Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

: Ujian Kesabaran Fathian

Ujian Kesabaran Fathian Saat Mendengar Kabar tentang Nayla dari Kejauhan.

Pukul tiga sore di sudut pekarangan Surau Al-Hidayah selalu membawa kesejukan tersendiri, di mana angin lembap musim penghantar senja berhembus pelan menyapu dedaunan mangga yang rimbun di halaman belakang. Di bawah naungan kanopi kain terpal biru yang membentang di atas pelataran keramik putih bersih, Nayla duduk bersila di atas tikar pandan anyaman, merapikan tumpukan iqra jilid satu hingga enam serta buku catatan presensi santri cilik yang baru saja ia terima dari lemari kayu tua surau. Suasana sore itu dipenuhi oleh suara riuh rendah gelak tawa anak-anak usia lima hingga sepuluh tahun yang berlarian kecil mengenakan pakaian Muslim berwarna-warni cerah, bersiap-siap untuk memulai sesi belajar mengaji sore mereka.

"Ustadzah Nayla, lihat! Buku iqraku sudah sampai di jilid empat sekarang!" seru Farhan, bocah laki-laki berusia tujuh tahun dengan peci miring di kepala, sambil berlari membawa bukunya mendekati meja kecil tempat Nayla duduk.

Nayla mendongak, tersenyum hangat menyambut kedatangan santri cilik kesayangannya itu seraya merapikan letak jilbab instan berwarna merah muda yang ia kenakan. "Wah, hebat sekali Farhan! Sebentar lagi naik ke jilid lima, ya. Tapi jangan lupa, semakin tinggi tingkat iqramu, bacaannya harus semakin tartil dan makhraj hurufnya harus semakin fasih, janji?"

"Janji, Ustadzah!" jawab Farhan penuh semangat sebelum melompat kecil bergabung dengan teman-teman sebayanya di barisan kelompok melingkar.

Nayla menghela napas lega, merasakan kehangatan yang merambat di dalam dadanya setiap kali ia melihat antusiasme anak-anak tersebut. Surau kecil di perkampungan padat penduduk pinggiran kota itu telah menjadi rumah kedua bagi Nayla selama tiga tahun terakhir. Di saat banyak pemuda seusianya menghabiskan waktu sore mereka di pusat perbelanjaan mewah atau kafe-kafe kekinian, Nayla justru memilih mendedikasikan sebagian besar waktu luangnya untuk membimbing anak-anak duafa dan warga sekitar belajar membaca Al-Qur'an secara gratis.

"Masih banyak santri yang berdatangan di gerbang depan, Nay?" tanya Siti, rekan sesama pengajar relawan yang datang membawa nampan berisi gelas-gelas air mineral hangat untuk istirahat nanti.

Nayla menoleh ke arah gerbang besi surau yang dicat hijau tua. "Ya, Siti. Sepertinya sore ini jumlah santri yang hadir melebihi target biasa. Anak-anak dari blok perumahan sebelah juga ikut bergabung karena TPA di masjid mereka sedang direnovasi."

Siti tersenyum maklum, meletakkan nampan di atas meja kayu. "Itu artinya kehadiran Taman Pendidikan Al-Qur'an kita semakin dipercaya oleh warga sekitar. Perjuanganmu merintis surau ini dari nol benar-benar membuahkan hasil yang luar biasa."

Nayla hanya tersenyum tipis, menyadari bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sekadar kegiatan sosial pengajaran biasa, melainkan sebuah panggilan jiwa yang sangat mendalam untuk menyelamatkan generasi masa depan melalui cahaya Al-Qur'an.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Nayla sore itu bukanlah sekadar menghabiskan waktu luang dengan mengajari anak-anak mengeja huruf hijaiyah atau sekadar menggugurkan kewajiban sosial sebagai seorang relawan surau. Jauh melampaui urusan rutinitas pengajaran harian semata, ia membawa sebuah misi besar dan mulia yang telah ia rancang sejak lama: ia bertekad untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan Al-Qur'an gratis yang mandiri, terstruktur, dan mampu menjangkau ratusan anak-anak dari keluarga kurang mampu di seluruh wilayah kecamatan tersebut, agar tidak ada lagi anak yang tumbuh dewasa tanpa mengenal dasar-dasar bacaan kitab suci agama mereka.

"Dengarkan aku baik-baik, Siti," ujar Nayla dengan nada serius namun penuh binar optimisme di matanya saat mereka merapikan posisi duduk santri di barisan melingkar. "Impianku bukan hanya mengajar sepuluh atau dua puluh anak di teras surau ini setiap sore. Aku ingin tempat ini berkembang menjadi pusat pembinaan karakter anak-anak yang berbasis Al-Qur'an secara profesional."

Siti duduk di sebelah Nayla, menatap sahabatnya itu dengan rasa kagum yang bercampur sedikit keraguan realistis. "Aku sangat mendukung impian besarmu itu, Nayla. Tetapi membangun sebuah yayasan resmi membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit, izin legalitas yang rumit, serta tenaga pengajar tetap yang memiliki dedikasi setinggi milikmu. Dari mana kita akan memulai semua itu?"

"Kita mulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten, Siti," jawab Nayla mantap, jemarinya menunjuk ke arah barisan anak-anak yang mulai khusyuk membuka buku iqra mereka. "Setiap anak yang berhasil membaca Al-Qur'an dengan baik di sini adalah investasi masa depan umat. Jika kita mendidik mereka dengan fondasi tauhid dan kecintaan pada Al-Qur'an sejak dini, kita sedang menyelamatkan peradaban bangsa dari kepunahan moral."

Siti mengangguk pelan, mengakui keteguhan visi yang dipegang oleh rekan seperjuangannya itu. "Kau selalu tahu cara membuat hal-hal besar terasa mungkin untuk dicapai, Nayla. Lalu, apa langkah konkrit yang akan kita ambil untuk mewujudkan yayasan itu dalam waktu dekat ini?"

"Hari ini aku berencana mengumumkan program beasiswa tahfidz cilik tingkat dasar kepada para wali santri yang hadir mengantar anak mereka sore ini," jelas Nayla penuh keyakinan. "Kita akan menyeleksi sepuluh anak berprestasi dari keluarga duafa untuk dibimbing secara intensif tanpa dipungut biaya sepeser pun, sekaligus mencari donatur tetap dari kalangan jamaah masjid."

Siti tersenyum hangat, menepuk pundak Nayla pelan. "Sebuah rencana yang luar biasa berani. Semoga Allah mudahkan setiap langkah niat baikmu sore ini."

Nayla mengangguk penuh syukur. Ia tahu bahwa tujuan luhur yang ia tetapkan untuk dirinya hari itu akan diuji secara langsung oleh berbagai tantangan nyata, baik dari keterbatasan fasilitas maupun hambatan eksternal yang siap mengadang jalannya.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding surau menunjuk angka tiga lewat empat puluh lima menit ketika suara azan asar berkumandang pelan dari pelantang suara surau, memecah kesibukan persiapan kelas mengaji. Seluruh anak-anak yang tadinya berlarian di halaman dengan tertib menghentikan permainan mereka, merapikan pakaian, lalu bergegas mengambil air wudu di tempat wudu sisi selatan surau yang airnya mengalir jernih dari sumur bor wakaf warga.

"Ayo semuanya, ambil air wudu yang tertib ya, jangan berebut," panggil Nayla lembut sambil berdiri mengawasi barisan anak-anak yang antre di depan keran air.

Siti membantu menyiapkan sajadah panjang di dalam ruang utama surau tempat anak-anak akan menunaikan shalat asar berjemaah sebelum sesi belajar Al-Qur'an dimulai. Suasana di sekitar surau mendadak berubah menjadi sangat khidmat dan damai, menggantikan keriuhan riang anak-anak beberapa menit lalu dengan keheningan spiritual yang menyejukkan hati siapa saja yang mendengarkannya.

Nayla melangkah masuk ke dalam ruang utama surau setelah memastikan semua santri cilik selesai berwudu. Ia merapikan jilbabnya di depan cermin kecil dinding surau, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang sedikit berpacu karena persiapan pengumuman penting di hadapan para wali santri yang sebentar lagi akan berdatangan menjemput atau menunggu anak-anak mereka.

Masa transisi dari kegiatan sore yang santai menuju momen krusial penggalangan program pendidikan itu ia lewati dengan penuh kesadaran penuh. Ia tahu bahwa mengajar anak-anak mengaji bukan sekadar transfer ilmu tajwid, melainkan proses transfer nilai kesabaran dan keikhlasan yang diuji setiap detik.

"Kau tampak sedikit tegang, Nayla," tegur Pak Haji Mahmud, pengurus sepuh surau yang datang membawa setumpuk brosur program kegiatan malam Jumat.

Nayla menoleh, tersenyum sopan kepada orang tua yang sangat dihormatinya itu. "Ah, sedikit gugup, Pak Haji. Sore ini saya berencana menyampaikan gagasan pengembangan program beasiswa tahfidz cilik kepada para wali santri."

Lihat selengkapnya