
Jawaban Nayla: Keputusan yang Didasarkan pada Shalat Istikharah.
Cahaya lampu meja belajar berbentuk arsitektur klasik memancarkan sinar kuning hangat ke atas permukaan meja marmer putih di sudut ruang baca kediaman keluarga besar Hendar di kawasan Jakarta Selatan. Di luar, angin malam musim kemarau berembus pelan, menerpa dedaunan pohon palem di taman belakang dan menciptakan bayangan gemetar di balik kaca jendela besar yang tertutup rapat. Jam dinding antik berbandul kayu menunjuk tepat pada pukul dua belas malam lewat sepuluh menit, menandakan keheningan total telah merajai seluruh isi rumah. Di ruangan yang dipenuhi deretan rak buku tebal bersampul kulit itu, Nayla duduk sendiri di kursi putar empuk dengan mengenakan pakaian tidur terusan panjang berwarna putih gading dan jubah rajut abu-abu tipis untuk menahan dinginnya AC.
"Nayla, belum tidur juga, Nak?" suara Bu Hendar terdengar pelan dari ambang pintu yang terbuka sedikit. Ibunya melangkah masuk perlahan sambil membawa segelas susu hangat di atas sebuah piring kecil.
Nayla mendongak dari mejanya, menatap sang ibu dengan senyuman tipis yang menyembunyikan sisa-sisa kelelahan mental di wajahnya. "Belum, Bu. Pikiran Nayla masih melayang ke mana-mana. Terlalu banyak hal besar yang berputar di kepala sejak Ayah pulang dari kunjungannya ke pesantren pekan lalu," jawab Nayla dengan nada suara yang terdengar tenang namun sarat beban batin.
Bu Hendar meletakkan segelas susu hangat itu di atas meja baca, lalu mengelus lembut puncak kepala putrinya. "Ibu tahu ini masa-masa yang sangat berat untukmu, Nay. Keputusan besar menyangkut masa depan hidup tidak boleh diambil sembarangan, apalagi melibatkan hati yang pernah terluka."
"Bukan sekadar soal luka masa lalu, Bu," balas Nayla lirih, menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca jendela. "Ini tentang mencari kepastian mutlak di hadapan Sang Pencipta. Selama berhari-hari, Nayla terus terjaga di sepertiga malam, mengetuk pintu langit, dan memohon petunjuk terbaik lewat salat istikharah."
Suasana malam itu begitu sakral bagi Nayla. Di usianya yang telah matang, ia menyadari bahwa pilihan hidup yang akan ia ambil tidak hanya menentukan kebahagiaannya sendiri, melainkan juga menyangkut keistiqomahan iman dan ridanya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
❖ ❖ ❖
Sepeninggal ibunya yang kembali ke kamar untuk beristirahat, Nayla merapikan lembaran kertas catatan di hadapannya. Di atas meja itu terbentang sebuah buku harian khusus tempat ia merangkum seluruh hasil perenungan batin dan petunjuk-petunjuk tak kasat mata yang ia rasakan selama rutin melaksanakan salat istikharah dalam sepekan terakhir. Tujuan utamanya malam ini sangat mutlak: ia ingin membulatkan tekad, mengambil keputusan akhir yang tegas, dan melepaskan segala keraguan batin mengenai kelanjutan hubungannya dengan Fathian setelah sekian lama terpisah oleh takdir dan jalan hidup yang berbeda.
"Ya Allah... tunjukkanlah jalan yang benar, mantapkanlah hatiku pada pilihan yang mendatangkan rida-Mu, dan jauhkanlah aku dari keraguan duniawi," bisik Nayla lirih sambil menadahkan kedua tangannya di atas meja belajar.
Ia membuka halaman buku harian yang memuat rangkuman doa istikharahnya. Selama berhari-hari, ia meminta kemudahan jika Fathian adalah takdir terbaik bagi agama dan dunianya, atau dipalingkan dengan cara yang baik jika hubungan tersebut justru membawa mudarat. Dan di setiap sujud panjangnya pada malam-malam sepi itu, ia selalu merasakan ketenangan batin yang luar biasa setiap kali bayangan Fathian dan keteguhan prinsip sang pemuda di pesantren melintas di dalam ingatannya.
"Nayla, apakah kamu benar-benar siap melangkah kembali ke masa lalu dengan versi diri kalian yang sudah jauh lebih dewasa?" gumam Nayla pada dirinya sendiri, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan debar jantungnya.
Tujuan malam ini bukan lagi menimbang untung rugi secara materi seperti standar orang tuanya di masa lalu, melainkan memastikan bahwa keputusan yang ia ambil murni didasarkan pada petunjuk spiritual yang ia peroleh dari salat istikharah. Ia ingin menjawab lamaran atau isyarat kedatangan kembali Fathian dengan keyakinan penuh tanpa ada keraguan di dalam dadanya.
❖ ❖ ❖
Azan subuh berkumandang nyaring dari masjid terdekat, memecah kesunyian malam dan menyapa fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur ibu kota. Semburat cahaya jingga kemerahan perlahan menerobos celah tirai jendela kamar Nayla. Usai menunaikan salat subuh berjemaah di rumah bersama kedua orang tuanya, Nayla tidak langsung kembali ke kamarnya, melainkan duduk bersila di atas sajadah panjang di ruang keluarga, menikmati kesejukan udara pagi yang menenangkan jiwa.
Transisi dari pergulatan batin sepanjang malam menuju ketenangan mutlak di pagi hari memberikan energi spiritual yang luar biasa bagi Nayla. Ia merasa seluruh beban keraguan yang sempat menghimpit dadanya seolah lenyap disapu bersih oleh dzikir pagi dan kekhusyukan ibadahnya.
"Wajahmu tampak sangat segar pagi ini, Nay," sapa Pak Hendar yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, mengenakan kemeja koko putih bersih dan peci hitam.
Nayla mendongak, lalu tersenyum hangat menyambut kedatangan sang ayah. "Alhamdulillah, Ayah. Rasanya beban di dada Nayla sudah terangkat semuanya setelah bermunajat semalaman."
"Apakah kamu sudah mendapatkan jawaban dari istikharahmu, Nak?" tanya Pak Hendar lembut sambil duduk di kursi sebelah putrinya.
Nayla mengangguk pelan, menatap mata sang ayah dengan pandangan yang penuh keyakinan. "Sudah, Ayah. Allah telah memberikan ketenangan dan petunjuk yang sangat jelas di dalam hati Nayla. Segala keraguan masa lalu sudah hilang sepenuhnya."
"Apapun keputusanmu, Ayah dan Ibu akan mendukung sepenuhnya," tegas Pak Hendar memegang pundak putrinya penuh dukungan. "Ayah sudah melihat sendiri bagaimana Fathian membuktikan integritasnya di pesantren, dan Ayah menyerahkan sepenuhnya pilihan hidupmu pada petunjuk yang Allah berikan lewat salatmu."
Perjalanan transisi mental ini mengukuhkan posisi Nayla. Ia tidak lagi merasa terombang-ambing oleh opini orang lain atau bayang-bayang masa lalu yang rumit; ia kini berdiri di atas kepastian spiritual yang kokoh, siap menyampaikan keputusan finalnya.