Pukul empat sore lewat dua puluh menit di hari Kamis yang cerah, suasana di ruang keluarga rumah Rania di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu hangat dan menenangkan. Sinar matahari sore memantul lembut melalui jendela kaca besar yang berbingkai kayu jati, menyinari lantai keramik putih bersih dan beberapa pot tanaman hias hijau di sudut ruangan. Aroma teh melati hangat berpadu manis dengan wangi kayu gaharu dari dupa kecil yang dibakar di atas meja sudut, menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus menenteramkan jiwa.
Rania duduk bersila di atas karpet beludru abu-abu terang, mengenakan gamis polos berwarna sage green dengan jilbab instan senada yang menutup auratnya secara sempurna. Di hadapannya, tertata rapi seperangkat cangkir keramik putih berisi teh hangat dan buku agenda harian bersampul kulit sintetis cokelat tua. Wajah Rania tampak memancarkan ketenangan yang mendalam, meski di balik sorot matanya tersimpan sisa-sisa getaran emosional dari berbagai dinamika kehidupan yang telah ia lalui bersama Fathian dalam koridor syariat Islam yang lurus.
"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa menuntun langkah kita dalam ketaatan," ucap Rania pelan, membuka percakapannya dengan nada suara yang sangat santun kepada ibunya yang duduk di sofa sebelah.
Bagi Rania, hari Kamis ini memiliki makna yang sangat sakral dan menentukan. Setelah melalui berbagai proses panjang pembersihan hati, penyembuhan luka masa lalu, dan penataan ulang niat karena Allah, kini tiba saatnya ia dan keluarga besar membicarakan langkah selanjutnya yang paling dinanti: merencanakan waktu khitbah (peminangan) yang sesuai dengan sunah dan tuntunan Rasulullah SAW. Rania meyakini bahwa menyegerakan pernikahan melalui jalur yang bersih dari maksiat adalah bentuk penjagaan kehormatan diri yang paling mulia.
"Semoga Allah memberkahi setiap ikhtiar yang kita tempuh agar dimudahkan jalannya," gumam Rania dalam hati, meluruskan niatnya semata-mata mengharap rida Sang Pencipta.
❖ ❖ ❖
Sesaat setelah meneguk sedikit teh hangat untuk membasahi tenggorokannya, Rania membuka lembaran baru di buku agendanya dengan goresan pena yang tegas. Hari ini, Rania bersama keluarganya menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: ia ingin merencanakan jadwal khitbah yang sederhana, khidmat, dan sepenuhnya merujuk pada tuntunan Rasulullah SAW—menghindari kemubaziran, menjaga batasan interaksi, serta memprioritaskan keberkahan di atas kemeriahan seremonial duniawi.
"Ibu, bagaimana kalau kita tetapkan waktu khitbahnya diselenggarakan pada akhir pekan depan, ba'da zuhur, agar keluarga dari seberang kota bisa hadir tanpa terburu-buru?" tanya Rania lembut kepada ibunya sambil menunjuk catatan tanggal di buku agenda.
Ibunya tersenyum hangat, mengelus rambut Rania penuh kasih sayang. "Ibu setuju sekali, Nak. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan maharnya dan paling sederhana prosesinya. Khitbah pun sebaiknya tidak perlu dibuat rumit."
"Insya Allah, aku ingin semuanya berjalan sesuai sunah, Bu. Tanpa ada unsur riya atau pemborosan yang tidak perlu," sahut Rania dengan nada penuh keyakinan.
Fokus tujuan Rania hari ini sangat jelas: memastikan bahwa proses peminangan dirinya oleh Fathian tidak menyimpang dari adab Islam. Ia tidak ingin terjebak dalam tren sosial yang menuntut pesta megah atau tradisi memberatkan. Tujuannya adalah menghadirkan ketenangan, meminta restu yang tulus dari orang tua, dan mengikat janji suci di bawah naungan rida Allah SWT. Buku agenda di hadapannya menjadi saksi atas perencanaan matang yang ia susun dengan penuh kesadaran dan keikhlasan jiwa.
❖ ❖ ❖
Azan Ashar berkumandang merdu dari pengeras suara musala terdekat, memecah kesibukan sore hari di kawasan perumahan tersebut. Suara kumandang azan yang bersahut-sahutan itu langsung direspons oleh Rania dan ibunya dengan menghentikan sejenak perbincangan mereka mengenai jadwal khitbah. Dengan sigap, Rania merapikan buku agendanya, mengambil mukena bersih, dan bersiap melaksanakan salat Ashar berjemaah di ruang keluarga yang telah disulap menjadi tempat salat yang nyaman.
Perpindahan dari hiruk-pikuk perencanaan teknis khitbah menuju kesyahduan ibadah salat berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi Rania. Ia mengambil air wudu di kamar mandi dengan penuh kesadaran, merasakan setiap tetesan air yang membasuh wajah dan tangannya melunturkan sisa-sisa rasa gugup atau cemas yang sempat bergemuruh di dadanya.
"Allah tempat kita bergantung dalam menentukan setiap ketetapan takdir," gumam Rania pelan saat membentangkan sajadah beludru hijau tuanya.
Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Rania. Ia menyadari bahwa perencanaan khitbah sehebat apa pun tidak akan mendatangkan ketenangan jika tidak disandarkan secara mutlak kepada Allah SWT. Melalui salat Ashar berjemaah bersama sang ibu, Rania melepaskan segala ambisi pribadi, kekhawatiran masa depan, dan keraguan duniawi, menggantinya dengan kepasrahan total agar setiap tahapan menuju pernikahan sucinya senantiasa dibimbing dan diridai oleh Sang Pencipta.
Selesai salat dan dzikir singkat, suasana rumah kembali tenang. Tepat pada pukul empat lewat empat puluh lima menit, suara ketukan pintu depan terdengar, disusul dengan ucapan salam dari Fathian yang datang bersama seorang paman sebagai perwakilan keluarga untuk membicarakan teknis waktu khitbah secara langsung. Transisi fisik dari ruang ibadah menuju ruang tamu dipenuhi oleh langkah sigap Rania dan ibunya untuk menyambut kedatangan rombongan tamu agung tersebut dengan adab Islami yang santun.
❖ ❖ ❖