
Menjaga Kesucian Masa Tunggu (Khitbah) Tanpa Pendekatan Batil.
Sore itu, Kota Bandar Lampung kembali disapa oleh langit senja yang memancarkan bias keemasan di antara celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman rumah keluarga Fathian. Jam dinding antik di ruang tengah menunjukkan pukul empat lewat empat puluh menit. Suasana rumah terasa begitu syahdu dan menenangkan, diwarnai oleh cahaya lampu pijar kuning hangat yang mulai dinyalakan menyambut kedatangan maghrib. Di sudut ruang keluarga yang bersekat tirai tipis putih, Nayla duduk bersila di atas karpet beludru abu-abu, mengenakan gamis panjang berwarna hijau lumut senada dengan jilbab syar'i menjuntai menutupi dadanya.
Di hadapannya, sebuah meja kayu kecil menopang sebuah laptop terbuka yang menampilkan draf naskah tulisan serta sebuah risalah tentang adab pranikah dalam Islam. Nayla menarik napas panjang, meresapi keheningan sore yang memberi ruang bagi jiwanya untuk kembali merapat kepada Sang Pencipta. Masa penantian setelah proses khitbah (lamaran) resmi diterima kini telah berjalan selama beberapa pekan. Di tengah fase penantian yang sering kali diuji oleh rasa penasaran dan godaan modern, Nayla dan Farhan berkomitmen penuh untuk menjaga kesucian masa tunggu ini tanpa mendekati hal-hal yang batil.
"Nayla, Nak, air teh poci hangatnya sudah siap di dapur. Tolong bawa ke depan ya buat Abah yang baru pulang dari surau," suara lembut Salma terdengar dari arah dapur, memecah lamunan Nayla yang sedang menatap titik-titik cahaya senja di kaca jendela.
"Iya, Emak. Sebentar ya," sahut Nayla dengan nada lembut, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap rendah dan santun sesuai adab yang ia pelajari.
Ia menutup laptopnya perlahan, merapikan jilbabnya sejenak di depan cermin dinding kecil dekat ruang tamu, lalu melangkah ringan menuju dapur. Setiap langkah kaki Nayla di dalam rumah terasa begitu berhati-hati, mencerminkan sebuah ketenangan batin yang tidak mudah tergoyahkan oleh tren pergaulan bebas masa kini. Di luar sana, masa khitbah sering kali dianggap sebagai lampu hijau bagi pasangan untuk bebas berduaan, berpegangan tangan, atau berkirim pesan romantis tanpa batas. Namun, Nayla dan Farhan memilih jalan yang diridhai Allah—menjaga kesucian ikatan dengan batasan syariat yang ketat.
❖ ❖ ❖
Nayla kembali ke ruang tengah membawa nampan berisi teko tanah liat dan dua cangkir teh hangat beraroma melati. Ia meletakkannya di atas meja kayu di hadapan ayahnya, Fathian, yang baru saja duduk di kursi rotan usang sambil melepas peci hitamnya. Tujuan Nayla di masa penantian khitbah ini sangat jelas dan terpatri kuat dalam benaknya: ia ingin menjaga kehormatan diri (iffah) secara total, menepis segala bentuk pendekatan yang batil seperti khalwat (berdua-duaan), ikhtilath (bercampur baur tanpa batas), maupun komunikasi berlebihan yang tidak ada hajat syar'i-nya, demi mencari keberkahan rumah tangga kelak.
"Teh hangatnya, Bah. Masih panas," kata Nayla sambil menuangkan air teh ke dalam cangkir ayahnya dengan sikap takzim dan penuh khidmat.
Fathian tersenyum hangat, menatap putri sulungnya dengan binar mata penuh rasa bangga. "Alhamdulillah, terima kasih, Nak. Udara sore ini memang paling pas ditemani teh buatanmu."
"Abah, kemarin Farhan sempat mengirim pesan menanyakan jadwal pertemuan keluarga untuk membahas persiapan akhir akad," ujar Nayla pelan sambil duduk bersimpuh rapi di dekat kursi ayahnya. "Dia menyampaikan pesannya melalui perantara ustadz, tidak langsung ke nomor pribadi Nayla."
Fathian mengangguk-angguk paham, garis senyum di wajahnya semakin melebar. "Bagus sekali sikap pemuda itu. Menjaga komunikasi lewat wali atau perantara di masa khitbah menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada keluarga kita, sekaligus membuktikan integritas agamanya."
Mendengar dukungan ayahnya, hati Nayla merasa berbunga-bunga dalam ketenangan yang hakiki. Tujuan utamanya bukan mencari kepuasan emosional murahan di masa penjajakan, melainkan meraih ridha Allah semata melalui jalan sunnah yang ia pilih dengan kesadaran penuh. Ia tahu betul bahwa kesucian pernikahan sangat ditentukan oleh bagaimana cara pasangan tersebut menjaga batas-batas Allah sebelum akad diucapkan.
❖ ❖ ❖
Waktu beranjak maghrib ketika rintihan angin sore di luar mulai mereda, menyisakan keheningan yang khusyuk di sekitar lingkungan perumahan. Suara azan Maghrib berkumandang bersahutan dari surau-surau, memanggil setiap hamba untuk menghadap kepada Sang Pencipta. Fathian beranjak terlebih dahulu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sementara Nayla bergegas merapikan sajadah panjang di ruang tengah dan mengenakan mukena putih bersih miliknya.
Selepas menunaikan shalat Maghrib berjamaah bersama keluarga di rumah, suasana malam terasa begitu damai. Emak sibuk menyiapkan makan malam sederhana di dapur berupa sayur bayam dan ikan asin goreng kesukaan Abah, sementara Nayla duduk kembali di meja belajarnya untuk melanjutkan membaca lembaran-lembaran kitab fiqih keluarga.
"Nayla, malam ini tidak ada pesan masuk yang aneh-aneh kan dari calon suamimu?" tanya Emak setengah berteriak dari arah dapur sambil merapikan piring makan.
"Tidak ada, Emak. Farhan sangat menghormati batasan yang kita sepakati. Semua koordinasi persiapan pernikahan selalu melibatkan perantara keluarga dan ustadz pembimbing," jawab Nayla setengah berteriak lembut dari ruang tengah.
Bagi Nayla, masa khitbah bukanlah masa bebas hambatan untuk melanggar aturan agama. Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan garis panduan yang jelas bahwa seorang wanita yang sedang dipinang tetaplah orang asing bagi calon suaminya hingga akad nikah sah diucapkan. Di dalam rumah yang tenang ini, Nayla merasa memiliki ruang privat yang luas untuk menata kembali niat, memperkuat doa, serta membersihkan hati dari ambisi duniawi yang fana sebelum resmi menjadi seorang istri.
Ia membuka halaman kitab di hadapannya, lalu membaca sebuah bab yang membahas tentang keutamaan menjaga kesucian hati dan fisik selama masa penantian pernikahan. Setiap kalimat yang ia baca terasa seperti tetesan air sejuk yang membasahi akar keimanannya, membuatnya semakin yakin bahwa menjaga batasan di masa khitbah adalah kunci keberkahan rumah tangga.
❖ ❖ ❖
Di tengah keasyikannya meresapi bacaan kitab, tiba-tiba suara dering ponsel yang diletakkan di atas meja berdering nyaring, memecah kesunyian malam di kamar Nayla. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing—sebuah akun yang menggunakan foto profil seorang perempuan muda yang mengaku sebagai kerabat jauh dari keluarga Farhan.
Nayla sejenak ragu apakah harus membaca pesan tersebut, namun karena penasaran, ia akhirnya membuka aplikasi pesan pada layar ponselnya.