Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

Undangan Pernikahan yang Sederhana

Undangan Pernikahan yang Sederhana dan Bebas dari Tabarruj.

Pukul delapan pagi di hari Sabtu yang cerah selalu menghadirkan kesejukan yang menenangkan di pelataran halaman rumah kediaman keluarga besar Malik, yang terletak di kawasan pinggiran kota Bandung yang asri. Cahaya matahari pagi meronai dedaunan hijau di pekarangan, memantulkan bias keemasan ke atas hamparan teras rumah yang bersih dari segala dekorasi berlebihan. Aroma wangi kertas daur ulang berpadu lembut dengan harumnya teh tubruk hangat di atas meja kayu, menciptakan suasana persiapan yang tenang namun sarat akan makna bagi siapa saja yang berada di sana.

"Bagaimana, Malik? Apakah tumpukan amplop undangan daur ulang ini sudah diperiksa kembali isinya sebelum dimasukkan ke dalam keranjang?" tanya Pak Malik, sang ayah, sambil merapikan tumpukan kertas undangan bertekstur alami di atas meja bambu.

Malik mendongak perlahan dari pekerjaannya, menatap tumpukan lembar undangan sederhana tanpa foto berlebihan dengan senyuman penuh kepuasan. "Sudah sangat rapi, Ayah. Tidak ada hiasan yang mencolok, dan kalimat di dalamnya murni menggunakan bahasa yang santun serta mencantumkan pengingat waktu shalat berjemaah."

Pak Malik tersenyum bangga, menepuk pelan pundak putranya. "Bagus sekali, Nak. Undangan pernikahan adalah pintu gerbang pertama yang menunjukkan arah dan prinsip hidup rumah tangga kalian kelak."

Malik mengangguk takzim, meresapi setiap petuah bijak sang ayah. Hari itu adalah hari distribusi terakhir undangan pernikahan mereka, sebuah prosesi kecil yang sarat akan nilai-nilai prinsip syariat. Di sudut teras, Syafiqah—calon istrinya—tampak duduk tenang bersama ibunya, sibuk menyortir daftar nama kerabat dan tetangga yang akan dikirimi undangan fisik secara langsung tanpa perantara digital yang berlebihan.

"Mas Malik, apakah daftar nama untuk tetangga sekitar surau sudah beres?" tanya Syafiqah dengan suara lembut namun tegas.

"Sudah selesai, Syafiqah. Semuanya aman," jawab Malik mantap.

Suasana di teras rumah itu terasa begitu khidmat, diisi oleh desau angin pagi yang sejuk dan suara tawa renyah anak-anak tetangga yang bermain di sekitar halaman. Malik menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa setiap detail kecil dari undangan tersebut adalah cerminan dari komitmen mereka untuk menjaga pernikahan tetap suci dari segala bentuk kemewahan yang sia-sia.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Malik dan Syafiqah pagi itu bukanlah sekadar mencetak ribuan lembar undangan mewah berlapis emas demi pamer status sosial di hadapan relasi bisnis atau mencari pujian dari masyarakat luas. Jauh melampaui urusan gengsi duniawi semata, mereka membawa sebuah misi spiritual dan sosial yang sangat luhur: mereka bertekad untuk menyebarkan undangan pernikahan yang sederhana, menggunakan bahan ramah lingkungan yang tidak mubazir, serta sepenuhnya bebas dari unsur tabarruj—yakni pamer kemewahan, foto pre-wedding yang mengumbar aurat, atau pencantuman kalimat-kalimat yang melanggar batasan syariat Islam.

"Dengarkan ayah baik-baik, Malik dan Syafiqah," ujar Pak Malik dengan nada serius namun penuh kelembutan saat duduk di kursi rotan menghadap kedua calon mempelai. "Di zaman modern ini, banyak orang berlomba-lomba membuat undangan megah seharga jutaan rupiah yang akhirnya hanya berujung di tempat sampah. Padahal, esensi dari sebuah undangan adalah doa dan kehadiran, bukan kemewahan fisiknya."

Malik mengangguk mantap, menatap lurus ke mata ayahnya. "Saya sangat paham, Ayah. Itulah sebabnya kami sepakat memilih kertas daur ulang polos tanpa foto wajah kami terpampang di sampulnya. Kami tidak ingin ada unsur tabarruj yang justru mengundang pandangan riya sejak sebelum acara dimulai."

Syafiqah menambahkan dengan senyuman tulus di balik cadar tipisnya, "Betul sekali, Ayah. Saya ingin pernikahan kami dimulai dengan keberkahan, bukan dengan pemborosan harta yang tidak bermanfaat. Undangan ini adalah cerminan kesederhanaan hidup yang akan kami jalani bersama kelak."

"Pilihan yang sangat mulia," timpal Ibu Syafiqah yang duduk di samping putrinya. "Bibi sangat bangga melihat keteguhan prinsip kalian berdua di tengah arus tren pernikahan mewah masa kini."

Tujuan suci itu menuntut keteguhan mental yang matang untuk menolak segala tawaran vendor percetakan komersial yang menyarankan desain mewah penuh foto. Tujuan tersebut menegaskan bahwa pernikahan mereka adalah ibadah murni yang dijaga kesuciannya dari awal hingga akhir, yang sebentar lagi akan diuji secara langsung oleh kedatangan beberapa kerabat jauh yang terbiasa dengan gaya hidup serba glamor.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding teras rumah menunjuk angka sembilan lewat lima belas menit ketika gerbang depan terbuka perlahan, menampilkan kedatangan bibi Malik dari pihak ibu—Bibi Hani—yang datang berkunjung membawa beberapa parsel kue basah tradisional untuk acara persiapan akad.

"Assalamualaikum, Malik, Syafiqah! Wah, kalian masih sibuk melipat kertas undangan sederhana ini rupanya?" sapa Bibi Hani dengan suara lantang namun ramah, melangkah masuk ke teras sambil membawa kantong belanjaan besar.

Malik dan Syafiqah segera berdiri menyambut kedatangan sang bibi dengan takzim. "Wa'alaikumussalam, Bibi. Mari silakan duduk di sini," sambut Malik sopan.

Bibi Hani melangkah mendekati meja bambu, mengambil salah satu lembar undangan daur ulang milik Malik, lalu mengamati tampilannya dengan pandangan mata yang sedikit heran. "Malik, Nak... Bibi lihat undangan ini kok polos sekali? Tidak ada foto kalian berdua berpose romantis di sampul depan, dan bahannya seperti kertas karton daur ulang biasa. Kenapa tidak pakai desain cetak keemasan yang sedang tren di gedung-gedung mewah itu?"

Suasana di teras rumah mendadak mengalami transisi psikologis yang cukup drastis; kehangatan pagi itu seketika terusik oleh komentar Bibi Hani yang mempertanyakan kesederhanaan ekstrem dari undangan tersebut.

Pak Malik menarik napas panjang, lalu tersenyum tenang menghadapi sang adik ipar. "Bibi Hani, kesederhanaan undangan ini adalah bentuk komitmen anak-anak kita untuk menghindari tabarruj dan pemborosan yang tidak perlu dalam syariat Islam."

Lihat selengkapnya