Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Evaluasi Diri (Muhasabah)

Evaluasi Diri (Muhasabah): Apa Hikmah Dibalik Kegagalan Kemarin?

Malam itu, jam dinding antik di sudut ruang tengah rumah keluarga Fathian menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit. Suasana di dalam rumah terasa begitu hening dan syahdu, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas siang hari yang melelahkan. Di luar, hujan gerimis turun dengan sabar, membasahi pekarangan rumah dan menyisakan aroma tanah basah yang masuk melalui celah-celah ventilasi jendela. Lampu utama ruang keluarga dipadamkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur meja yang memancarkan warna kuning hangat, menerangi separuh ruangan tempat Fathian duduk bersila di atas sajadah tebalnya.

Fathian mengenakan sarung katun tua berwarna abu-abu gelap dan kemeja koko putih polos yang bagian lengannya sudah dilipat sekenanya. Di hadapannya, sebuah buku catatan harian berhalaman usang tergeletak terbuka, berdampingan dengan sebatang pulpen hitam dan segelas air putih hangat yang mengepulkan uap tipis. Pundaknya sedikit membungkuk, menanggung sisa-sisa kelelahan fisik dan mental yang mendera sepanjang pekan ini.

"Masih belum tidur, Fath?" suara lembut Salma terdengar dari ambang pintu kamar tidur utama. Salma melangkah pelan mendekati suaminya, mengenakan mukena putih yang baru saja selesai ia lipat usai melaksanakan shalat malam.

Fathian mendongak, menatap istrinya dengan senyuman tipis yang menyembunyikan gurat-gurat kekhawatiran di wajahnya. "Belum, Sal. Kepalaku masih terasa penuh. Rasanya malam ini adalah waktu yang paling tepat untuk duduk termenung dan melakukan muhasabah secara jujur pada diri sendiri."

"Muhasabah tentang kegagalan toko kemarin, Mas?" tanya Salma penuh pengertian, lalu duduk bersimpuh di samping suaminya di atas karpet.

"Bukan hanya soal toko yang sempat dibobol maling atau masalah cicilan bank yang hampir membuat kita terjatuh, Sal," jawab Fathian lirih sambil menatap lembaran buku catatannya yang kosong. "Tapi tentang perjalanan hidupku secara keseluruhan. Di usia yang tidak lagi muda ini, aku ingin merenungkan apa sebenarnya hikmah besar yang Allah titipkan di balik setiap kegagalan dan hantaman badai yang menerpa hidup kita belakangan ini."

Salma mengangguk perlahan, merespons dengan tatapan hangat penuh dukungan. "Itu langkah yang sangat bijak, Mas. Terkadang kita terlalu sibuk menyalahkan keadaan luar, sampai lupa untuk melihat ke dalam diri sendiri."

Suasana kembali hening sejenak. Hanya terdengar suara rintikan air hujan yang menimpa genteng rumah, menciptakan latar suara yang khusyuk bagi Fathian untuk memulai proses evaluasi diri yang sudah lama ia tunda.

❖ ❖ ❖

Fathian menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam mengisi rongga dadanya sebelum ia mulai menuliskan butir-butir pemikirannya di atas kertas. Tujuan utamanya malam ini sangat spesifik dan mendalam: ia ingin membedah secara objektif setiap kesalahan langkah, keputusan gegabah, dan kelemahan manajemen bisnis maupun spiritual yang ia lakukan selama dua tahun terakhir. Tanpa evaluasi diri yang jujur, ia khawatir akan mengulangi lubang kesalahan yang sama di masa depan.

"Sal, tujuan utamaku malam ini bukan untuk meratapi nasib atau mencari-cari kambing hitam atas kegagalan usahaku," kata Fathian sambil menatap lurus ke arah jendela kaca yang berembun di hadapannya. "Aku ingin mencari letak kekeliruanku sendiri. Di mana titik rapuh dari ikhtiarku selama ini?"

"Apakah kamu merasa selama ini usahamu kurang maksimal, Mas?" tanya Salma menimpali dengan nada suara yang sangat tenang dan menenangkan.

"Bukan sekadar kurang maksimal, Sal. Aku merasa ada yang salah dengan niat dan caraku dalam mengejar rezeki," aku Fathian jujur, jemarinya memutar-mutar pulpen di atas buku catatan. "Selama ini aku terlalu mengandalkan perhitungan matematis bisnis manusia, terlalu ambisius memperluas toko tanpa diimbangi dengan porsi sedekah dan tawakal yang benar kepada Allah."

"Itu bentuk kesadaran yang luar biasa, Mas. Tidak semua orang punya keberanian untuk mengakui kekurangannya sendiri di hadapan cermin," puji Salma tulus sambil mengelus punggung tangan suaminya.

"Targetku malam ini ada tiga, Sal," lanjut Fathian merinci tujuannya dengan jari-jemarinya. "Pertama, aku ingin mengevaluasi pengelolaan keuangan toko agar kejadian krisis kas tidak terulang lagi. Kedua, aku ingin memperbaiki kualitas ibadah wajib dan sunnahku yang sempat kendor gara-gara sibuk mengejar omzet. Dan ketiga, aku ingin membersihkan hatiku dari sifat tamak dan sombong yang sempat merayap diam-diam."

Salma mengangguk menyetujui setiap poin yang disebutkan suaminya. "Semoga Allah memudahkan niat baikmu malam ini, Mas. Evaluasi diri adalah awal dari kebangkitan yang sebenarnya."

Fathian mulai menorehkan tinta pulpennya ke atas kertas putih, menuliskan judul besar: Catatan Evaluasi Diri dan Hikmah Kegagalan. Setiap goresan pena yang ia torehkan terasa seperti sebuah pengakuan dosa kecil di hadapan Sang Pencipta, melepaskan satu per satu beban ego yang selama ini menghimpit dadanya.

❖ ❖ ❖

Waktu bergeser mendekati tengah malam. Suara jangkrik di luar rumah perlahan meredam, menyisakan keheningan malam yang semakin pekat dan khusyuk. Fathian masih tekun menatap lembaran buku catatannya, sementara Salma dengan setia mendampingi sambil merapikan beberapa dokumen keuangan toko yang berantakan di atas meja kecil di sudut ruangan.

"Coba lihat catatan pengeluaran toko tahun lalu ini, Mas," kata Salma sambil menyerahkan sebuah buku nota tua kepada suaminya. "Di sinilah awal mula kita terlalu memaksakan diri mengambil pinjaman besar untuk renovasi etalase yang sebenarnya belum terlalu mendesak."

Fathian menerima buku nota tersebut, membalik halaman demi halaman dengan teliti. "Kamu benar, Sal. Dulu aku terlalu menuruti gengsi dagang. Ingin toko kita terlihat paling mewah di antara toko-toko kelontong lain di kawasan ini, sampai-sampai aku mengabaikan batas kemampuan finansial kita yang sebenarnya."

"Itulah ego manusia, Mas. Kita sering kali terjebak dalam perlombaan penampilan yang fana," timpal Salma bijak. "Padahal rezeki itu tidak diukur dari seberapa megah etalase toko kita, melainkan dari seberapa berkah dan halal setiap butir keuntungan yang kita peroleh."

Fathian merenungkan perkataan istrinya dalam-dalam. Transisi pemikiran dari rasa frustrasi akibat kegagalan menuju penerimaan hikmah yang mendalam mulai terbentuk secara utuh di dalam benaknya. Ia menyadari bahwa badai krisis dan pencurian yang menimpa tokonya beberapa waktu lalu bukanlah sebuah bentuk azab semata, melainkan sebuah teguran keras dari Tuhan agar ia kembali ke jalan yang benar—jalan kesederhanaan, kejujuran, dan kepasrahan mutlak.

"Dulu, sewaktu merintis toko ini dari nol bersama Abah dan Emak di kampung, hidup kita sangat sederhana tapi jauh lebih tenang," kenang Fathian dengan senyuman tipis penuh rasa rindu. "Kenapa setelah agak mapan, aku justru menjadi orang yang serba cemas dan kurang bersyukur?"

Lihat selengkapnya