Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Perubahan Pandangan Ayah Nayla

Perubahan Pandangan Ayah Nayla Terhadap Fathian dari Sudut Pandang Syariat.

Cahaya matahari sore meluncur perlahan menembus kaca jendela besar ruang tamu rumah keluarga Nayla di kawasan elite Jakarta Selatan, memantulkan bias keemasan di atas permadani wol berwarna cokelat muda. Di luar, suara deru kendaraan ibu kota berpadu dengan desau angin sore yang menghempas dedaunan pohon mangga di halaman depan. Di ruangan yang ditata dengan perabot kayu jati klasik itu, Pak Hendar—ayah Nayla—duduk bersandar di kursi sofa kulit hitam dengan kacamata baca yang masih bertengger di pangkal hidungnya. Di hadapannya, di atas meja mahoni, terhampar sebuah map dokumen tebal berisi laporan berkala yayasan sosial dan pendidikan Islam yang kini dikelola oleh keluarga mereka.

"Hendar, tehnya diminum dulu, nanti keburu dingin," suara lembut Bu Hendar terdengar dari ambang pintu sambil membawa nampan berisi secangkir teh hijau hangat dan piring kecil kue tart.

Pak Hendar mengangguk pelan, melepas kacamatanya, lalu mengambil cangkir teh tersebut. "Terima kasih, Ibu. Sore ini pikiran saya agak penat membaca laporan perkembangan yayasan ini. Banyak hal yang harus dievaluasi, terutama menyangkut manajemen dan integritas pengelolanya," ujar Pak Hendar dengan nada suara yang terdengar berat dan sarat pengalaman bisnis bertahun-tahun.

Bu Hendar duduk di sofa seberang suaminya, menatap sang suami dengan sorot mata penuh perhatian. "Apakah ada masalah lagi dengan mitra kerja yayasan, Yah? Bukankah program beasiswa tahfiz yang kita rintis bersama berjalan lancar?"

"Bukan soal programnya, Bu," helaan napas panjang terlepas dari bibir Pak Hendar. "Tapi soal bagaimana kita menilai manusia dalam kacamata amanah dan syariat. Selama bertahun-tahun di dunia korporasi, saya terbiasa menilai orang dari seberapa besar modal dan keuntungan finansial yang mereka bawa. Tapi setelah membaca ulang proposal-proposal pengembangan dakwah ini, dan melihat bagaimana anak-anak muda pesantren mengelolanya dengan prinsip kejujuran murni, pandangan saya mulai bergeser jauh."

Suasana sore itu terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk kota besar di luar sana. Di usia paruh bayanya, Pak Hendar, seorang pengusaha sukses yang dulunya memandang rendah pemuda idealis seperti Fathian, kini perlahan-lahan mulai merenungkan kembali prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Pak Hendar sore itu bukan sekadar menyelesaikan laporan administrasi yayasan, melainkan meluruskan cara pandangnya sendiri terhadap standar kesuksesan hidup manusia. Di masa lalu, ketika Fathian masih menjadi rekan bisnis muda yang mendekati putrinya, Pak Hendar dengan tegas menolak pemuda tersebut karena menganggap Fathian belum mapan secara finansial dan tidak memiliki masa depan yang jelas di dunia korporasi modern. Namun, seiring berjalannya waktu, kegigihan Fathian menolak tawaran-tawaran kotor, ketulusannya mengelola usaha halal di pesantren, serta kabar mengenai integritas moral sang pemuda yang didengarnya dari berbagai sumber terpercaya telah meruntuhkan ego sang pengusaha senior.

"Ibu masih ingat Fathian, pemuda yang dulu sempat dekat dengan Nayla?" tanya Pak Hendar tiba-tiba, menatap istrinya dengan pandangan yang menyiratkan perenungan mendalam.

Bu Hendar tertegun sejenak, lalu mengangguk pelan. "Tentu saja Ibu ingat, Yah. Anak muda yang santun itu. Kenapa tiba-tiba Ayah menyebut namanya lagi?"

"Kemarin lusa, rekan saya dari Surabaya bercerita banyak tentang perkembangan Fathian di pesantren," lanjut Pak Hendar sambil merapikan lembaran dokumen di hadapannya. "Katanya, Fathian baru saja menolak tawaran kemitraan bernilai miliaran rupiah dari perusahaan besar karena ia mencurigai adanya klausul transaksi yang tidak sesuai dengan prinsip syariah. Bayangkan, Bu... anak muda seusia dia menolak uang sebanyak itu demi menjaga kehalalan rezekinya."

"Itu artinya dia adalah pemuda yang memiliki prinsip moral yang sangat kuat, Yah," timpal Bu Hendar bijak. "Bukan sekadar mengejar materi duniawi yang fana."

"Benar sekali," aku Pak Hendar dengan nada suara yang mulai melunak. "Selama ini, standar sukses yang saya pakai adalah seberapa banyak harta yang bisa dikumpulkan oleh seseorang. Tapi dalam pandangan syariat Islam yang baru saya dalami belakangan ini, ukuran kemuliaan seseorang diukur dari seberapa besar ketakwaan dan kejujurannya dalam memegang amanah. Tujuan saya sore ini adalah merenungkan kembali: apakah penolakan saya terhadap Fathian di masa lalu adalah sebuah ketepatan bisnis, atau justru sebuah kesalahan besar karena saya gagal mengenali mutiara di balik kesederhanaannya?"

Pak Hendar merapatkan kedua tangannya di atas meja, menatap kosong ke luar jendela. Perubahan sudut pandang itu menjadi sebuah revolusi batin yang sangat besar bagi seorang kongkong besar sepertinya.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi ibu kota, memancarkan bias cahaya senja berwarna jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca jendela rumah. Pak Hendar menutup map dokumen yayasannya, beranjak dari sofa, lalu berjalan perlahan menuju beranda belakang rumah yang menghadap ke kolam ikan koi. Transisi dari dunia pemikiran bisnis kapitalis yang agresif menuju perenungan mendalam tentang nilai-nilai syariat Islam menuntut perombakan mental yang luar biasa bagi seseorang yang telah puluhan tahun hidup di tengah pusaran kompetisi materi.

"Yah, mau minum kopi di sini?" tanya Bu Hendar yang menyusul suaminya ke beranda sambil membawa secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan sang suami.

Pak Hendar menerima cangkir tersebut, mengucapkan terima kasih lewat senyuman tipis. "Dulu, Bu... saya selalu mengajarkan pada anak-anak buah saya di kantor bahwa dalam bisnis tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan keuntungan. Saya pikir prinsip itulah yang paling benar untuk bertahan hidup di dunia."

"Tapi dunia ini ternyata jauh lebih luas dari sekadar laporan laba rugi perusahaan, bukan?" sahut Bu Hendar lembut sambil berdiri di samping suaminya, menikmati sempoi angin senja.

"Betul," jawab Pak Hendar mantap. "Ketika saya melihat bagaimana Nayla anak kita memilih jalan hidup yang tenang, menolak kemewahan semu demi menjaga idealismenya, lalu mendengar kisah Fathian yang teguh memegang prinsip halal di pesantrennya, saya merasa tersadar. Selama ini saya sibuk membangun kerajaan harta di dunia, tapi saya hampir lupa mengajarkan anak-anak saya tentang indahnya kekayaan hati yang bersandar pada rida Allah."

Perjalanan transisi mental ini mengubah cara pandang Pak Hendar secara drastis. Ia tidak lagi melihat Fathian sebagai pemuda miskin yang tidak layak bersanding dengan keluarganya, melainkan sebagai sosok pemuda teladan yang memiliki kekayaan spiritual yang jauh melampaui harta benda duniawi. Pak Hendar menyadari bahwa syariat Islam bukan sekadar aturan ibadah ritual, melainkan sistem nilai komprehensif yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk standar kemuliaan seseorang di hadapan Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, suasana di ruang rapat utama kantor pusat milik Pak Hendar tampak kaku dan penuh ketegangan. Di sekeliling meja rapat panjang berlapis kaca, duduk beberapa direktur senior perusahaan mitra yang sedang mempresentasikan rencana ekspansi bisnis properti besar-besaran di kawasan pinggiran kota.

Lihat selengkapnya