Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Penyesuaian Hati

Penyesuaian Hati: Waktu Menjadi Saksi Keteguhan.

Sore itu, Kota Bandar Lampung kembali disapa oleh langit senja yang memancarkan gradasi warna jingga dan keemasan yang memukau. Di halaman belakang rumah keluarga Fathian, angin lembap berhembus pelan menyapu deretan tanaman pot lidah buaya dan sirih gading yang tertata rapi di atas rak kayu. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul lima sore kurang sepuluh menit. Suasana rumah terasa begitu tenang, diwarnai oleh cahaya matahari senja yang menerobos masuk melalui ventilasi jendela kaca, memantulkan bias cahaya hangat ke atas lantai keramik putih yang bersih.

Nayla duduk bersila di atas karpet beludru abu-abu di sudut ruang keluarga, mengenakan gamis panjang berwarna cokelat muda berpadu jilbab syar'i lebar yang menjuntai menutupi dadanya. Di hadapannya, sebuah meja kayu kecil menopang sebuah mushaf Al-Qur'an berukuran sedang dengan sampul kulit sintetis hitam. Jari telunjuk tangan kanannya menelusuri perlahan ayat-ayat suci yang sedang ia baca dengan suara tartil yang pelan dan merdu, mengalun lembut di tengah keheningan rumah.

"Nayla, Nak, air teh untuk sore ini sudah disiapkan di dapur. Kalau sudah selesai bacaannya, tolong bantu Emak bawa ke meja teras belakang ya," suara lembut Salma terdengar dari arah dapur, memecah kesunyian sore yang syahdu.

"Iya, Emak. Sebentar lagi Nayla rapikan mushafnya," jawab Nayla dengan nada santun dan rendah, menjaga adab berbicara yang selalu ia pegang teguh.

Bagi Nayla, waktu yang berjalan selama beberapa bulan terakhir ini telah menjadi saksi bisu atas perubahan besar dalam jiwa dan pola hidupnya. Hari-hari yang dulunya diisi dengan kecemasan, perdebatan batin, serta keraguan terhadap jalan sunnah yang ia pilih, kini telah bertransformasi menjadi sebuah ketenangan hati yang luar biasa. Waktu bukan lagi sesuatu yang harus dikejar-kejar dengan ambisi duniawi yang melelahkan, melainkan sebuah ruang ibadah untuk merawat keistiqamahan dan menjaga kehormatan diri (iffah) di dalam rumah.

❖ ❖ ❖

Nayla menutup mushaf Al-Qur'an di hadapannya dengan perlahan, menciumnya sekilas sebelum meletakkannya kembali ke atas rak kayu khusus tempat penyimpanan kitab suci. Ia bangkit berdiri, merapikan lipatan gamisnya, lalu melangkah ringan menuju dapur. Tujuan utama Nayla di sore hari ini sangat jelas dan terpatri kuat di dalam hatinya: ia ingin melakukan penyesuaian batin secara total, melatih hatinya agar senantiasa ikhlas menerima setiap ketentuan takdir Allah, serta membuktikan bahwa waktu yang dihabiskan di rumah bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan proses penempaan jiwa yang mulia.

"Ini nampannya, Mak. Biar Nayla saja yang bawa ke teras belakang sekalian sama piring pisang gorengnya," kata Nayla sambil mengambil nampan berisi teko tanah liat dan dua cangkir teh hangat dari tangan ibunya.

Salma tersenyum hangat, menatap putri sulungnya dengan binar mata penuh rasa bangga dan kasih sayang yang mendalam. "Hati-hati panasnya, Neng. Abahmu sebentar lagi pulang dari kebun belakang, pas banget kalau kita bisa ngeteh sore bareng di teras."

"Iya, Mak. Nayla juga ingin ngobrol sebentar sama Abah dan Emak tentang rencana kelas tahsin online yang mau Nayla ikuti mulai pekan depan," ujar Nayla antusias namun tetap tenang.

Tujuan Nayla memperdalam ilmu Al-Qur'an bukan sekadar untuk menambah wawasan akademis agama, melainkan sebagai bentuk penyesuaian hati agar ia tidak mudah goyang oleh bisikan-bisikan keraguan yang kerap datang dari luar. Ia ingin waktunya benar-benar produktif, diisi dengan amal-amal saleh yang dicintai oleh Allah, sekaligus mempersiapkan diri mentalnya untuk menghadapi babak baru kehidupannya kelak.

"Bagus kalau kamu mau ikut kelas tahsin itu, Neng," timpal Salma sambil mengelus pundak putrinya. "Ilmu agama itu benteng terkuat bagi seorang wanita di akhir zaman seperti sekarang ini."

Nayla mengangguk mantap. Ia tahu betul bahwa penyesuaian hati butuh proses yang panjang dan tidak instan. Waktu telah menjadi saksi bagaimana ia harus jatuh bangun melawan ego sendiri, namun dengan niat yang lurus, setiap detik yang berlalu kini terasa bernilai ibadah.

❖ ❖ ❖

Waktu beranjak maghrib ketika Fathian kembali dari kebun belakang membawa beberapa alat berkebun yang sudah dibersihkan. Suara azan Maghrib berkumandang bersahutan dari surau-surau di sekitar lingkungan rumah, memecah keheningan senja dan memanggil setiap hamba untuk segera menghadap kepada Sang Pencipta. Fathian bergegas mengambil air wudhu di kamar mandi luar, sementara Nayla dan Salma merapikan sajadah di ruang tengah rumah.

Selepas menunaikan shalat Maghrib berjamaah bersama keluarga, suasana malam terasa begitu damai. Lampu-lampu rumah menyala terang, memantulkan kehangatan keluarga yang harmonis. Fathian duduk di kursi rotan ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat buatan putrinya, sementara Nayla duduk bersimpuh di dekat meja belajar.

"Bagaimana persiapan kelas tahsinmu, Nay?" tanya Fathian membuka obrolan ringan sambil meletakkan cangkirnya di atas meja kayu. "Apakah jadwalnya tidak berbenturan dengan tugas mengajarmu di TPA masjid sebelah?"

"Alhamdulillah tidak, Bah," jawab Nayla sopan. "Kelasnya diadakan secara online malam hari setelah shalat Isya, jadi jadwal sore di TPA tetap bisa berjalan seperti biasa."

Bagi Fathian dan keluarganya, transisi waktu dari siang menuju malam selalu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk hal-hal yang melalaikan. Perubahan ritme kehidupan keluarga mereka selama setahun terakhir ini membuktikan bahwa penyesuaian hati terhadap ajaran sunnah membawa berkah yang sangat nyata dalam ketenteraman rumah tangga.

"Abah sangat bangga melihat konsistensimu, Nay," puji Fathian tulus. "Dulu kamu sempat ragu dan gamang dengan pilihan hidup ini. Tapi lihat dirimu sekarang, waktu benar-benar telah menjadi saksi keteguhan hatimu."

"Semua itu berkat bimbingan dan doa dari Abah sama Emak juga," balas Nayla merendah, tersenyum tulus kepada kedua orang tuanya.

Transisi batin yang dialami Nayla dari seorang gadis muda yang labil menjadi seorang muslimah yang tegar bukanlah proses semalam. Waktu telah mendewasakannya, mengajarkan bahwa kesabaran dalam ketaatan adalah kunci utama meraih kedamaian hakiki.

❖ ❖ ❖

Di tengah suasana malam yang tenang dan penuh kehangatan keluarga tersebut, tiba-tiba ketenangan itu diuji oleh sebuah suara dering ponsel yang diletakkan di atas meja belajar Nayla. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenal—Sinta, sahabat karibnya semasa kuliah yang beberapa bulan lalu sempat bersitegang dengannya karena masalah undangan reuni.

Lihat selengkapnya