Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Menyamakan Visi Rumah Tangga

Matahari baru saja naik sepenggalahan, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di pekarangan ndalem Pondok Pesantren Al-Falah. Pukul 08.30 WIB, suasana di beranda belakang terasa begitu syahdu dan menenangkan, ditemani embusan angin pagi yang membawa kesejukan dari arah lembah pesantren. Di atas meja kayu jati berukir klasik, sepoci teh chamomile hangat dan sepiring pisang rebus tersaji rapi, menebarkan aroma harum yang menggugah ketenangan jiwa. Setelah badai ancaman penyitaan darurat beberapa hari lalu mereda berkat kejelasan dokumen rekonsiliasi bersama Kiai Abdullah, suasana pesantren kini kembali berangsur kondusif dan penuh kedamaian.

Zaidan duduk bersandar di kursi rotan panjang, mengenakan kemeja koko putih polos yang dipadu dengan celana bahan hitam longgar. Wajahnya tampak rileks, namun sorot matanya menyiratkan kedalaman pikiran yang sedang merajut masa depan keluarga kecil mereka. Di hadapannya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis berwarna sage green dan jilbab senada. Wanita itu sedang menuangkan teh ke dalam cangkir keramik kecil dengan gerakan yang lembut dan terukur, membiarkan uap tipis mengepul di antara mereka.

"Udara pagi ini terasa sangat ramah, Zaidan," ucap Nayla membuka percakapan sambil menyodorkan cangkir teh hangat kepada suaminya. "Setelah berminggu-minggu kita dikelilingi ketegangan hukum dan intrik luar, akhirnya kita bisa menikmati waktu senggang tanpa beban pikiran yang berat."

Zaidan menerima cangkir tersebut dengan senyuman tulus. "Alhamdulillah, Nayla. Allah memang sengaja memperlihatkan berbagai badai itu kepada kita agar kita semakin dewasa dalam menilai mana persoalan duniawi yang fana dan mana nilai ukhrawi yang abadi."

Suara santri-santri yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an dari surau utama terdengar sayup-sayup terbawa angin, menambah kekhusyukan suasana pagi yang damai itu.

❖ ❖ ❖

Bagi Zaidan dan Nayla, pengalaman panjang menghadapi konflik keluarga, sengketa arsip Kairo, hingga teror birokrasi memberikan kesadaran mutlak bahwa keutuhan rumah tangga tidak cukup hanya dibangun atas dasar cinta kasih romantis semata. Target utama Zaidan hari ini adalah menyamakan visi dasar rumah tangga mereka secara mendalam—memastikan bahwa komitmen hidup bersama tidak bergeser dari poros utamanya, yaitu mencari ridha Allah di atas segala-galanya, melampaui ambisi jabatan yayasan, materi, maupun pengakuan sosial.

"Nayla, aku ingin hari ini kita duduk berdua bukan sekadar minum teh, melainkan untuk meluruskan dan menyamakan visi jangka panjang rumah tangga kita," kata Zaidan dengan suara mantap namun penuh kelembutan. "Aku tidak ingin kesibukan mengurus pesantren dan dinamika yayasan membuat kita lupa pada tujuan utama pernikahan kita."

Nayla menatap suaminya dengan binar mata yang memancarkan persetujuan mendalam. "Aku sangat sepakat denganmu, Zaidan. Terkadang hiruk-pikuk dunia luar membuat kita tanpa sadar terseret untuk memenuhi ekspektasi orang lain, alih-alih memenuhi harapan Allah terhadap keluarga kita."

"Tujuan kita menikah dari awal adalah membentengi diri dan mencari jalan terdekat menuju surga-Nya," lanjut Zaidan menegaskan kembali prinsip dasarnya. "Maka segala keputusan besar ke depan, baik dalam pengelolaan harta warisan maupun pendidikan anak-anak kita kelak, harus bermuara pada satu pertanyaan utama: apakah ini mendatangkan ridha Allah atau tidak?"

Nayla meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat dengan penuh kehangatan. "Mari kita jadikan prinsip itu sebagai kompas abadi rumah tangga kita, Zaidan. Apapun badai yang datang di masa depan, selama visi kita sama di hadapan Allah, kita tidak akan pernah tersesat."

❖ ❖ ❖

Percakapan penuh visi spiritual itu mendadak diwarnai oleh derap langkah kaki yang teratur namun tergesa dari arah pintu penghubung ndalem. Pak Karto muncul dengan membawa sebuah map tebal berisi laporan berkala kegiatan santri dan surat-surat masuk yayasan. Begitu melihat Zaidan dan Nayla sedang serius berbincang, pengurus senior itu langsung memperlambat langkahnya dan membungkuk hormat.

"Maaf mengganggu waktu santai Gus Zaidan dan Neng Nayla pagi ini," sapa Pak Karto dengan nada takzim. "Saya hanya ingin menyerahkan rekapitulasi laporan bulanan pesantren sekaligus surat undangan dari dinas kebudayaan provinsi."

Zaidan meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu tersenyum menyambut kedatangan Pak Karto. "Tidak apa-apa, Pak Karto. Silakan duduk sejenak atau letakkan saja di meja. Ada hal penting apa dari dinas kebudayaan?"

Pak Karto meletakkan map tersebut dengan hati-hati di hadapan Zaidan. "Surat itu berisi permintaan agar pihak yayasan kita bersedia menjadi tuan rumah seminar nasional tentang pelestarian naskah kuno nusantara bulan depan, mengingat arsip Kairo yang kita miliki dinilai sangat bersejarah."

Nayla mengerutkan keningnya, melirik sekilas ke arah map tersebut. "Seminar nasional naskah kuno? Berarti pesantren kita akan kembali menjadi pusat perhatian publik skala besar."

"Benar, Neng," jawab Pak Karto mengangguk. "Dan pihak dinas berharap Gus Zaidan bisa memberikan keynote speech utama dalam acara tersebut."

Lihat selengkapnya