Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Silaturahmi yang Terjaga

Silaturahmi yang Terjaga Tanpa Melanggar Batas.

Sore itu, halaman rumah keluarga Fathian di Bandar Lampung tampak asri tersiram cahaya matahari keemasan yang mulai condong ke barat. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, mengoyang-goyangkan daun-daun pohon mangga dan melati yang ditanam rapi di dalam pot-pot terakota di teras. Jam dinding di ruang tamu baru saja menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit, menandakan waktu yang tepat untuk menyambut kedatangan para tamu kerabat jauh yang sudah lama tidak bersua. Suasana rumah terasa begitu hangat, diwarnai aroma kue lapis legit buatan Salma yang baru saja diangkat dari oven dan mengepulkan keharuman mentega bercampur vanila.

Fathian mengenakan kemeja koko putih bersih dipadu sarung tenun berwarna cokelat muda, berdiri di dekat pintu utama untuk menyambut kedatangan paman dari pihak ibunya, Pak De Martono, beserta bibi dan dua sepupu jauh yang baru saja turun dari mobil pribadi mereka di halaman depan.

"Selamat datang, Pak De, Bude. Mari, silakan masuk. Perjalanan dari Palembang lancar?" sapa Fathian ramah sambil mencium punggung tangan pamannya dengan penuh takzim.

"Alhamdulillah lancar, Fath. Agak tersendat sedikit tadi pas mau masuk tol kota, tapi secara keseluruhan aman," jawab Pak De Martono tersenyum lebar, menepuk-nepuk bahu keponakannya dengan hangat. "Wah, rumahmu makin rapi dan adem kelihatannya sekarang."

Salma muncul dari arah dapur dengan mengenakan gamis berwarna abu-abu muda dan jilbab syar'i senada, membawa nampan berisi air es jeruk segar. "Silakan diminum dulu, Pak De, Bude, biar hilang penat perjalanannya," ucap Salma santun sambil meletakkan nampan di atas meja tamu kayu jati.

"Terima kasih banyak, Salma. Wah, repot-repot ya kamu nyiapin hidangan segala," sambut Bude Martono sambil tersenyum ramah dan menerima gelas yang disodorkan.

Pertemuan keluarga besar ini sudah direncanakan sejak pekan lalu, bukan sekadar ajang melepas rindu, melainkan momen penting untuk mempererat tali silaturahmi yang sempat renggang akibat kesibukan masing-masing. Namun, di balik kehangatan sambutan tersebut, Fathian dan Salma telah sepakat untuk tetap menjaga batasan-batasan syariat Islam dalam berinteraksi dengan kerabat, terutama terkait adab bergaul dengan sepupu lawan jenis yang bukan mahram.

❖ ❖ ❖

Fathian duduk di kursi sofa ruang tamu, mendengarkan obrolan ringan seputar kabar kesehatan dan perkembangan bisnis toko kelontongnya yang baru saja bangkit dari masa krisis. Di balik senyum ramahnya, tujuan utama Fathian mengadakan silaturahmi sore ini sangat jelas dan penuh prinsip: ia ingin menyambung tali persaudaraan dengan kerabat dekat tanpa sedikit pun melanggar batasan-batasan hukum Islam, seperti menjaga pandangan (ghadhlul bashar), menghindari ikhtiar yang mengundang fitnah, serta tidak berdua-duaan (khalwat) dengan sepupu perempuan yang bukan mahramnya.

"Bagaimana perkembangan tokomu sekarang, Fath? Kemarin kudengar dari ibumu di desa sempat ada musibah ya?" tanya Pak De Martono serius, menatap keponakannya dengan pandangan penuh perhatian.

"Alhamdulillah, Pak De, semua ujian itu sudah lewat berkat izin Allah," jawab Fathian tenang. "Sekarang kondisi toko berangsur pulih, dan pihak bank juga sudah memberikan keringanan restrukturisasi kredit."

"Syukurlah kalau begitu. Namanya juga hidup berdagang, pasti ada ombak naik turunnya," timpal Pak De mengangguk-angguk puas.

Sementara itu, di ruang keluarga yang bersekat tirai tipis dengan ruang tamu, Salma sedang menemani Bude Martono dan kedua sepupu perempuan Fathian—Rani dan Siska—yang sebaya dengan keponakan mereka. Suasana di bagian dalam terasa hangat oleh tawa ringan dan obrolan seputar resep masakan serta tips keluarga.

Tujuan Salma mendampingi para tamu wanita di ruang dalam adalah untuk memastikan bahwa batasan interaksi antara keluarga besar tetap terjaga dengan baik dan elegan tanpa menimbulkan kesan kaku atau sombong.

"Rani sekarang sudah semester akhir ya di universitas?" tanya Salma ramah sambil menawarkan kue lapis legit kepada kedua sepupu mudanya.

"Iya, Mbak Salma. Ini lagi pusing-pusingnya nyusun skripsi," jawab Rani sambil tersenyum kecut. "Makanya senang banget pas diajak ikut ke Bandar Lampung, bisa sekalian refreshing."

"Semangat ya, Rani. Dinikmati saja prosesnya, nanti kalau sudah selesai rasanya lega luar biasa," motivasi Salma tulus.

Fathian yang duduk di ruang tamu menyadari betul pentingnya menjaga batas interaksi ini. Ketika salah satu sepupu laki-lakinya hendak lewat dan berniat bersalaman dengan Salma, Fathian secara santun dan halus langsung memberikan isyarat pengingat tanpa membuat suasana menjadi canggung, menunjukkan bahwa menjaga syariat bisa dilakukan dengan penuh kearifan dan kasih sayang keluarga.

❖ ❖ ❖

Waktu beranjak sore menuju maghrib. Suara perbincangan di ruang tamu dan ruang keluarga mulai melambat seiring dengan berkumandangnya azan Maghrib dari surau terdekat. Fathian segera berdiri dari kursinya, mengajak Pak De Martono dan sepupu laki-lakinya untuk bersiap mengambil air wudhu dan menunaikan shalat Maghrib berjamaah di mushala rumah.

"Mari, Pak De, kita bersiap ke mushala dulu. Sebentar lagi waktu shalat habis," ajak Fathian sopan.

"Mari, Fath. Kebetulan saya juga sudah ambil wudhu tadi sebelum berangkat," balas Pak De Martono berdiri sambil merapikan bajunya.

Di sisi lain, Salma mengajak Bude Martono, Rani, dan Siska untuk mengambil air wudhu di kamar mandi bagian dalam rumah. Suasana transisi sore itu terasa sangat tertib dan teratur. Tidak ada benturan budaya atau rasa canggung yang berlebihan, karena Fathian dan Salma telah membiasakan prinsip-prinsip batasan pergaulan Islam dalam keseharian keluarga mereka, sehingga para tamu pun merasa dihormati tanpa merasa dikekang oleh aturan yang kaku.

Sehabis menunaikan shalat Maghrib berjamaah yang dipimpin langsung oleh Fathian, suasana keakraban semakin terasa syahdu. Mereka kembali berkumpul di ruang tengah untuk menikmati makan malam bersama yang telah disiapkan Salma di atas meja makan besar berkonsep prasmanan sederhana.

"Wah, masakanmu makin enak saja, Salma. Ini ikan pindang patinnya benar-benar khas Lampung banget rasanya," puji Bude Martono sambil mengambil lauk ke piringnya.

"Alhamdulillah kalau Bude suka. Itu resep asli dari Emak di kampung," balas Salma tersenyum ramah dari ujung meja.

Lihat selengkapnya