Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Menjaga Lisan dari Ghibah

Menjaga Lisan dari Ghibah Terkait Kegagalan Pernikahan.

Pukul empat sore di sudut kedai kopi "Aksara Senja" selalu dipenuhi oleh aroma biji kopi Arabika yang disangrai segar dan riuhnya suara obrolan para pengunjung yang melepas penat sepulang bekerja. Di balik meja sudut berbingkai kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya protokol kota Bandung, Faris duduk termenung dengan secangkir teh jahe hangat di hadapannya, menatap kosong pada butir-butir air hujan yang mulai menempel di kaca jendela luar. Langit sore itu tampak kelabu menggantung rendah, memantulkan suasana hati yang muram di dalam ruangan bernuansa kayu klasik tersebut.

"Kau tampak gelisah sekali sore ini, Faris. Ada masalah besar yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Maya, adik kandungnya yang duduk di seberang meja sambil merapikan tumpukan dokumen kantor di dalam tas jinjingnya.

Faris mendongak perlahan, menarik napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum menjawab, "Tidak ada apa-apa, Maya. Hanya saja, perceraian antara Arya dan Rina yang baru saja diputus pengadilan agama minggu lalu masih menjadi bahan perbincangan hangat di grup WhatsApp keluarga besar kita."

Maya menghentikan gerakannya, lalu menghela napas berat. "Ah, soal itu. Aku tahu. Semua orang di grup keluarga terus menerka-nerka apa penyebab utama kehancuran rumah tangga mereka. Ada yang bilang karena masalah ekonomi, ada pula yang berspekulasi soal ketidakcocokan karakter sejak awal."

"Dan ironisnya, orang-orang justru menggunakan kegagalan pernikahan mereka sebagai bahan obrolan santai untuk mengisi waktu luang," ucap Faris dengan nada suara yang menyiratkan kekecewaan mendalam. "Padahal, runtuhnya sebuah ikatan pernikahan bukanlah tontonan publik yang pantas dibedah secara sembarangan, apalagi dibumbui dengan asumsi-asumsi liar yang belum tentu kebenarannya."

Maya mengangguk pelan, menyadari betapa tipisnya batas antara sekadar berbagi informasi dan terjerumus ke dalam perbuatan ghibah—membicarakan keburukan atau aib orang lain di saat mereka tidak hadir untuk membela diri.

"Lalu, apa rencanamu menghadapi situasi di grup keluarga yang semakin panas itu, Faris?" tanya Maya penuh perhatian.

"Aku harus menghentikannya," jawab Faris mantap. "Aku tidak boleh membiarkan lisan keluarga kita terus-menerus terjerumus dalam dosa menggigit bangkai saudara sendiri hanya karena rasa penasaran yang berlebihan terhadap urusan rumah tangga orang lain."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Faris hari itu bukanlah sekadar menikmati secangkir teh jahe hangat atau menghindari kebisingan kota Bandung di tengah cuaca sore yang berangsur mendung. Jauh melampaui urusan kenyamanan pribadi semata, ia membawa sebuah misi moral dan spiritual yang sangat mendesak dan penuh tantangan: ia bertekad untuk menghentikan penyebaran gosip serta pembicaraan beracun berkedok keprihatinan—atau ghibah—yang kian marak di tengah keluarga besarnya terkait kegagalan pernikahan Arya dan Rina.

"Dengarkan aku baik-baik, Maya," ujar Faris dengan nada serius sambil mencondongkan tubuhnya mendekati adiknya. "Sebagai bagian dari keluarga besar, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan sesama anggota keluarga, bahkan ketika mereka sedang berada di titik terendah dalam hidup mereka. Menjadikan perceraian Arya sebagai bahan lelucon atau spekulasi harian adalah bentuk kezaliman lisan yang nyata."

Maya mengangguk setuju, meskipun ada keraguan terpancar di wajahnya. "Aku paham maksudmu, Faris. Tetapi menegur orang-orang tua di grup keluarga besar bukanlah hal yang mudah. Kau tahu sendiri bagaimana watak paman dan bibi kita; mereka menganggap obrolan itu sebagai bentuk perhatian, bukan ghibah."

"Perhatian tidak pernah diekspresikan dengan cara menguliti aib dan kegagalan rumah tangga orang lain di ruang publik, Maya!" sanggah Faris dengan suara tegas namun tetap terkontrol. "Itu bukan perhatian, itu adalah bentuk kepuasan semu di atas penderitaan orang lain. Dan aku bertekad untuk meluruskan pemahaman itu hari ini juga."

Maya menatap lekat-lekat mata kakaknya, melihat tekad baja yang berkobar di balik ketenangan sikap pria itu. "Lalu, langkah konkret apa yang akan kau ambil? Apakah kau akan langsung melabrak mereka di grup WhatsApp keluarga?"

"Tentu saja tidak dengan cara konfrontatif seperti itu," jawab Faris sambil tersenyum tipis. "Konfrontasi yang kasar hanya akan melahirkan permusuhan dan membuat mereka semakin defensif. Aku ingin menggunakan pendekatan yang santun, berbasis ilmu, dan penuh kebijaksanaan agar pesan tentang pentingnya menjaga lisan dari ghibah dapat diterima dengan baik oleh semua orang."

"Sebuah rencana yang mulia sekaligus penuh risiko," komentar Maya jujur. "Tetapi aku akan mendukungmu sepenuhnya, Faris. Jika bukan kita yang mengingatkan keluarga kita sendiri, lalu siapa lagi?"

Faris mengangguk penuh rasa terima kasih. Ia tahu bahwa tujuan luhur yang ia tetapkan untuk dirinya hari itu akan diuji secara langsung begitu ia membuka ponselnya dan melihat puluhan pesan baru yang terus berdatangan di grup keluarga besar mereka.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding kedai kopi menunjuk angka empat lewat empat puluh lima menit ketika Faris mengeluarkan ponsel pintar dari saku mantelnya. Layar ponsel tersebut langsung menyala menampilkan notifikasi pesan beruntun dari grup keluarga besar yang dinamai "Keluarga Besar Harmoni". Ratusan pesan teks dan beberapa klip audio tampak memenuhi layar, membuktikan betapa antusiasnya para anggota keluarga memperbincangkan topik hangat mengenai perceraian Arya dan Rina sore itu.

"Lihat ini, Maya," bisik Faris sambil memperlihatkan layar ponselnya sekilas kepada sang adik. "Pesan baru terus masuk tanpa henti. Bibi Marni bahkan baru saja mengirimkan spekulasi panjang lebar tentang alasan finansial di balik perpisahan mereka."

Maya melirik sekilas ke layar ponsel, lalu mendengus pelan. "Sungguh disayangkan. Energi mereka dihabiskan hanya untuk mengurus urusan rumah tangga orang lain yang sudah selesai."

Faris menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sedikit berpacu lebih cepat sebelum ia memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam pusaran komunikasi keluarga tersebut. Ia tahu bahwa masa transisi dari sekadar merasa risih menjadi mengambil tindakan nyata adalah saat yang paling menentukan; di sinilah integritas moral seorang Muslim diuji secara langsung di era digital, di mana lisan tidak lagi diucapkan dengan lidah, melainkan diketik melalui jari-jari tangan di atas papan ketik virtual.

"Kau siap membalas pesan mereka, Faris?" tanya Maya sambil menutup tasnya, bersiap-siap untuk mendengarkan reaksi dari sang kakak.

Lihat selengkapnya