?" tanya Ilyas yang kini memutuskan bangun dari tidurnya, duduk bersila di atas kasur sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

Fathian menghentikan gerakan penanya, menatap sahabatnya dengan sorot mata yang berbinar serius. "Aku ingin menyerap makna kesabaran yang sesungguhnya, Yas. Selama ini kita sering mengira sabar itu sekadar diam menerima nasib. Padahal, dari kisah Nabi Yusuf, aku belajar bahwa sabar adalah sebuah tindakan aktif yang dilandasi tawakal total, keteguhan prinsip di tengah godaan, dan keyakinan mutlak bahwa keadilan Allah pasti datang pada waktunya."

Ilyas mengangguk pelan, memahami keseriusan di balik ucapan temannya itu. "Tapi fitnah dunia zaman sekarang jauh lebih halus bentuknya, Fath. Bukan lagi penjara fisik, melainkan penjara digital, godaan harta, dan pujian palsu."

"Justru itu tujuanku menulis refleksi ini," timpal Fathian mantap. "Aku ingin menjadikan lembaran-lembaran ini sebagai benteng pertahanan diriku sendiri agar tidak kembali tergelincir ke dalam lubang hitam ambisi duniawi yang dulu hampir menghancurkan hidupku. Tujuan utamaku bukan menjadi penulis terkenal, tapi memastikan hatiku tetap lurus dan bersih di hadapan-Nya."

Fathian kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan goresan penanya di atas kertas. Target malam ini adalah menyelesaikan bab refleksi tentang kesabaran menghadapi fitnah dunia. Setiap kalimat yang ia tuliskan bukan sekadar teori akademis, melainkan tetesan air mata pertobatan dan hasil kontemplasi batin yang mendalam selama ia menjalani hari-hari penuh ketenangan di balik dinding pesantren.

❖ ❖ ❖

Jam dinding berdetak pelan, menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh menit dini hari. Suara tetesan air hujan di luar jendela perlahan mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Fathian menutup buku catatan hitamnya dengan hati-hati, merapikan letak mushaf di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya sejenak untuk meluruskan punggung yang terasa pegal. Transisi dari keheningan malam perenungan menuju hiruk-pikuk aktivitas pagi di pesantren selalu menuntut peralihan mental yang cepat bagi setiap santri.

Tak lama kemudian, suara sirine penanda waktu tahajud bergema dari menara masjid pesantren, memecah kesunyian subuh. Lampu-lampu kamar di seluruh blok asrama serentak menyala.

"Fath, bangun, sudah azan," seru Ilyas sambil menepuk pelan kaki Fathian yang terbalut selimut.

Fathian langsung terbangun, mengusap wajahnya untuk menghalau sisa kantuk, lalu mengambil handuk kecil dan berjalan menuju kamar mandi bersama santri-santri lainnya. Air wudu yang dingin menyentuh kulit wajahnya, memberikan kesegaran instan yang mengalirkan energi baru ke seluruh tubuhnya. Usai melaksanakan salat tahajud dan witir berjemaah di masjid utama, Fathian tidak langsung kembali ke kamar, melainkan memilih duduk di serambi masjid sambil menunggu datangnya waktu duha dan halaqah pengajian tafsir bersama Kyai Maimun.

"Pagi sekali kamu sudah bersiap di sini, Fathian," sapa Ustadz Hanafi yang berjalan melintas sambil membawa kitab-kitab tebal ke ruang kantor.

Fathian bangkit berdiri, mencium tangan gurunya dengan takzim. "Iya, Ustadz. Sambil menunggu duha, saya ingin mengulang kembali catatan refleksi Surah Yusuf yang saya tulis semalam."

Ustadz Hanafi melirik sekilas buku catatan hitam yang dipegang Fathian, lalu tersenyum hangat. "Surah Yusuf adalah resep terbaik bagi jiwa-jiwa yang sedang diuji oleh fitnah dunia. Bacalah dengan hati yang terbuka, maka kamu akan menemukan obat bagi segala keresahan."

Lihat selengkapnya