
Perantara yang Saleh: Peran Tokoh Agama Menengahi Hubungan Keluarga
---
Pagi yang cerah di Kota Santri Al-Falah disambut dengan semburat cahaya keemasan yang menembus sela-sela jendela kaca ruang tamu utama ndalem. Pukul 08.00 WIB, suasana di dalam ruangan tersebut terasa begitu khidmat dan tenang, dihiasi aroma wangi gaharu yang menguar lembut dari sudut ruangan. Karpet permadani tebal berbulu hijau tua membentang rapi di atas lantai marmer putih, sementara beberapa kursi ukiran jepara tertata melingkar di sekitarnya. Di salah satu sudut meja bundar, sepoci teh melati hangat dan beberapa piring jajanan pasar tradisional tersaji rapi, siap menyambut tamu agung yang dijadwalkan hadir pagi ini dari Yogyakarta.
Zaidan duduk bersila di atas permadani dengan mengenakan koko putih bersih dan sarung batik tulis bernuansa cokelat tua. Wajahnya memancarkan ketenangan yang luar biasa, mencerminkan kestabilan batin yang telah teruji melalui berbagai badai ujian kehidupan sebelumnya. Di sisinya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan kerudung abu-abu muda, menatap pintu utama dengan binar mata yang menyiratkan rasa penasaran bercampur harap. Telepon dari Yogyakarta semalam sempat membuat jantung mereka berdegup kencang, namun berkat prinsip menyucikan niat yang selalu dipegang teguh, kecemasan itu kini telah berubah menjadi kepasrahan yang menenangkan.
"Zaidan, apakah Kiai Abdullah dan rombongan dari Yogyakarta sudah hampir tiba di gerbang?" tanya Nayla pelan, memecah kesunyian sambil merapikan lipatan kain kerudung di bahunya.
Zaidan melirik jam tangan peraknya sekilas sebelum menatap istrinya dengan senyuman hangat. "Sebentar lagi, Nayla. Pak Karto sudah bersiap di depan untuk menyambut kedatangan beliau bersama para pengurus sepuh lainnya."
Suara deru mesin mobil perlahan terdengar memasuki halaman utama pesantren, menandakan rombongan tamu penting yang dinanti-nantikan telah tiba di pelataran ndalem.
❖ ❖ ❖
Bagi Zaidan, pertemuan hari ini bukanlah sekadar urusan birokrasi atau penyerahan dokumen warisan fisik semata, melainkan sebuah misi mulia untuk mendamaikan dan merajut kembali simpul silaturahmi keluarga yang sempat terputus oleh sejarah masa lalu. Target utamanya adalah melibatkan seorang tokoh agama yang saleh dan terpandang sebagai perantara yang bijaksana—Kiai Abdullah—untuk menengahi permasalahan klaim arsip dan hak pengasuhan antara keluarga mereka dengan pihak kerabat di Yogyakarta yang sempat merasa tersisih. Zaidan ingin memastikan bahwa proses rekonsiliasi ini berjalan di atas rel syariat yang adil, transparan, dan penuh kasih sayang, tanpa ada pihak yang merasa dirugikan atau dizalimi sedikit pun.
"Nayla, tujuan kita hari ini sangat jelas," ucap Zaidan dengan suara mantap penuh keyakinan. "Kita ingin Kiai Abdullah membantu menjembatani komunikasi ini dengan seadil-adilnya. Harta dan arsip peninggalan Kakek harus sampai kepada tangan yang benar-benar berhak, tanpa ada sisa sedikit pun rasa sakit hati di antara keluarga besar."
Nayla mengangguk setuju, matanya berbinar menatap suaminya dengan penuh rasa bangga. "Aku sangat mendukungmu, Zaidan. Kehadiran tokoh agama yang saleh dan netral seperti Kiai Abdullah adalah rahmat besar, agar tidak ada celah bagi pihak lain untuk memanfaatkan situasi ini demi kepentingan perpecahan."
"Benar sekali," lanjut Zaidan menjelaskan sambil merapikan dokumen di hadapannya. "Peran perantara yang saleh sangat krusial dalam meredam ego masing-masing pihak. Dengan nasihat-nasihat bijak dari beliau, urusan yang tadinya tampak rumit akan diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang bersih."
"Mari kita sambut kedatangan beliau dengan niat tulus karena Allah," ajak Nayla berdiri perlahan tatkala suara ketukan pintu luar mulai terdengar mendekat.
Zaidan turut bangkit berdiri, merapikan bajunya sejenak sebelum melangkah bersama istrinya menyambut pintu utama yang dibuka oleh Pak Karto dari luar.
❖ ❖ ❖
Pintu kayu berukir itu terbuka lebar, menampilkan sosok lelaki paruh baya berbusana jubah putih dengan sorban hijau melilit rapi di pundaknya—Kiai Abdullah, ulama kharismatik asal Yogyakarta yang dikenal luas sebagai penengah ulung dalam berbagai sengketa keluarga besar di tanah Jawa. Di belakang beliau, tampak pula seorang wanita paruh baya berkerudung hitam yang berjalan dengan kepala tertunduk, didampingi oleh dua orang pengurus yayasan lokal.
"Ahlan wa sahlan, Kiai Abdullah. Suatu kehormatan besar bagi kami atas kehadiran Kiai di pesantren ini," sambut Zaidan dengan takzim, langsung melangkah maju untuk mencium tangan kiai sepuh tersebut.
Kyai Abdullah menyambut uluran tangan Zaidan dengan senyuman ramah yang menyejukkan hati. "Barakallah fiik, Nak Zaidan. Perjalanan jauh ini terasa ringan demi niat menyatukan tali silaturahmi yang sempat merenggang."
Nayla turut maju untuk memberikan salam takzim kepada sang kiai, diikuti oleh sapaan hangat kepada wanita paruh baya yang mendampingi beliau di belakang. "Silakan masuk, Kiai, Ibu. Mari istirahat sejenak di dalam, teh hangat sudah kami siapkan," ucap Nayla ramah.