Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Fathian Menjadi Imam Shalat

Pukul setengah delapan malam di hari Rabu yang basah, suasana di dalam rumah minimalis keluarga Fathian dan Nayla di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu hangat dan terlindungi dari deru hujan deras yang mengguyur luar jendela. Sinar lampu dinding berwarna kuning temaram memantul lembut pada dinding ruang keluarga yang berhiaskan kaligrafi bertuliskan ayat-ayat kursi, menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus menenteramkan jiwa setelah hari yang melelahkan. Aroma wangi uap gaharu bercampur samar dengan keharuman teh chamomile hangat yang tersaji di atas meja sudut ruangan.

Fathian berdiri tegak di atas sajadah beludru tebal berwarna abu-abu tua, mengenakan sarung tenun hitam bercorak garis putih serta baju koko putih bersih yang baru saja ia kenakan sepulang dari masjid kompleks. Di belakangnya, Nayla berdiri dengan anggun mengenakan mukena putih bersih berenda halus, merapikan shaf sambil menatap punggung suaminya dengan sorot mata penuh takzim dan rasa cinta yang mendalam.

"Alhamdulillah, mari kita laksanakan salat Isya berjemaah malam ini, Nayla," ucap Fathian pelan, menoleh sedikit ke belakang untuk memastikan kesiapan istrinya.

Bagi Nayla, malam Rabu ini memiliki makna emosional yang sangat penting sebagai penawar ketegangan setelah berhari-hari diteror oleh kecemasan terkait sengketa warisan keluarga besar yang sempat mengusik ketenangan batin mereka. Kehadiran Fathian sebagai suami yang senantiasa menenangkan dan membimbing dalam ketaatan menjadi sauh paling kokoh bagi jiwanya. Fathian meluruskan niatnya serapat-rapatnya, menyadari bahwa amanah terbesarnya malam ini adalah menghadirkan ketenangan ruhani bagi makmum tercintanya melalui bacaan salat yang khusyuk dan menenteramkan.

"Silakan, Mas. Aku sudah siap di belakangmu," jawab Nayla lembut, merapatkan saf dengan penuh kekhusyukan.

❖ ❖ ❖

Sesaat sebelum mengangkat kedua tangan untuk bertakbir, Fathian menarik napas dalam-dalam, menata kembali niat di dalam hatinya yang paling dalam. Hari ini, Fathian menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: ia ingin memimpin salat berjemaah dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang tartil, tenang, dan penuh penghayatan, agar gelombang kecemasan yang sempat merundung hati Nayla akibat teror masalah keluarga seketika luluh lantak oleh keagungan firman Allah SWT.

"Nayla, malam ini aku ingin membacakan surah Al-Muzzammil dan surah Al-Insan dalam rakaat salat kita, semoga Allah melapangkan dada kita dari segala sempitnya urusan dunia," bisik Fathian lirih sebelum ia memulai takbiratul ihram.

Nayla mengangguk pelan dari balik mukenanya, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya mendengar perhatian suaminya. "Masya Allah, terima kasih, Mas. Aku sangat membutuhkan ketenangan itu malam ini."

Tujuan utama Fathian malam ini bukan sekadar menunaikan kewajiban salat fardu tepat waktu, melainkan menjalankan peran hakikinya sebagai imam—pemimpin spiritual rumah tangga yang mampu menjadi tempat berlindung paling aman bagi istrinya kala badai masalah menerpa. Fathian bertekad untuk menyalurkan ketenangan batin melalui setiap harakat bacaannya, menjadikan salat malam itu sebagai terapi jiwa yang menyembuhkan segala kepenatan dan ketakutan duniawi yang sempat singgah di benak sang istri.

"Mari kita serahkan segala urusan sengketa dan teror itu kepada Allah, dan fokus menghadap-Nya malam ini," tambah Fathian meneguhkan niat mereka berdua sebelum memulai ibadah yang agung tersebut.

❖ ❖ ❖

Takbiratul ihram berkumandang dengan suara Fathian yang basah, tenang, dan berwibawa, memecah kesunyian malam di ruang keluarga yang kini berubah fungsi menjadi ruang salat yang sakral. Suara takbir yang menggema itu langsung direspons oleh Nayla dengan mengangkat kedua tangannya, mengikuti gerakan suaminya secara sempurna dalam satu komando ruhani yang sangat indah.

Perpindahan dari hiruk-pikuk obrolan duniawi dan kecemasan sengketa warisan menuju kesyahduan gerakan salat berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat revolusioner bagi Nayla. Setiap gerakan takbir, ruku, sujud, hingga duduk di antara dua sujud dirasakannya sebagai pelepasan beban psikologis yang sangat berat dari pundaknya.

"Allah Maha Besar di atas segala masalah yang kita hadapi," gumam Nayla dalam hati saat kepalanya menempel di atas sajadah yang lembut.

Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian dan Nayla. Mereka menyadari bahwa sehebat apa pun usaha manusia menyelesaikan masalah hukum atau keluarga, ketenangan hakiki hanya bisa diperoleh melalui sujud yang khusyuk dan kepasrahan mutlak kepada Sang Pencipta. Melalui salat berjemaah ini, Fathian bertindak sebagai jembatan keselamatan batin bagi istrinya, membawa Nayla keluar dari lorong gelap kecemasan menuju terangnya cahaya rida Ilahi.

Selesai salam penutup salat Isya yang diucapkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri, suasana ruang keluarga terasa semakin hening dan dipenuhi oleh limpahan rahmat. Fathian kemudian membalikkan badan sedikit menghadap istrinya, memimpin zikir dan doa penutup dengan suara yang sangat menenteramkan jiwa.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya