Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Menabung Ridha Allah

Menabung Rida Allah, Bukan Rida Manusia---

Pukul sepuluh lewat dua puluh menit pagi hari Rabu yang cerah, suasana di ruang tamu rumah minimalis milik Rania di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu tenang dan sejuk. Sinar matahari pagi memantul lembut melalui jendela kaca besar yang berbingkai kayu jati, menyinari lantai keramik putih bersih dan beberapa pot tanaman lidah mertua di sudut ruangan. Aroma teh melati hangat berpadu manis dengan bau kertas dari tumpukan buku-buku catatan hijrah yang tersusun rapi di atas meja kerja kecil.

Rania duduk bersila di atas karpet beludru abu-abu terang, mengenakan gamis berwarna sage green dengan jilbab instan senada yang menutup auratnya secara sempurna. Di hadapannya terbentang buku agenda harian bersampul kulit sintetis cokelat tua, pena hitam yang siap menorehkan tinta, serta sebuah cangkir keramik berisi teh yang perlahan mengepulkan sisa uap tipis. Suasana rumah begitu sunyi, memberikan keleluasaan penuh bagi Rania untuk merenungkan kembali perjalanan panjang batiniah yang telah ia tempuh selama berbulan-bulan terakhir.

"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa menjaga hati ini tetap istiqomah di jalan-Nya," gumam Rania pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh alunan angin dari ventilasi rumah.

Bagi Rania, hari Rabu ini menandai sebuah titik perenungan yang sangat mendalam mengenai hakikat hidup seorang hamba. Setelah melewati berbagai badai emosional, ujian perasaan, tekanan sosial, hingga teka-teki amanah keluarga yang datang silih berganti, ia sampai pada satu kesimpulan mutlak yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia: bahwa mencari rida manusia adalah lelah yang tidak berkesudahan, sedangkan mencari rida Allah adalah ketenangan jiwa yang abadi. Segala kepedihan masa lalu, termasuk bayang-bayang pertunangannya yang kandas dengan Arka dan cibiran orang-orang di sekitarnya, kini terasa begitu kecil dibandingkan dengan tujuan utamanya menghadap Sang Pencipta.

"Rania, jangan pernah Lelah untuk terus meluruskan niat," bisik hatinya mengingatkan, meresapi setiap detik waktu yang dianugerahkan Allah untuk berbenah diri.

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah meneguk teh hangatnya untuk membasahi tenggorokan, Rania membuka halaman baru dalam buku agendanya. Di atas kertas putih bersih itu, ia menuliskan sebuah judul besar dengan goresan pena yang tegas dan penuh keyakinan: "Menabung Rida Allah, Bukan Rida Manusia."

Hari ini, Rania menetapkan sebuah tujuan hidup yang sangat krusial bagi ketahanan mental dan spiritualnya: ia ingin membersihkan sisa-sisa penyakit hati seperti riya (ingin dipuji), sum'ah (ingin didengar), dan ketergantungan emosional pada penilaian makhluk. Rania bertekad untuk mendedikasikan setiap langkah amal, pekerjaan, interaksi sosial, hingga kesabarannya dalam menghadapi ujian semata-mata karena mengharap pandangan rida dari Allah SWT, tanpa peduli apakah manusia menghargainya atau mencelanya.

"Ya Rabb, bersihkan hatiku dari segala bentuk keinginan untuk mencari pengakuan selain dari-Mu," doa Rania dalam bisikan batin yang tulus.

Selama ini, Rania menyadari bahwa sebagian besar rasa sakit dan kekecewaan di masa lalunya bersumber dari usahanya yang sia-sia untuk menyenangkan semua orang—memenuhi standar keluarga besar, menuruti ekspektasi sosial, dan menjaga gengsi di hadapan manusia yang rapuh. Ketika ia memilih jalan ketaatan dan membatalkan pertunangannya demi batasan syariat, ia sempat dihujat dan disalahartikan. Namun, pengalaman itu justru membukakan matanya bahwa rida manusia adalah target yang mustahil dicapai, karena manusia memiliki standar yang berubah-ubah dan tidak pernah puas.

"Rania, apakah kamu benar-benar sudah siap hidup tanpa harus pusing memikirkan omongan miring orang lain?" suara batinnya seolah menantang keteguhan hatinya.

"Insya Allah, aku siap," jawab Rania mantap di dalam hatinya.

Tujuan utamanya hari ini adalah membangun benteng mental yang kokoh di atas fondasi tauhid. Ia ingin menabung amal saleh layaknya seorang musafir yang mengumpulkan bekalan untuk perjalanan panjang akhirat, mengabaikan kebisingan pujian maupun celaan dunia. Buku agenda di hadapannya menjadi saksi bisu atas ikrar sunyi hijrah hati yang ia pegang teguh detik ini juga.

❖ ❖ ❖

Suara ketukan pintu pagar besi di depan rumah menghentikan sejenak lamunan Rania. Tidak lama kemudian, suara salam yang familiar terucap dari luar pintu utama. Itu adalah Salma, sahabat karibnya yang datang membawa beberapa berkas titipan jamaah majelis taklim untuk kegiatan bakti sosial pekan depan. Rania segera bangkit dari duduknya, merapikan jilbabnya sekilas, lalu melangkah menuju pintu utama untuk menyambut sahabat setianya itu dengan senyuman lebar.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Salma. Silakan masuk, kebetulan aku baru saja membuat teh hangat," sambut Rania ramah saat membukakan daun pintu lebar-lebar.

Salma melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa tas kain bermotif bunga, wajahnya tampak sumringah meski sedikit berkeringat karena terik matahari luar. Perpindahan dari kesunyian ruang perenungan privat menuju interaksi sosial yang hangat bersama sahabat menjadi jembatan transisi batin yang sangat menyegarkan bagi Rania. Ia tidak lagi terkurung dalam labirin pemikirannya sendiri, melainkan langsung membaur dalam kebaikan nyata bersama saudarinya seiman.

"Wah, pas banget, Ra. Di luar panas sekali cuacanya hari ini," ujar Salma sambil duduk di kursi ruang tamu, meletakkan tasnya di atas meja. "Oh ya, ini proposal kegiatan sosial untuk anak yatim yang kemarin kita bicarakan di masjid."

Rania menerima berkas proposal tersebut dengan kedua tangannya, lalu meletakkannya di dekat buku agendanya. "Alhamdulillah, terima kasih banyak sudah dibawakan kemari, Salma. Mari kita niatkan semua urusan ini semata-mata untuk mencari rida Allah, bukan untuk pamer atau mencari pujian panitia."

Mendengar kalimat itu, Salma tersenyum hangat menatap sahabatnya. "Masya Allah, Rania. Kalimatmu selalu mengingatkanku untuk meluruskan niat. Kadang kita memang mudah terjebak ingin dipuji orang lain kalau acara sosialnya sukses besar, ya kan?"

Transisi pemikiran ini menunjukkan betapa matangnya Rania dalam menjaga keikhlasan hatinya. Jembatan antara perenungan pribadi dan aksi nyata di tengah masyarakat kini menyatu dalam satu visi teologis yang kokoh: menabung rida Allah dalam setiap amal perbuatan, sekecil apa pun bentuknya. Obrolan ringan nan penuh hikmah pun mengalir di antara keduanya di ruang tamu yang sejuk itu.

❖ ❖ ❖

Namun, ujian keikhlasan tidak pernah berhenti pada tataran teori atau niat di dalam hati saja. Ketika Rania dan Salma tengah serius membahas rincian proposal kegiatan sosial tersebut, ponsel pintar yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring, menampilkan panggilan masuk dari sebuah nomor lama yang sangat tidak diduganya.

Rania mengerjap sesaat membaca nama yang tertera di layar ponsel: Siska.

Lihat selengkapnya