Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #58

Membangun Komunikasi

Membangun Komunikasi Berbasis Akhlakul Karimah.

Sore itu, Kota Bandar Lampung kembali disapa oleh langit senja yang menorehkan warna jingga keemasan di balik barisan bukit barisan. Di ruang keluarga rumah kecil keluarga Fathian, suasana terasa begitu hangat, tenang, dan dipenuhi oleh aroma harum teh hijau bercampur melati yang mengepul tipis dari cangkir keramik putih. Jam dinding kayu di sudut ruangan menunjukkan pukul empat lewat empat puluh lima menit. Angin sore berhembus lembut melalui jendela yang terbuka separuh, membawa kesejukan setelah seharian kota diterpa teriknya matahari.

Di atas karpet beludru abu-abu yang bersih, Nayla duduk bersila dengan anggun mengenakan gamis panjang berwarna dusty pink berpadu jilbab syar'i senada yang menjutai rapi menutupi dada. Di hadapannya, Farhan—suami yang telah resmi menikahinya beberapa pekan lalu—duduk bersandar santai pada sofa rotan, mengenakan kemeja koko abu-abu muda dengan peci kain rajut putih di pangkuannya. Pernikahan mereka kini telah memasuki fase adaptasi harian yang sarat akan dinamika rumah tangga muda, menuntut penyesuaian karakter, kebiasaan, dan pola interaksi yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

"Alhamdulillah, sore ini udaranya lumayan sejuk setelah kemarin sempat gerah seharian ya, Mas," ucap Nayla membuka percakapan dengan nada suara yang lembut, menjaga intonasi agar tetap rendah dan santun di hadapan suaminya.

Farhan tersenyum hangat, menatap istrinya dengan binar mata penuh kasih sayang. "Iya, Adikku sayang. Cocok sekali buat kita duduk santai sejenak sambil mengevaluasi kegiatan hari ini, sekaligus melanjutkan obrolan kita soal prinsip komunikasi yang baik."

Bagi pasangan muda ini, waktu senja selalu dimanfaatkan sebagai sarana muhasabah dan mempererat ikatan batin. Di tengah kesibukan Farhan mengurus urusan pekerjaan yang mulai stabil dan Nayla yang aktif menulis artikel dakwah dari rumah, komunikasi yang sehat dan beretika menjadi fondasi utama agar bahtera rumah tangga mereka senantiasa dinaungi oleh keberkahan.

❖ ❖ ❖

Farhan meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja kayu kecil, lalu menatap Nayla dengan pandangan serius namun penuh kelembutan. Tujuan utama Farhan sore ini sangat spesifik: ia ingin mengajak istrinya merumuskan dan membangun pola komunikasi rumah tangga yang sepenuhnya berlandaskan pada akhlakul karimah—menghindari kata-kata kasar, meredam emosi saat berbeda pendapat, serta membiasakan diri saling mendengarkan dengan penuh empati sebagaimana teladan Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam dalam memperlakukan keluarganya.

"Nayla, mari kita sepakati satu hal penting untuk perjalanan rumah tangga kita ke depan," kata Farhan memulai pembicaraan dengan nada yang sangat tenang dan terstruktur. "Tujuan utama kita menikah bukan sekadar hidup bersama di bawah satu atap, melainkan menjadikan interaksi harian kita sebagai ladang ibadah melalui akhlakul karimah."

Nayla merespons dengan mengangguk khidmat, menyerap setiap kalimat suci yang disampaikan suaminya. "Maksud Mas, komunikasi kita harus selalu disaring dengan etika Islami ya? Tidak boleh ada bentakan, sindiran tajam, atau ego yang saling menjatuhkan meskipun sedang marah?"

"Tepat sekali, Adinda," balas Farhan tersenyum lembut. "Tujuan kita adalah memastikan bahwa lidah dan tulisan kita tidak menjadi sumber dosa. Kalaupun nanti ada selisih paham—yang itu sangat wajar dalam pernikahan—kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin, memilih diksi yang santun, dan saling memaafkan sebelum matahari terbenam."

Nayla menunduk sejenak, merenungkan betapa mulia tujuan yang dicanangkan suaminya. Sering kali dalam kehidupan berumah tangga, pertengkaran kecil dipicu oleh kesalahan komunikasi sepele akibat hilangnya kontrol emosi. Dengan menetapkan tujuan berbasis akhlakul karimah sejak dini, Nayla merasa memiliki panduan moral yang jelas untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya dari bibit-bibit perpecahan.

❖ ❖ ❖

Waktu beranjak maghrib ketika percakapan mendalam di ruang keluarga tersebut dihentikan sejenak oleh berkumandangnya suara azan dari surau terdekat. Farhan berdiri dari sofa rotannya, mengajak istrinya untuk segera bersiap menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta. Suasana transisi sore menuju malam itu terasa begitu syahdu, seakan alam semesta ikut mendukung komitmen suci pasangan muda tersebut.

"Mari kita ambil air wudhu dan bersiap shalat Maghrib berjamaah, Neng. Setelah itu kita sambung lagi obrolan tentang komunikasi ini sambil makan malam," ujar Farhan bijak.

"Baik, Mas. Nayla siapkan mukena dulu ya," jawab Nayla seraya bangkit dengan gerakan yang ringan dan penuh keanggunan.

Di dalam kamar mandi, Nayla membasuh wajahnya dengan air wudhu yang segar, merasakan ketenangan batin yang langsung meresap ke dalam jiwa. Transisi batin yang ia rasakan begitu nyata; dari seorang gadis rumahan yang dulunya hanya berbicara seperlunya dengan keluarga inti, kini ia bertransformasi menjadi seorang istri yang harus aktif membangun komunikasi yang dinamis namun tetap beretika dengan seorang suami.

Selepas menunaikan shalat Maghrib berjamaah dengan Farhan sebagai imamnya, suasana rumah kembali diterangi cahaya lampu kuning hangat. Di atas meja makan kecil, hidangan malam berupa sup hangat dan ikan bakar buatan Nayla telah tersaji rapi, menebarkan aroma sedap yang menggugah selera.

"Masya Allah, masakannya harum sekali, Neng. Terima kasih ya," puji Farhan tulus saat duduk di kursi meja makan.

"Sama-sama, Mas. Semoga rasanya pas di lidah," balas Nayla tersenyum simpul.

Lihat selengkapnya