Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Walimah yang Sesuai Syariat

Walimah yang Sesuai Syariat: Tanpa Israf dan Pemisah Tamu yang Jelas

Pukul delapan pagi di hari Minggu yang cerah dan dipenuhi kehangatan pertengahan musim kemarau menghadirkan suasana yang sangat menenangkan di pelataran halaman surau Al-Hidayah, yang terletak di kawasan pemukiman asri pinggiran kota Bandung. Cahaya matahari pagi meronai dedaunan hijau di sekitar halaman, memantulkan bias keemasan ke atas hamparan tenda sederhana berbahan kain katun putih bersih tanpa dekorasi berlebihan atau ornamen kristal mewah yang biasa menghiasi gedung-gedung resepsi modern. Aroma wangi masakan tradisional nusantara berpadu lembut dengan harumnya teh tubruk hangat yang diseduh di dapur darurat samping surau, menciptakan suasana walimah yang khidmat, bersahaja, dan sarat akan nuansa kekeluargaan yang tulus bagi siapa saja yang hadir.

"Bagaimana, Malik? Apakah pengaturan pembatas antara tamu ikhwan dan akhwat sudah terpasang dengan rapi di bagian tengah halaman surau ini?" tanya Pak Malik, sang ayah, sambil merapikan letak kopiah hitam di kepalanya di dekat meja penerima tamu.

Malik mendongak perlahan dari kesibukannya mengecek susunan kursi tamu, menatap dinding pemisah kain semi-transparan yang membagi area halaman menjadi dua sisi terpisah dengan sangat jelas dan teratur. "Sudah sangat rapi, Ayah. Tidak ada celah yang longgar, dan jalur sirkulasi keluar masuk bagi tamu ikhwan maupun akhwat sudah dipetakan dengan jelas agar tidak terjadi percampuran."

Pak Malik tersenyum bangga, menepuk pelan pundak putranya. "Bagus sekali, Nak. Walimah pernikahan ini adalah bentuk nyata manifestasi syariat Islam yang kita pegang teguh, bukan sekadar ajang pamer kemewahan sosial di hadapan masyarakat luas."

Malik mengangguk takzim, meresapi setiap petuah bijak sang ayah. Hari itu adalah hari pelaksanaan walimah pernikahannya dengan Syafiqah, sebuah momen sakral yang dirancang murni tanpa ada unsur israf—yakni pemborosan harta yang sia-sia—serta menerapkan prinsip pemisahan tamu secara syar'i. Di sudut dekat teras surau, Syafiqah tampak duduk anggun di ruang khusus akhwat bersama ibunya dan beberapa kerabat wanita, mengenakan busana pengantin syar'i berwarna putih gading yang elegan namun sangat bersahaja.

"Mas Malik, apakah hidangan prasmanan sudah siap disajikan oleh para relawan remaja surau?" tanya Syafiqah melalui sambungan walkie-talkie kecil yang dipegang oleh panitia.

"Sudah siap, Syafiqah. Semua porsi dihitung pas sesuai jumlah undangan tanpa ada sisa mubazir," jawab Malik mantap.

Suasana di sekitar halaman surau terasa begitu khidmat, diisi oleh alunan suara murrotal Al-Qur'an yang lembut dari pengeras suara masjid dan desau angin pagi yang menyejukkan. Malik menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa setiap detail kecil dari walimah tersebut adalah wujud nyata komitmen mereka untuk memulai rumah tangga di atas jalan yang dirida Allah SWT.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Malik dan Syafiqah hari itu bukanlah sekadar mengadakan pesta pernikahan besar-besaran yang menghabiskan ratusan juta rupiah demi mendulang pujian, pamer status sosial, atau memuaskan dahaga gengsi keluarga besar di hadapan publik kota. Jauh melampaui urusan kemewahan duniawi semata, mereka membawa sebuah misi ibadah yang sangat luhur dan fundamental: mereka bertekad untuk menyelenggarakan sebuah walimatul ursy yang murni sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW—yakni walimah yang sepenuhnya bebas dari segala bentuk israf (pemborosan), bebas dari tabarruj, serta menerapkan sistem pemisahan area tamu laki-laki dan perempuan secara tegas dan terhormat demi menjaga kesucian pandangan serta kehormatan para undangan.

"Dengarkan ayah baik-baik, Malik," ujar Pak Malik dengan nada serius namun penuh kelembutan saat memegang tangan putranya sesaat sebelum acara dimulai. "Di zaman sekarang, banyak pasangan pengantin terjebak dalam lingkaran setan israf, menghabiskan uang tabungan bertahun-tahun hanya untuk pesta satu malam yang diwarnai percampuran bebas antara tamu laki-laki dan perempuan. Walimah kita harus menjadi teladan bahwa kesederhanaan dan ketatnya batasan syariat adalah sumber keberkahan terbesar."

Malik mengangguk mantap, menatap lurus ke mata ayahnya. "Saya sangat paham, Ayah. Itulah sebabnya kami menolak segala bentuk sumbangan makanan berlebih yang berpotensi terbuang sia-sia, serta memastikan tidak ada musik hura-hura yang melalaikan zikir kepada Allah di acara pernikahan kami."

Syafiqah, yang mendengarkan melalui pengeras suara kecil di ruang akhwat, menambahkan dengan suara lembut penuh ketegasan, "Dan saya ingin para tamu wanita yang hadir merasa nyaman di area tertutup tanpa harus merasa risau atau risih akibat desak-desakan dengan tamu laki-laki. Pemisahan yang jelas ini adalah bentuk kemuliaan bagi kaum wanita, bukan pembatasan yang menyiksa."

"Pilihan yang sangat mulia," timpal Ibu Malik yang duduk mendampingi Syafiqah. "Ibu sangat bangga melihat kalian berdua tetap istiqomah menegakkan sunnah di tengah tekanan zaman yang serba bebas."

Tujuan suci itu menuntut keteguhan mental yang matang untuk menolak segala bentuk kompromi sosial yang sering kali dipaksakan oleh kerabat jauh. Tujuan tersebut menegaskan bahwa walimah mereka adalah ibadah murni yang dijaga kesuciannya, yang sebentar lagi akan diuji secara langsung oleh kedatangan beberapa tamu undangan penting yang membawa budaya pesta mewah.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding surau menunjuk angka sembilan lewat tiga puluh menit ketika gerbang halaman surau terbuka perlahan, menampilkan gelombang pertama tamu undangan yang mulai berdatangan memadati area pelataran parkir sederhana. Para tamu undangan dari berbagai kalangan—mulai dari tetangga sekitar, jamaah surau, hingga para ulama sepuh kota—berdatangan dengan senyuman ramah, disambut langsung oleh panitia penerima tamu remaja surau yang mengarahkan mereka secara tertib ke jalur masing-masing.

"Silakan, Bapak-bapak, area tamu ikhwan berada di sisi sebelah kanan halaman utama," sapa salah seorang panitia ramah sambil mengarahkan para tamu pria melewati pintu masuk khusus sebelah utara.

"Dan untuk ibu-ibu serta saudari sekalian, silakan memasuki area khusus akhwat melalui jalur teras selatan yang telah ditutupi tirai kain yang nyaman," sambut panitia wanita dengan senyuman tulus kepada para tamu undangan perempuan.

Masa transisi dari kesiapan persiapan menuju pelaksanaan acara inti walimah terjadi begitu tertib dan teratur di halaman surau tersebut. Tidak ada hiruk-pikuk musik disko modern atau kerumunan tamu yang berdesak-desakan tanpa aturan; yang terdengar hanyalah alunan salam, ucapan tahniah, dan suara ramah tamah antartamu yang menikmati suasana kekeluargaan yang hangat.

Lihat selengkapnya