
Peran Mahram dalam Setiap Langkah Interaksi Sosial
---
Sore hari di beranda belakang ndalem Pondok Pesantren Al-Falah menyuguhkan pemandangan yang menenangkan. Pukul 15.30 WIB, cahaya matahari senja mulai memantulkan warna jingga keemasan di permukaan kolam ikan hias yang terletak di tengah taman. Angin berhembus lembut, membawa aroma harum bunga melati yang merambat di tiang-tiang penyangga pendopo kayu. Suasana di sekitar pesantren tampak lengang karena para santri sedang bersiap mengikuti kegiatan hafalan Al-Qur'an menjelang maghrib. Di tempat itu, Zaidan duduk berdampingan dengan Nayla di atas kursi rotan panjang, menikmati secangkir teh rosella hangat yang disajikan di atas meja kecil berukir klasik.
"Udara sore ini terasa sangat menyegarkan, Zaidan," ucap Nayla lembut sambil merapikan selendang abu-abu yang menutupi bahunya. "Selepas badai pemberitaan media beberapa hari lalu, suasana pesantren kembali tenang seperti sediakala."
Zaidan tersenyum hangat, menatap istrinya dengan pandangan penuh kasih. "Alhamdulillah, Nayla. Semua itu berkat ketenangan dan keteguhan yang kita jaga bersama. Kuncinya ada pada bagaimana kita selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan, termasuk dalam menjaga batasan-batasan interaksi sosial kita."
"Betul sekali," balas Nayla mengangguk setuju. "Terutama setelah insiden konferensi pers kemarin, aku semakin menyadari betapa pentingnya peran mahram dan batasan syariat dalam mengatur langkah kita di tengah masyarakat luas."
Suara kecipak air dari kolam ikan dan kicauan burung gereja di dahan pohon mangga menambah keaslian suasana sore itu, menciptakan harmoni yang mendamaikan jiwa setelah berminggu-minggu didera ketegangan sengketa hukum.
❖ ❖ ❖
Bagi Zaidan dan Nayla, pengalaman menghadapi intrik publik dan sorotan media massa memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga integritas diri dan batasan syariat Islam secara ketat. Di tengah modernitas dan kompleksitas hubungan sosial era sekarang, seringkali batasan antara yang haq dan bathil, atau antara yang mahram dan ajnabi, menjadi kabur akibat tuntutan pergaulan bebas. Target utama Zaidan hari ini adalah menyusun panduan praktis interaksi sosial berbasis prinsip-prinsip syariat bagi para santri senior dan pengurus yayasan, dengan penekanan khusus pada peran penting mahram dalam setiap aktivitas publik maupun perjalanan dakwah.
"Nayla, aku berencana merumuskan modul khusus tentang adab pergaulan dan peran mahram untuk diajarkan di majelis taklim pekan depan," kata Zaidan dengan nada serius namun penuh antusias. "Masyarakat kita seringkali mengabaikan batasan-batasan kecil yang justru menjadi benteng utama kehormatan diri."
Nayla menatap suaminya dengan sorot mata penuh dukungan. "Ide yang sangat cemerlang, Zaidan. Banyak orang menganggap remeh masalah interaksi antara laki-laki dan perempuan bukan mahram dengan alasan profesionalitas kerja, padahal syariat Islam telah mengatur semuanya dengan sangat indah dan penuh hikmah."
"Tujuannya bukan untuk membatasi ruang gerak sosial, melainkan untuk memberikan perlindungan yang hakiki," lanjut Zaidan menjelaskan. "Terutama bagi para aktivis dakwah dan pengurus yayasan seperti kita yang sering berinteraksi dengan banyak pihak luar."
Nayla meraih cangkir tehnya, lalu menyesapnya perlahan sebelum kembali berbicara. "Aku siap membantumu menyusun materi itu, terutama bagian yang berkaitan dengan adab perjalanan jauh dan pentingnya kehadiran mahram saat seorang wanita harus keluar kota."
❖ ❖ ❖
Percakapan hangat itu mendadak terhenti ketika derap langkah kaki mendekati area pendopo belakang. Seorang santri pengurus harian tampak berjalan tergesa-gesa membawa sebuah amplop surat resmi berlogo yayasan. Begitu tiba di dekat pendopo, santri tersebut membungkuk hormat dan menyerahkan surat itu kepada Zaidan.
"Maaf mengganggu waktu sore Gus Zaidan dan Neng Nayla. Ada surat undangan resmi dari dinas pendidikan provinsi terkait penyerahan penghargaan yayasan teladan," lapor santri itu dengan napas sedikit terengah-engah.
Zaidan menerima surat tersebut, membukanya perlahan, lalu membaca isinya dengan seksama. "Terima kasih informasinya. Apakah surat ini memerlukan kehadiran fisik di luar kota?"