Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Doa Rabithah yang Mengikat

Doa Rabithah yang Mengikat Hati-Hati yang Beriman.

Pukul empat lewat lima belas menit pagi di pertengahan bulan November selalu membawa keheningan yang sangat khusyuk, di mana udara dingin pegunungan meresap perlahan menembus dinding-dinding beton masjid jami' Baitul Muttaqin. Di dalam ruang utama masjid yang diterangi cahaya lampu neon putih kebiruan redup, lantai keramik terasa begitu dingin di kulit, namun suasana batin di dalam ruangan itu justru terasa hangat dan berdenyut oleh kehadiran sekelompok pemuda yang duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran rapat. Mereka baru saja menyelesaikan rangkaian shalat malam tahajud secara berjemaah, dan kini bersiap-siap untuk melantunkan zikir pagi serta munajat bersama menjelang fajar menyingsing.

"Alhamdulillah, malam ini formasi halaqah kita lengkap semua hadir tanpa kurang satu pun," bisik Zaki pelan kepada Umar yang duduk tepat di sebelah kanannya sambil merapikan letak sajadah abu-abunya.

Umar mengangguk pelan, tersenyum hangat seraya merapikan jubah putih dan peci rajut hitam yang ia kenakan. "Iya, Zaki. Di tengah kesibukan kuliah dan pekerjaan akhir tahun yang begitu padat, bisa meluangkan waktu untuk iktikaf dan qiyamul lail bersama seperti ini adalah nikmat yang luar biasa besar."

Di tengah ruangan, Akhi Farhan—pembimbing halaqah mereka yang berjanggut tipis dan mengenakan kemeja koko cokelat muda—berdiri perlahan di depan saf pertama, memegang selembar kertas kecil berisi teks doa dan menatap lekat-lekat ke arah para pemuda binaannya dengan pandangan mata yang menyiratkan kecintaan mendalam. Suasana di dalam masjid mendadak menjadi begitu hening, menyisakan suara desau angin subuh yang berembus pelan melalui jendela-jendela kaca masjid yang terbuka setengah.

"Saudara-saudaraku sekalian," ucap Farhan dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa, memecah keheningan pagi itu. "Sebelum fajar benar-benar tiba dan kita melaksanakan shalat subuh berjemaah, mari kita satukan hati dan pikiran kita malam ini untuk membaca munajat agung yang mengikat jiwa-jiwa kita dalam ikatan akidah: Doa Rabithah."

Para pemuda itu langsung merapatkan posisi duduk mereka, merapatkan bahu satu sama lain hingga tidak ada celah di antara mereka, menciptakan simbol fisik kesatuan barisan yang kokoh. Umar merapatkan tubuhnya ke Zaki, merasakan detak jantung dan kehangatan napas saudaranya di tengah dinginnya udara subuh.

"Siapkan hati kalian, resapi setiap makna kalimatnya, dan rasakan bagaimana doa ini mengalir menyatukan cinta kasih di antara kita karena Allah SWT," lanjut Farhan memberi aba-aba sebelum ia mengangkat kedua tangannya perlahan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Umar dan rekan-rekan sehalaqahnya membaca Doa Rabithah pagi itu bukanlah sekadar merapal teks hafalan rutin mingguan atau sekadar menjalankan ritual penutup kegiatan iktikaf agar selesai tepat waktu sebelum azan berkumandang. Jauh melampaui urusan rutinitas ibadah formal semata, mereka membawa sebuah misi spiritual yang sangat sakral dan mendalam: mereka bertekad untuk menyatukan kembali hati-hati yang mulai renggang akibat benturan kesibukan duniawi, mengokohkan kembali ukhuwah Islamiyah di antara mereka, dan memperbarui janji setia kepada Allah SWT untuk terus berjuang di jalan dakwah bersama-sama dalam barisan yang teratur.

"Umar, apa yang paling kau rasakan ketika kita membaca doa rabithah bersama dalam kelompok ini setiap pekannya?" bisik Zaki pelan sebelum Farhan memulai bacaan doanya.

Umar menoleh sekilas ke arah sahabat karibnya itu, menjawab dengan suara lirih namun penuh keyakinan, "Aku mencari kekuatan batin, Zaki. Dunia luar sana begitu kejam dan penuh dengan kompetisi egois yang memecah belah manusia. Di dalam halaqah ini, melalui ikatan doa rabithah, aku ingin hatiku kembali disucikan dan diikat kuat dengan hati kalian, agar aku tidak berjalan sendirian menghadapi ujian hidup."

"Tujuan yang sangat mulia," balas Zaki tulus. "Aku juga merasakan hal yang sama. Kadang kala, godaan kepenatan harian membuat semangat dakwahku surut, tetapi begitu kita melingkar dan berdoa bersama, energi persaudaraan itu mendadak terisi penuh kembali."

Di hadapan mereka, Farhan mengawali bait pertama Doa Rabithah dengan suara yang bergetar penuh penghayatan, melantunkan kalimat agung yang memuji kekuasaan Allah dalam menghimpun hati-hati yang beriman di atas jalan cinta-Nya. Umar dan Zaki langsung menundukkan kepala mereka, merapatkan telapak tangan dalam posisi berdoa, dan memusatkan seluruh kesadaran jiwa mereka pada setiap untaian kata yang meluncur dari lisan pembimbing mereka.

Mereka memiliki tujuan bersama yang tidak main-main: menjadikan ikatan ukhuwah di antara mereka bukan sekadar persahabatan biasa yang terikat oleh kepentingan dunia atau hobi yang sama, melainkan persaudaraan suci yang diikat oleh keimanan, ketulusan niat, dan kesiapan untuk saling menopang dalam kebaikan serta ketaatan kepada Sang Pencipta, terlepas dari segala kekurangan dan perbedaan latar belakang pribadi masing-masing di antara mereka.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding masjid menunjuk angka empat lewat tigapuluh menit ketika Farhan memimpin pelafalan bait demi bait Doa Rabithah dengan suara yang semakin syahdu dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarkannya di dalam ruangan tersebut. Suara gemuruh pelan dari lisan para pemuda yang mengikuti bacaan di belakang Farhan menciptakan harmoni spiritual yang sangat indah, mengalir lembut menyentuh relung-relung jiwa yang paling dalam.

"Ya Allah, Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul atas dasar cinta kepada-Mu..." lafal Farhan diikuti secara serentak oleh seluruh jamaah halaqah dengan suara tertahan namun penuh kesungguhan.

Umar merasakan getaran hebat merambat di sekujur tubuhnya setiap kali ia melafalkan bait kalimat tersebut. Masa transisi dari kesibukan pikiran duniawi menuju kekhusyukan munajat total terjadi begitu cepat di dalam batinnya; beban tugas kantor yang menumpuk, masalah keuangan keluarga, dan berbagai kecemasan masa depan seolah lenyap tersapu oleh gelombang energi spiritual yang terpancar dari kebersamaan malam itu.

"Dan bertemu dalam ketaatan kepada-Mu..." lanjut mereka bersama-sama, bahu mereka saling bersentuhan erat, membuktikan secara nyata arti sebuah barisan yang tidak mudah goyah oleh terpaan angin luar.

Farhan berhenti sejenak di antara bait doa, membiarkan keheningan malam dan desau angin subuh meresap ke dalam keheningan batin para pemuda binaannya. Di saat jeda singkat itu, Umar merasakan suatu ikatan tak kasat mata yang sangat kuat menghubungkan hatinya dengan hati Zaki, Farhan, dan seluruh sahabat di lingkaran tersebut—sebuah ikatan batin yang melampaui batas-batas ruang, waktu, dan logika manusia biasa.

"Rasakan ikatan itu, saudara-saudaraku," bisik Farhan lembut di sela-sela doanya. "Doa rabithah bukan sekadar kata-kata arab yang kita ucapkan dengan lidah, melainkan perjanjian suci di hadapan Allah bahwa kita adalah satu tubuh; jika satu orang terluka, yang lainnya ikut merasakan sakitnya."

Umar mengangguk dalam hati, air matanya menetes perlahan membasahi pipinya yang dingin. Ia menyadari bahwa proses transisi spiritual ini telah mengubah cara pandangnya terhadap arti persahabatan sejati. Persaudaraan Islam bukanlah tentang siapa yang paling pintar atau paling kaya di dalam kelompok, melainkan tentang siapa yang paling tulus mendoakan saudaranya dalam sujud-sujud malam mereka yang sunyi.

Menjelang bait-bait akhir doa dibacakan, suasana di dalam masjid Baitul Muttaqin terasa semakin sakral, bersiap menyambut detik-detik terbitnya fajar yang akan menandai dimulainya lembaran hari baru penuh berkah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya