Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Titik Jenuh yang Dihilangkan

Titik Jenuh yang Dihilangkan dengan Sujud Panjang.

Pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari di hari Minggu yang hening, suasana di dalam kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter milik Fathian di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu sunyi dan terisolasi dari keriuhan dunia luar. Langit malam di luar jendela kaca tampak gelap tanpa bintang, diselimuti oleh mendung tipis yang membawa kelembapan udara dingin khas akhir malam. Di sudut ruangan yang diterangi oleh cahaya kuning temaram dari sebuah lampu tidur kecil, Fathian duduk bersimpuh di atas sajadah tebal berwarna hijau tua dengan kepala tertunduk lesu.

Fathian mengenakan kaos oblong putih polos yang dibalut sarung kain kotak-kotak merah tua. Wajahnya tampak jelas menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat setelah berhari-hari berjibaku dengan urusan dakwah pemuda, pengelolaan tanah wakaf keluarga, hingga tekanan sosial yang silih berganti menghantam hidupnya. Kantung mata hitam terlihat jelas di bawah kelopak matanya yang sayu, mencerminkan betapa berat beban pikiran yang harus ia pikul sendirian di tengah keheningan malam tersebut.

"Ya Allah... rasanya pundak ini sudah hampir patah menanggung semua amanah ini," gumam Fathian dengan suara serak tertahan, meremas ujung sarungnya dengan kedua tangan yang sedikit bergetar.

Bagi Fathian, malam ini bukan sekadar waktu istirahat biasa, melainkan puncak dari titik jenuh yang sudah lama ia pendam di dalam dadanya. Berbagai masalah yang datang bertubi-tubi—mulai dari konflik internal kepengurusan masjid, urusan administrasi wakaf yang berbelit-belit, hingga kelelahan emosional dalam membimbing para pemuda—membuat energi jiwanya terkuras habis. Ia merasa seolah-olah sedang berlari di dalam labirin tanpa ujung, di mana setiap kali ia menyelesaikan satu masalah, masalah baru yang lebih rumit langsung menyambut di depan mata.

"Apakah aku masih sanggup melanjutkan semua ini?" bisik hatinya penuh keraguan, merasakan hampa yang mendalam di rongga dadanya.

Suara desau angin malam yang menepis daun-daun jendela seolah mengamini kesunyian yang mencekam di dalam kamar tersebut. Fathian menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa tenaga di tengah rasa jenuh yang nyaris melumpuhkan sekujur tubuhnya.

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah merenungkan kepenatan yang merajam jiwanya, Fathian mengubah posisi duduknya menjadi bersila dengan tegap. Ia menatap lurus ke arah kiblat, merapatkan kedua telapak tangan di atas paha, lalu menetapkan sebuah tujuan batiniah yang sangat krusial bagi keselamatan imannya malam ini: ia ingin menghilangkan titik jenuh yang menyesakkan dada tersebut melalui ibadah sujud panjang di sepertiga malam terakhir, memohon pertolongan mutlak hanya kepada Sang Pencipta.

"Ya Rabb, aku serahkan segala lelah dan kejenuhan ini kepada-Mu," ucap Fathian dengan suara berbisik yang penuh kerendahan hati di hadapan Ilahi.

Fathian menyadari bahwa mengeluh kepada manusia tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya menambah beban dan membuka celah bagi rasa putus asa. Tujuan utamanya malam ini adalah mencari "titik nol" kesadarannya kembali—menghapus segala ambisi duniawi, melepaskan beban pengakuan manusia, dan menumpahkan segala keluh kesah di hadapan Dzat yang Maha Mendengar. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa seberapa pun berat beban hidup yang dipikul seorang hamba, tempat pengaduan paling aman dan menenangkan adalah di atas sajadah melalui ruku dan sujud yang khusyuk.

"Fathian, jangan pernah berharap pada kekuatan dirimu sendiri. Kamu ini lemah, yang kuat itu hanya Allah," bisik nuraninya mengingatkan kembali hakikat kehambaan.

"Insya Allah, aku paham, ya Allah," jawab Fathian mantap di dalam hatinya, menolak menyerah pada rasa jenuh yang membabi buta.

Tujuan spiritual ini menjadi kompas penuntun bagi langkahnya malam ini. Buku agenda harian dan catatan kegiatan organisasi yang berserakan di atas meja ia abaikan sejenak; prioritas utamanya saat ini adalah memperbaiki hubungan vertikal dengan Sang Khaliq. Fathian bertekad untuk melaksanakan salat malam sunah secara khusyuk, menikmati setiap bacaan ayat suci Al-Qur'an, dan memanjatkan doa dengan linangan air mata di keheningan fajar yang suci.

❖ ❖ ❖

Gerakan fisik Fathian perlahan berubah dari duduk bersila menjadi berdiri tegak di atas sajadah hijau tuanya. Ia mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga, melafalkan takbiratul ihram dengan suara lirih namun penuh penghayatan, memulai rangkaian salat malam tahajud yang menjadi jembatan transisi batin dari kepenatan dunia menuju kedamaian spiritual.

Perpindahan dari fase kejenuhan mental yang menyesakkan dada menuju kekhusyukan salat malam merupakan proses transisi ruhani yang sangat menyembuhkan. Setiap gerakan ruku, iktidal, hingga sujud yang ia lakukan terasa begitu sarat makna. Saat Fathian membaca ayat-ayat pendek dari surah Al-Qur'an dengan suara bergetar, ia merasakan aliran ketenangan yang perlahan-lahan merembes masuk ke dalam aliran darahnya, melunturkan kekakuan emosi yang sempat mengeras di kepalanya.

"Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan," lafal Fathian pelan dalam surah Al-Fatihah, meresapi setiap kata yang diucapkannya dengan kesadaran penuh.

Transisi ini membuktikan bahwa ibadah malam adalah pelarian terbaik bagi seorang mukmin yang lelah menghadapi dinamika dunia. Fathian tidak lagi merasakan beban urusan tanah wakaf, urusan dakwah pemuda, atau omongan miring orang lain; di hadapan Allah, semua atribut sosial itu tanggal seketika, menyisakan dirinya sebagai seorang hamba yang fakir dan sangat membutuhkan rahmat Tuhannya.

Lihat selengkapnya