Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Resmi Menjadi Suami Istri

Resmi Menjadi Suami Istri: Sentuhan Pertama di Ubun-Ubun Disertai Doa Sunnah.

Cahaya matahari siang menyembul terang melalui kaca jendela besar ruang tamu utama kediaman keluarga besar Hendar di kawasan elite Jakarta Selatan, memantulkan bias putih bersih pada dekorasi bunga melati dan mawar yang memenuhi sudut ruangan. Suasana di dalam ruangan berkarpet beludru itu terasa begitu hening, khidmat, dan dipenuhi oleh aroma wewangian gaharu yang lembut. Para tamu undangan, kerabat dekat, serta para saksi terhormat duduk rapi dalam formasi melingkar, menyaksikan momen paling puncak setelah akad nikah selesai dilangsungkan beberapa menit lalu. Di tengah ruangan, Fathian duduk berdampingan dengan Nayla di atas kursi pelaminan mini berbalut kain putih gading. Fathian mengenakan setelan jas koko putih bersih dengan peci hitam yang senada, sementara Nayla tampak anggun mengenakan kebaya panjang berpayet mutiara dengan selendang pengantin yang menutupi sebagian kepalanya.

"Alhamdulillah, prosesi ijab kabul sudah sah dilaksanakan dengan lancar," ucap penghulu senior yang memimpin acara dengan senyuman ramah. "Kini tibalah saatnya bagi pengantin pria untuk melaksanakan sunnah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam yang pertama kepada istri tercinta."

Fathian menoleh perlahan ke samping, menatap wanita yang kini telah sah menjadi istri halal di sisi hidupnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena grogi atau cemas seperti hari-hari sebelumnya, melainkan karena gelombang rasa syukur yang teramat besar bersemayam di dalam dadanya. Nayla pun menengadah perlahan, membalas tatapan suaminya dengan sorot mata yang berkaca-kaca menahan haru, memancarkan ketulusan cinta yang telah diuji oleh ruang dan waktu.

Suasana siang itu menjadi saksi bisu betapa agungnya sebuah ikatan pernikahan yang dibangun di atas fondasi iman, kesabaran, dan rida Ilahi. Ruangan yang tadinya dipenuhi ketegangan kini berangsur cair, digantikan oleh kehangatan kekeluargaan yang menyelimuti setiap pasang mata yang memandang pasangan pengantin baru tersebut.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Fathian saat itu sangat spesifik, suci, dan sarat akan nilai ibadah: ia ingin melaksanakan sunnah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam secara khusyuk, yakni meletakkan tangan kanannya di atas ubun-ubun sang istri tercinta, memanjatkan doa keberkahan, serta memohon perlindungan kepada Allah untuk bahtera rumah tangga yang baru saja mereka layari. Fathian tahu betul bahwa momen sentuhan pertama di ubun-ubun istri bukan sekadar tradisi seremonial pernikahan Islam, melainkan sebuah bentuk penyerahan diri dan doa seorang suami yang memohon limpahan rahmat serta kasih sayang Allah bagi istrinya.

"Fathian, silakan letakkan tangan kananmu di ubun-ubun Nayla, lalu bacakan doa yang diajarkan Rasulullah," bisik Pak Hendar selaku ayah mertua dengan senyuman penuh restu dan mata berkaca-kaca.

Fathian mengangguk takzim. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar di dadanya, lalu mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Dengan penuh kelembutan dan rasa hormat yang mendalam, ia menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas ubun-ubun Nayla yang tertutup selendang tipis berpayet. Sentuhan fisik pertama yang halal itu mengirimkan getaran spiritual yang luar biasa kuat ke dalam relung jiwa keduanya.

Nayla menutup kedua matanya perlahan saat merasakan kehangatan tangan suaminya menyentuh ubun-ubunnya. Ia merasa terlindungi, dihargai, dan dicintai dengan cara yang paling terhormat di dunia ini. Di dalam hatinya, Nayla mengaminkan setiap bait doa yang sebentar lagi akan dilafalkan oleh suaminya.

"Tujuan kita melangkah bersama ini semata-mata mengharap ridanya, Nay," bisik Fathian pelan di telinga istrinya sebelum ia memulai munafik doa sunnah tersebut, memastikan bahwa niat mereka berdua benar-benar bersih dari segala ambisi duniawi yang fana.

❖ ❖ ❖

Seluruh mata di dalam ruangan utama itu mendadak tertuju penuh ke arah pasangan pengantin baru. Para tamu undangan, keluarga, dan kerabat terdekat menahan napas dalam keheningan total, memberikan ruang sepenuhnya bagi kesakralan momen tersebut. Transisi dari keriuhan prosesi akad nikah menuju keheningan batin yang mendalam menciptakan atmosfer spiritual yang merasuk ke setiap sudut ruangan.

Fathian merapatkan kedua matanya sejenak, memusatkan seluruh pikiran dan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan suara yang parau namun jelas dan penuh kekhusyukan, Fathian mulai melafalkan doa sunnah pernikahan yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam:

"Allahumma inni as'aluka khairoha wa khairo ma jabaltaha 'alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi..."

Suara Fathian yang lembut menggema di seluruh penjuru ruang tamu utama. Setiap kata yang terucap dari bibirnya memancarkan ketulusan jiwa seorang suami yang memohon kebaikan, keberkahan, dan perlindungan dari segala keburukan bagi belahan jiwanya. Nayla yang mendengarkan doa tersebut dari dekat merasakan air mata bahagianya menetes perlahan membasahi pipinya. Doa itu bukan sekadar rangkaian kalimat Arab biasa, melainkan perisai gaib yang mengukuhkan komitmen cinta mereka di hadapan Sang Pencipta.

"Aamiin... aamiin ya rabbal 'alamin," seru para tamu undangan dan keluarga yang hadir dengan suara lirih penuh haru usai Fathian mengakhiri doanya.

Transisi spiritual ini mengubah keseluruhan suasana hari itu menjadi sebuah perayaan cinta yang murni secara ilahiah. Tidak ada lagi sekat keraguan, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam; yang tersisa hanyalah kedamaian mutlak dan rasa syukur yang melimpah atas nikmat pernikahan yang halal.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya