Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Mengikhlaskan Masa Lalu

Mengikhlaskan Masa Lalu Sepenuh Hati

Cahaya matahari senja menggantung rendah di ufuk barat Jakarta, menumpahkan semburat jingga kemerahan yang memantul indah di atas permukaan kolam renang minimalis di halaman belakang kediaman keluarga besar Hendar. Suasana sore itu terasa begitu syahdu, diselingi oleh suara desau angin yang menghempas dedaunan pohon mangga serta sayup-sayup azan maghrib yang mulai berkumandang dari masjid terdekat. Di beranda belakang yang berlantai kayu jati, Fathian duduk bersila di atas kursi taman berbalut kain putih, mengenakan kemeja koko abu-abu muda dengan peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya. Di hadapannya, secangkir teh jahe hangat mengepulkan uap tipis ke udara yang mulai mendingin.

"Fathian, lelah sekali ya seharian mengurus persiapan akad besok?" suara lembut Bu Hendar terdengar dari arah pintu kaca sambil membawa setoples kue kering buatan rumah.

Fathian mendongak perlahan, menyunggingkan senyuman hangat kepada calon ibu mertuanya. "Alhamdulillah tidak, Bu. Justru hati saya merasa begitu lapang dan tenang. Rasanya seperti ada beban berat yang perlahan-lahan terangkat dari pundak saya sejak sore tadi," jawab Fathian dengan nada suara yang tenang dan penuh ketulusan.

Bu Hendar meletakkan toples kue di atas meja, lalu duduk di kursi seberang calon menantunya. "Ibu sangat kagum melihat keteguhan hatimu, Nak. Tidak mudah bagi seorang pemuda seusiamu melewati badai kehidupan yang begitu hebat, lalu berdiri di sini dengan senyuman yang tulus tanpa ada dendam di masa lalu."

"Semua itu karena pertolongan Allah, Bu," balas Fathian lembut sambil menatap hamparan rumput hijau di hadapannya. "Masa lalu, sekelam apa pun kenangannya, adalah sekolah terbaik yang mengajarkan saya arti keikhlasan."

Suasana senja itu menjadi saksi bisu detik-detik terakhir sebelum lembaran hidup Fathian bertransformasi sepenuhnya. Di ambang hari pernikahannya dengan Nayla, Fathian tidak lagi membawa beban luka lama, melainkan jiwa yang telah dibersihkan oleh air mata penyesalan, zikir, dan kepasrahan mutlak kepada Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Fathian di penghujung senja itu bukan lagi memikirkan urusan teknis pernikahan atau persiapan esok hari, melainkan menuntaskan proses penyucian batin yang paling mendasar: mengikhlaskan masa lalu sepenuhnya. Fathian menyadari bahwa untuk membangun rumah tangga yang suci dan diridai Allah bersama Nayla, ia tidak boleh menyisakan secuil pun rasa sakit, kebencian, atau penyesalan terhadap orang-orang yang pernah menzalimi atau merendahkannya di masa lalu, termasuk bayang-bayang kegagalan bisnis dan penolakan mentah dari keluarga Nayla bertahun-tahun silam.

"Fath... apa kamu benar-benar sudah melupakan semua kepahitan yang dulu mereka perbuat padamu?" tanya Nayla yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu, berjalan mendekat dengan mengenakan gamis sederhana berwarna soft pink dan selendang senada.

Fathian mendongak, menatap mata wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya dengan pandangan penuh cinta dan ketenangan jiwa. "Bukan sekadar melupakan, Nay... tapi mengikhlaskannya karena Allah. Kalau aku masih menyimpan dendam atau rasa sakit hati pada masa lalu, bagaimana mungkin aku bisa membuka lembaran baru dengan hatiku yang utuh untukmu?"

Nayla menarik kursi di samping Fathian, lalu duduk dengan mata berkaca-kaca menahan haru. "Kamu tahu, Fath? Dulu aku sempat takut kamu akan membenci keluargaku selamanya atas apa yang Ayah lakukan padamu di masa lalu."

"Ayahmu adalah jalan takdir terbaik yang Allah pilih untuk menguji kesabaran dan keikhlasanku, Nay," ucap Fathian bijak. "Tanpa penolakan beliau di masa lalu, mungkin aku tidak akan pernah belajar arti perjuangan yang sesungguhnya di pesantren, dan mungkin aku tidak akan menjadi pria yang pantas untuk mendampingimu hari ini."

Tujuan Fathian sore itu tercapai dengan sempurna. Di hadapan wanita tercintanya, ia berhasil melenyapkan sisa-sisa bayang masa lalu, menutup buku lembaran lama dengan doa kebaikan untuk siapa saja yang pernah menyakitinya, dan memantapkan niat sucinya semata-mata karena mengharap rida Allah Subhanahu wa Ta'ala.

❖ ❖ ❖

Matahari sepenuhnya tenggelam, menggantikan bias jingga senja dengan pekatnya malam yang bertabur bintang di langit ibu kota. Usai melaksanakan salat isya berjemaah di musala dekat rumah bersama Pak Hendar dan para kerabat yang datang dari jauh, Fathian meminta izin untuk menyepi sejenak di kamar tamu yang disiapkan khusus untuknya. Transisi dari perbincangan hangat di beranda sore tadi menuju keheningan total di dalam kamar pada malam menjelang hari akad membawa Fathian pada fase kontemplasi spiritual yang paling mendalam sepanjang hidupnya.

"Fathian, kalau butuh apa-apa, panggil Ibu ya," ucap Bu Hendar lewat celah pintu yang terbuka sedikit sebelum beranjak tidur.

"Baik, Bu. Terima kasih banyak," balas Fathian sopan dari atas sajadah yang baru saja ia bentangkan.

Ia mematikan lampu utama kamar, membiarkan cahaya kuning temaram dari lampu tidur kecil menerangi ruangan minimalis tersebut. Di atas sajadah empuk berwarna hijau tua, Fathian duduk bersila, menutup matanya rapat-rapat, dan mulai meresapi detak jantungnya sendiri. Transisi malam itu terasa begitu magis; pikirannya tidak lagi melayang pada urusan duniawi, target bisnis, atau kecemasan sosial, melainkan sepenuhnya terpusat pada dzikir memuji kebesaran Allah yang telah menuntun langkah kakinya hingga titik ini.

"Ya Allah... Engkau zat yang membolak-balikkan hati manusia," bisik Fathian lirih di dalam sujud pertamanya malam itu. "Jika dahulu Engkau uji aku dengan kepahitan kehilangan, maka hari ini Engkau beri aku kemuliaan yang tak ternilai harganya. Jadikanlah aku hamba yang senantiasa bersyukur."

Perjalanan transisi batin ini membentangkan jembatan kokoh antara masa lalu yang penuh luka dan masa depan yang penuh berkah. Fathian benar-benar merasakan ketenangan jiwa yang mutlak, sebuah titik nol di mana seluruh amarah dan kekecewaan lebur tak bersisa, digantikan oleh keikhlasan hati yang seluas samudra.

Lihat selengkapnya