
Istikharah Panjang yang Dilakukan Fathian Kembali.
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit malam di ruang perpustakaan pribadi keluarga yang sunyi selalu menghadirkan ketenangan magis, di mana cahaya lampu meja berpenutup hijau tua memancarkan pijar kekuningan yang menerangi tumpukan naskah dan kitab-kitab referensi tebal di atas meja kayu jati tua. Di balik meja sudut berbingkai jendela besar yang memperlihatkan pekatnya malam berbalut kabut tipis di luar sana, Fathian duduk bersila di atas sajadah tebal berwarna hijau zamrud, menatap kosong pada lembaran kertas catatan yang berserakan di hadapannya. Udara malam kota Bandung terasa begitu dingin menggigit, meresap perlahan menembus dinding-dinding rumah tua itu, namun keheningan di dalam ruangan justru terasa sangat pekat, seolah ikut mendengarkan beban pikiran yang berkecamuk di dalam benak pria berusia matang tersebut.
"Kau belum tidur juga, Fathian? Waktu sudah menunjukkan sepertiga malam terakhir, saatnya untuk beristirahat sejenak," suara lembut Fatimah terdengar pelan dari ambang pintu perpustakaan, membuyarkan lamunan panjang sang suami.
Fathian mendongak perlahan, menatap istrinya yang berdiri membawa secangkir teh hangat beruap tipis dengan senyuman penuh pengertian di wajahnya. "Aku belum bisa memejamkan mata, Fatimah. Keputusan besar yang harus aku ambil terkait masa depan lembaga dakwah dan arah hidup keluarga kita ini benar-benar membuat pikirannya terus berputar tanpa henti."
Fatimah melangkah mendekat, meletakkan cangkir teh hangat di atas meja kayu, lalu duduk bersila di sudut sajadah suaminya. "Aku tahu beban di pundakmu tidak ringan, Fathian. Tawaran memimpin lembaga pusat di ibu kota itu datang di saat yang sangat dilematis bagi kita semua."
"Bukan sekadar tawaran jabatan biasa, Fatimah," ucap Fathian lirih sambil menghela napas panjang. "Ini menyangkut amanah besar yang akan mengubah total ritme kehidupan kita, anak-anak, dan ribuan jamaah yang selama ini menggantungkan pembinaan mereka di surau kecil ini. Itulah sebabnya aku kembali bersimpuh di atas sajadah ini malam ini."
Fatimah mengangguk paham, meresapi kedalaman kegelisahan yang dirasakan suaminya. "Dan kau berniat mengulang kembali shalat istikharah itu? Padahal kau sudah melakukannya beberapa malam yang lalu."
"Ya," jawab Fathian tegas namun penuh kerendahan hati. "Keputusan sebesar ini tidak boleh diambil hanya berdasarkan logika manusia atau ambisi pribadi semata. Aku butuh petunjuk mutlak dari Sang Pemilik Semesta, dan aku akan melakukan istikharah panjang malam ini sampai hatiku benar-benar dituntun pada pilihan yang paling dirida-Nya."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Fathian malam itu bukanlah sekadar mencari jalan keluar instan atas dilema karier atau sekadar meredakan kecemasan psikologis akibat tekanan pihak eksternal yang mendesaknya segera memberikan jawaban pasti kepada pengurus pusat di ibu kota. Jauh melampaui urusan gengsi atau materi duniawi semata, ia membawa sebuah misi spiritual yang sangat sakral dan mendalam: ia bertekad untuk membersihkan hatinya dari segala bentuk kepentingan hawa nafsu, keragu-raguan duniawi, dan rasa takut salah langkah, agar ia bisa mendapatkan ketetapan hati yang murni melalui petunjuk Ilahi lewat pelaksanaan salat istikharah panjang yang khusyuk.
"Dengarkan aku, Fatimah," ujar Fathian dengan suara bergetar namun penuh keteguhan saat menatap manik mata istrinya. "Aku tidak ingin melangkah ke ibu kota hanya karena bujuk rayu fasilitas yang lebih besar atau tekanan politik organisasi. Jika kepindahan itu justru menjauhkanku dari keikhlasan dan merusak amanah umat di sini, aku lebih memilih tetap tinggal di kota kecil ini."
Fatimah merespons dengan tatapan teduh, menggenggam lembut tangan suaminya yang terasa dingin. "Aku sangat mendukung ketulusan niatmu itu, Fathian. Apapun keputusan akhir yang kau ambil setelah istikharah panjang ini, aku dan anak-anak akan selalu berdiri di belakangmu untuk mendampingi."
"Tetapi rasa bimbang itu masih menyelimuti hatiku, Fatimah," aku Fathian jujur, mengakui kelemahan dirinya sebagai manusia biasa. "Satu sisi, ada harapan besar dari para ulama sepuh di pusat agar aku membenahi sistem dakwah nasional yang sedang surut. Di sisi lain, ikatan batin dengan jamaah dhuafa dan anak-anak yatim binaan kita di surau ini terlalu kuat untuk ditinggalkan begitu saja."
"Itulah sebabnya istikharah panjang ini menjadi kunci mutlak bagi kita," timpal Fatimah bijak. "Mintalah kepada Allah agar Dia melapangkan dadamu pada pilihan yang benar, bukan pada pilihan yang sekadar terasa menyenangkan di dunia."
Fathian mengangguk dalam-dalam, merasakan ketegasan visi spiritual yang ia tetapkan malam itu semakin mengkristal di dalam batinnya. Ia memiliki tujuan yang jelas: menjadikan salat sunnah istikharah dan munajat panjang di sepertiga malam terakhir sebagai satu-satunya kompas penunjuk arah hidupnya, menolak segala bentuk kompromi duniawi yang dapat menciderai kemurnian niat berdakwah karena Allah SWT.
❖ ❖ ❖
Jarum pendek di jam dinding antik perpustakaan menunjuk angka satu lewat lima belas menit ketika Fatimah beranjak berdiri dari sajadah, pamit membiarkan suaminya sendiri tenggelam dalam keheningan malam untuk memulai rangkaian ibadah istikharahnya. Suasana di dalam ruangan mendadak kembali sunyi senyap, menyisakan deru napas Fathian yang teratur dan desau angin dingin yang menderu pelan di balik jendela kaca luar rumah.
Fathian berdiri perlahan, merapikan letak pakaian koko putihnya, lalu mengambil air wudu di kamar mandi kecil di sudut ruangan untuk menyucikan diri secara lahir dan batin sebelum menghadap Sang Pencipta. Air wudu yang dingin menyentuh kulit wajah dan tangannya, seketika menyegarkan kembali fisik dan pikirannya yang sempat lelah setelah seharian penuh memikirkan masalah umat.
"Allahu Akbar," bisik Fathian lirih saat ia mengangkat kedua tangannya memulai takbiratul ihram, membuka rakaat pertama salat sunnah istikharah dengan penuh kekhusyukan yang mendalam.
Masa transisi dari kebimbangan duniawi yang riuh menuju keheningan total dialog vertikal dengan Allah SWT terjadi begitu cepat di dalam batin Fathian. Setiap gerakan rukuk dan sujud yang ia lakukan malam itu terasa begitu berat namun sarat akan makna penyerahan diri yang mutlak; ia melepaskan seluruh beban jabatan, pujian manusia, dan ketakutan masa depan, menyerahkan segalanya ke hadapan Zat yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di balik masa depan.
"Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan kepindahan ini adalah baik bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku..." doa istikharah itu ia lafal dengan suara tertahan dan air mata yang mulai menetes perlahan membasahi janggutnya di dalam sujud yang panjang.
Fathian memperpanjang durasi sujudnya malam itu, melampaui kebiasaan malam-malam sebelumnya. Di dalam sujud tersebut, ia merasa seolah seluruh beban bumi diangkat dari pundaknya, digantikan oleh ketenangan batin yang luar biasa lembut dan menyejukkan.
Transisi spiritual ini bukan sekadar rutinitas ibadah malam biasa, melainkan sebuah pertarungan batin antara ego manusiawi dan kepasrahan mutlak kepada takdir Tuhan. Dan Fathian bertekad untuk menuntaskan pertarungan itu sampai fajar benar-benar menyingsing di ufuk timur.