Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Mengikis Ego dan Mengobati Luka Lama

Mengikis Ego dan Mengobati Luka Lama dengan Istighfar---

Pukul empat lewat lima belas menit dini hari, suasana di sebuah kamar sederhana di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, masih diselimuti pekatnya malam yang perlahan memudar. Udara dingin sisa subuh menyusup melalui celah-celah ventilasi kayu, membawa serta kesegaran embun yang menempel di daun-daun tanaman hias di halaman depan. Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, seberkas cahaya kuning temaram dari lampu tidur meja menyinari sudut ruangan yang tertata rapi dengan tumpukan buku-buku agama dan sebuah sajadah tua yang terbentang lurus menghadap kiblat.

Rania duduk bersila di atas sajadah beludru hijau tua tersebut. Mengenakan gamis tidur panjang berwarna abu-abu terang yang tertutup rapi dengan jilbab instan hitam, kedua telapak tangannya menengadah khusyuk ke hadapan Ilahi. Bibirnya bergerak pelan, melafalkan kalimat istighfar dengan suara yang sangat lembut, meresapi setiap getarannya hingga menembus relung jiwa yang paling dalam.

"Astaghfirullahal 'adzim, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum wa atuubu ilaih..." gumam Rania lirih, menutup rangkaian tahajudnya dengan sujud panjang yang penuh ketundukan.

Bagi Rania, hari Kamis ini menandai sebuah momen sakral dalam pembersihan batiniah. Setelah kedatangan Bulek Ranti dan amplop cokelat berisi wasiat usang almarhumah ibunya beberapa waktu lalu, gelombang emosi sempat bergolak di dalam dadanya. Namun, alih-alih membiarkan amarah, kekecewaan masa lalu, atau sisa luka lama menguasai akal sehatnya, Rania memilih jalur penyembuhan terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW: memperbanyak istighfar untuk mengikis ego manusiawi yang rapuh.

"Ya Allah, ampuni segala khilafku, dan bersihkan dadaku dari sisa-sisa dendam atau rasa sakit masa lalu," doa Rania dalam bisikan batin yang tulus.

Suara azan subuh berkumandang merdu dari musala kecil di ujung gang rumahnya, memecah kesunyian fajar dan membangunkan denyut kehidupan pagi hari. Rania bangkit perlahan dari sujudnya, merapikan mukena, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Segar air wudu yang membasuh wajahnya seolah menyiram setiap sisa beban mental yang sempat mengendap di kepalanya, menyiapkan dirinya untuk menyongsong hari dengan hati yang bersih dan jiwa yang merdeka.

❖ ❖ ❖

Selesai melaksanakan salat sunah rawatib subuh dan menunaikan kewajiban fardunya, Rania tidak langsung beranjak dari sajadah. Ia meraih sebuah buku catatan berpoles kulit sintetis cokelat tua yang di sampulnya tersimpan lembaran-lembaran surat wasiat peninggalan sang ibu. Hari ini, Rania menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat krusial bagi kedamaian batinnya: ia ingin menuntaskan proses pengikisan ego pribadi dan mengobati luka-luka lama akibat masa lalu yang kelam melalui kekuatan istighfar yang istiqomah.

"Ya Rabb, aku ingin memaafkan semua pihak yang pernah menyakitiku, dan aku ingin melepas segala rasa sakit ini demi mencari rida-Mu," ucap Rania dalam doa lirih di hadapan Sang Pencipta.

Selama ini, Rania menyadari bahwa luka lama sering kali bernanah di dalam hati bukan karena seberapa besar kesalahan orang lain terhadapnya, melainkan karena ia sendiri yang memelihara ego, rasa tidak terima, dan kenangan pahit tersebut di dalam ingatannya. Ketika bayangan masa lalu—termasuk perselisihan keluarga mengenai wasiat dan perpisahannya dengan Arka—berkelebat di benaknya, rasa sesak kerap kali muncul. Namun, hari ini ia bertekad untuk memutus rantai penderitaan mental tersebut dengan istighfar sebagai penawar utamanya.

"Rania, apakah kamu benar-benar sanggup meredam ego dan memaafkan semuanya tanpa sisa?" tanya suara batinnya, menguji keteguhan niatnya.

"Insya Allah, aku sanggup dengan pertolongan Allah," jawab Rania mantap di dalam hatinya.

Tujuan utamanya hari ini bukan sekadar melupakan, melainkan mentransformasi rasa sakit menjadi ladang pahala melalui ampunan dan tobat. Setiap istighfar yang ia lafalkan diniatkan sebagai pukulan telak untuk merobohkan benteng keakuan dan kesombongan diri. Buku catatan di hadapannya akan menjadi saksi atas lembaran baru pembersihan hati yang ia mulai detik ini juga, sebuah perjalanan sunyi menuju ketenangan jiwa yang hakiki di bawah naungan ampunan Al-Khaliq.

❖ ❖ ❖

Sinar matahari pagi perlahan-lahan merangkak naik dari ufuk timur, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah ventilasi rumah petak Rania. Suara deru kendaraan bermotor mulai ramai terdengar dari jalan raya utama di luar kompleks perumahan. Pukul delapan pagi, Rania telah bersiap dengan balutan gamis polos berwarna navy dan jilbab instan senada, siap melangkahkan kaki keluar rumah untuk menemui Bulek Ranti yang menginap di rumah kerabat dekat mereka di kawasan Teluk Betung.

Perjalanan pendek menggunakan angkutan kota menuju rumah sang bibi menjadi sebuah jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi Rania. Di dalam kendaraan umum yang melaju pelan, ia duduk di dekat jendela, memandangi deretan ruko dan pepohonan mahoni yang berlarian mundur seiring deru mesin angkot.

"Dulu, setiap kali aku melewati jalan ini, hatiku penuh dengan beban amarah dan rasa tidak adil," gumam Rania pelan di dalam hatinya, merenungkan perubahan drastis yang terjadi pada cara pandangnya terhadap hidup.

Transisi dari fase meratapi luka lama menuju penerimaan takdir yang ikhlas menuntut adanya perpindahan paradigma berpikir. Rania menyadari bahwa selama ini ego lelakilah yang sering kali berteriak meminta keadilan di dunia, padahal keadilan mutlak milik Allah SWT. Dengan memperbanyak istighfar di sepanjang perjalanan, ia merasakan ketukan lembut di dalam dadanya yang mencairkan kekakuan emosi yang sempat mengeras.

"Istighfar bukan cuma ucapan lisan, Rania, tapi komitmen untuk menyerahkan segala urusan kepada Sang Maha Pengadil," begitu bisik kesadaran yang menyejukkan hatinya.

Setibanya di depan rumah kerabatnya, Rania turun dari angkutan kota dengan langkah yang ringan dan mantap. Suasana halaman rumah tampak asri dengan beberapa tanaman pot di terasnya. Hawa sejuk pagi menyapa wajahnya begitu ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga teras. Transisi fisik ini mencerminkan transisi batin yang sedang ia jalani—berpindah dari kepedihan masa lalu menuju rekonsiliasi jiwa yang penuh kedamaian dan rida Allah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya