Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #48

Detik Penuh Sujud Syukur

Malam-Malam Terakhir Sebelum Akad: Detik Penuh Sujud Syukur.

Malam itu, Kota Bandar Lampung terbungkus dalam selimut keheningan yang syahdu, diwarnai oleh langit kelam tanpa bintang dan desau angin malam yang berhembus lembut melewati celah-celah ventilasi rumah keluarga Fathian. Jam dinding antik di sudut ruang tengah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit dini hari. Suasana di dalam rumah terasa begitu khusyuk, jauh dari riuhnya persiapan pernikahan yang melelahkan sepanjang hari kemarin. Di sudut ruang keluarga yang bersekat tirai tipis putih, Fathian duduk bersila di atas sajadah tebal berwarna hijau tua, mengenakan sarung katun tua dan kemeja koko putih polos yang bagian lengannya sudah dilipat sekenanya.

Cahaya lampu pijar kuning temaram dari sudut ruangan memantulkan bayangan panjang di atas lantai keramik putih bersih, menciptakan atmosfer yang sangat mendukung untuk bermunajat. Di ruangan sebelah, Salma dan Nayla tengah menyelesaikan sisa-sisa persiapan perlengkapan akad yang akan dilangsungkan esok pagi. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma sisa wangi melati segar yang diletakkan di atas meja tamu sebagai bagian dari tradisi penyambutan besan.

"Masih belum tidur, Fath?" suara lembut Salma terdengar dari arah pintu kamar utama. Salma melangkah pelan mendekati suaminya, mengenakan mukena putih bersih yang baru saja selesai ia lipat usai melaksanakan shalat malam.

Fathian mendongak, menatap istrinya dengan senyuman tipis yang menyembunyikan rasa haru mendalam di balik kerutan wajahnya. "Belum, Sal. Rasanya mata ini enggan terpejam. Malam-malam terakhir sebelum akad ini terasa begitu sakral dan penuh dengan desiran rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata."

"Aku juga merasakannya, Mas," balas Salma sambil duduk bersimpuh di samping suaminya di atas karpet. "Tidak terasa, putri sulung kita yang dulu kecil kini esok hari akan resmi melangkah ke gerbang pernikahan."

"Waktu berjalan begitu cepat, Sal. Perjalanan panjang penuh ujian, dari krisis toko hingga proses penantian yang dijaga kesuciannya, akhirnya mengantar kita pada malam penuh sujud syukur ini," ujar Fathian lirih sambil menatap lembaran Al-Qur'an kecil yang terbuka di hadapannya.

Suasana kembali hening sejenak, membiarkan desau angin malam menjadi saksi atas detik-detik terakhir penantian panjang keluarga kecil tersebut sebelum fajar pernikahan menyingsing.

❖ ❖ ❖

Fathian menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam mengisi rongga dadanya sebelum ia kembali menengadahkan kedua tangannya dalam doa. Tujuan utama Fathian di malam-malam terakhir menjelang akad ini sangat spesifik dan penuh kepasrahan: ia ingin memperbanyak sujud syukur, memohon perlindungan dan keberkahan mutlak dari Allah untuk kehidupan rumah tangga putrinya kelak, serta menyerahkan segala urusan setelah sekian lama berikhtiar dengan sekuat tenaga.

"Sal, tujuan utamaku malam ini bukan lagi memikirkan urusan teknis resepsi atau tamu undangan yang akan datang besok," kata Fathian sambil menatap lurus ke arah sajadah di hadapannya. "Semua urusan dunia itu sudah diatur sedemikian rupa. Fokusku malam ini adalah membersihkan hati dan memperbanyak sujud syukur kepada-Nya."

"Alhamdulillah, semua persiapan akad memang sudah beres, Mas. Farhan dan keluarganya juga sudah tiba di hotel dekat sini sejak sore tadi dengan selamat," timpal Salma menimpali dengan nada suara yang sangat tenang dan menenangkan.

"Bukan sekadar beres, Sal. Tapi aku merasa lega karena kita berhasil mengantarkan Nayla menuju pintu pernikahan tanpa melanggar batasan syariat," aku Fathian jujur, jemarinya meraba tepi sajadah dengan penuh penghayatan. "Targetku malam ini ada tiga: memperpanjang sujud tahajud, mendoakan keselamatan rumah tangga Nayla dan Farhan, dan memohon keikhlasan hati untuk melepas putri kita berbakti kepada suaminya."

Salma mengangguk menyetujui setiap poin yang disebutkan suaminya, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Itu adalah doa terbaik dari seorang ayah, Mas. Semoga Allah meridhai setiap sujud malam kita."

Fathian kembali menundukkan kepalanya, memulai rangkaian rakaat malam terakhir sebagai ayah dari seorang gadis rumahan yang esok hari akan berganti status. Setiap gerakan shalat yang ia lakukan terasa begitu berat sekaligus membahagiakan, meresapi makna di balik setiap ayat suci yang dibisikkan dalam keheningan dini hari.

❖ ❖ ❖

Waktu bergeser mendekati pukul dua pagi. Suara jangkrik di luar rumah perlahan meredam, menyisakan keheningan malam yang semakin pekat dan khusyuk. Fathian masih tekun menyelesaikan rakaat terakhir tahajudnya, sementara Salma beranjak menuju kamar Nayla untuk melihat kondisi putri sulungnya yang sedari tadi sibuk merapikan diri dan menenangkan debaran jantungnya.

Pintu kamar Nayla terbuka sedikit. Di dalam kamar yang diterangi cahaya lampu tidur keemasan, Nayla duduk bersimpuh di atas sajadah putihnya, mengenakan mukena katun berenda lembut. Wajahnya tampak bersih tanpa riasan, memancarkan ketenangan batin yang luar biasa setelah berjam-jam menghabiskan malam dengan bermunajat dan membaca lembaran-lembaran suci Al-Qur'an.

"Belum tidur juga, Neng?" tanya Salma lembut sambil melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur putrinya.

Nayla mendongak, tersenyum manis kepada ibunya. "Belum, Mak. Rasanya kantuk ini hilang entah kemana. Jantung Nayla dari tadi berdegup kencang, antara rasa cemas menghadapi esok hari dan rasa syukur yang teramat sangat."

"Itu wajar sekali, Neng. Menjelang detik-detik akad, setiap calon pengantin pasti merasakan gejolak batin yang sama," ucap Salma menenangkan sambil mengelus pucuk kepala putrinya yang tertutup mukena. "Transisi dari kehidupan masa gadis di rumah ini menuju babak baru bersama suami adalah perjalanan terindah yang disyariatkan agama."

Bagi Nayla, masa-masa akhir di rumah kedua orang tuanya ini memberikan kesadaran batin yang sangat mendalam. Transisi batin dari seorang gadis rumahan yang pemalu menjadi seorang istri yang siap mengemban amanah rumah tangga ditempa melalui kesabaran panjang.

"Nayla merasa sangat beruntung punya Abah dan Emak yang selalu membimbing di jalan sunnah," kata Nayla dengan suara bergetar menahan haru. "Tanpa dukungan kalian, Nayla mungkin tidak akan sekuat ini."

Salma merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan hangat seorang ibu. "Kita sama-sama belajar, Nak. Mari kita sambut hari esok dengan hati yang bersih dan penuh sujud syukur."

Lihat selengkapnya