Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Maaf dalam Bingkai Adab

Permintaan Maaf dalam Bingkai Adab Islami

---

Pukul tiga sore lewat sepuluh menit di hari Selasa yang cerah, suasana di ruang tamu rumah minimalis milik keluarga Fathian di kawasan Bandar Lampung terasa begitu tenang dan sejuk. Sinar matahari sore memantul lembut melalui jendela kaca besar yang berbingkai kayu jati, menyinari lantai keramik putih bersih dan beberapa pot tanaman hias hijau di sudut ruangan. Aroma teh melati hangat berpadu manis dengan wangi kayu gaharu dari dupa kecil yang dibakar di atas meja sudut, menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus menenteramkan jiwa.

Fathian duduk bersila di atas karpet beludru abu-abu terang, mengenakan kemeja koko putih bersih berkerah shanghai yang dipadukan dengan celana bahan hitam rapi serta peci hitam di kepalanya. Di hadapannya, tertata rapi seperangkat cangkir keramik putih berisi teh hangat dan sepiring kecil kue kering tradisional. Wajah Fathian tampak memancarkan ketenangan yang mendalam, meski di balik sorot matanya tersimpan sisa-sisa ketegangan dari berbagai dinamika sosial dan urusan administratif tanah wakaf yang baru saja ia selesaikan bersama para pemuda masjid beberapa hari lalu.

"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua," ucap Fathian pelan, membuka percakapannya dengan nada suara yang sangat santun dan menyejukkan.

Bagi Fathian, hari Selasa ini memiliki makna yang sangat krusial. Setelah melewati berbagai badai kesalahpahaman, intrik organisasi kepemudaan, hingga friksi emosional dengan beberapa pihak yang sempat berselisih paham dengannya di masa lalu, ia memutuskan untuk mengambil langkah besar yang diajarkan oleh syariat Islam: meminta maaf dan meluruskan silaturahmi bukan sekadar karena merasa benar atau salah, melainkan demi menegakkan adab Islami yang tinggi. Fathian meyakini bahwa seorang pemuda yang aktif di jalan dakwah tidak boleh dikuasai oleh ego pribadi atau gengsi duniawi ketika dihadapkan pada kesalahan komunikasi dengan sesama saudara seiman.

"Semoga pertemuan sore ini menjadi jalan pembersih hati bagi kita semua," gumam Fathian dalam hati, meluruskan niatnya semata-mata karena mengharap rida Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah meneguk sedikit teh hangat untuk membasahi tenggorokannya, Fathian merapikan letak buku agenda kecil di atas meja di hadapannya. Hari ini, Fathian menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan berlandaskan prinsip moral yang tinggi: ia ingin mendatangi dan mengundang seorang rekan pemuda senior bernama Kak Hendri—yang sempat bersitegang dengannya dalam rapat koordinasi yayasan wakaf beberapa waktu lalu—untuk menuntaskan segala ganjalan hati melalui bingkai adab Islami yang benar.

"Fathian, apakah Kak Hendri sudah mengonfirmasi kehadirannya sore ini?" tanya Ilham, rekan pengurus muda yang duduk di kursi seberang sambil memegang ponsel pintar.

Fathian mengangguk tenang sambil tersenyum tipis. "Alhamdulillah, tadi beliau sudah membalas pesan singkatku. Kak Hendri bersedia datang kemari ba'da Ashar untuk bersilaturahmi dan meluruskan kesalahpahaman kemarin."

"Baguslah kalau begitu, Fathian. Jujur, suasana di kepengurusan kemarin sempat terasa sangat kaku gara-gara perdebatan sengit soal pengelolaan dana sosial itu," sahut Ilham dengan nada lega yang kentara di wajahnya.

Fathian menarik napas dalam-dalam, menata kembali niat di dalam hatinya. Tujuan utamanya hari ini bukan sekadar mencari pembenaran atas argumen yang ia ajukan dalam rapat lalu, atau memenangkan perdebatan organisasi, melainkan menunjukkan bahwa adab Islami jauh lebih tinggi nilainya daripada ambisi pribadi. Fathian bertekad untuk menjadi pihak yang terlebih dahulu merendahkan hati, meminta maaf atas nada bicara yang mungkin sempat meninggi, dan merangkul kembali ukhuwah Islamiyah yang sempat renggang.

"Kita tidak boleh membiarkan ukhuwah rusak hanya karena perbedaan pendapat yang dibumbui ego," tutur Fathian kepada Ilham dengan suara penuh keyakinan. "Dalam Islam, meminta maaf terlebih dahulu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa seorang mukmin."

❖ ❖ ❖

Azan Ashar berkumandang merdu dari pengeras suara masjid terdekat, memecah kesibukan sore hari di kawasan perumahan tersebut. Suara kumandang azan yang bersahut-sahutan itu langsung direspons oleh Fathian dan Ilham dengan menghentikan sejenak percakapan mereka. Dengan sigap, Fathian mengajak Ilham untuk mengambil air wudu dan bersiap melaksanakan salat Ashar berjemaah di ruang salat keluarga yang bersih dan nyaman di bagian belakang rumah.

Perpindahan dari hiruk-pikuk persiapan teknis pertemuan menuju kesyahduan ibadah salat berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi Fathian. Ia membasuh wajah, tangan, dan kakinya dengan air wudu yang menyegarkan, merasakan setiap tetesan air melunturkan sisa-sisa rasa cemas dan beban mental yang sempat menggelayuti pikirannya menjelang kedatangan Kak Hendri.

"Allah tempat kita bergantung dalam menjaga persaudaraan," gumam Fathian pelan saat merapikan sajadah dan bersiap menunaikan salat.

Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian. Ia menyadari bahwa pertemuan untuk meminta maaf dan merajut kembali ukhuwah tidak akan berjalan berkah jika tidak didahului dengan kepasrahan total kepada Allah SWT. Melalui salat Ashar berjemaah, Fathian melepaskan segala rasa bangga diri, gengsi, dan potensi amarah, menggantinya dengan keikhlasan hati agar setiap kata yang ia ucapkan nanti benar-benar murni karena mengharapkan kedamaian di jalan Allah.

Lihat selengkapnya