Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #63

Waktu Berkualitas (Quality Time)

Waktu Berkualitas (Quality Time) dengan Membaca Tafsir Al-Qur'an Bersama.

Sore itu, Kota Bandar Lampung kembali diselimuti oleh bias cahaya jingga yang perlahan meredup di ufuk barat, memantulkan kehangatan di atas genteng-genteng rumah warga. Di ruang keluarga rumah kecil keluarga Fathian, suasana terasa begitu tenang, khusyuk, dan jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota. Jam dinding kayu di sudut ruangan menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit sore. Angin senja berhembus lembut melalui jendela kaca yang terbuka separuh, membawa aroma wangi melati dari halaman depan yang basah usai disiram air oleh Salma beberapa jam sebelumnya.

Di atas karpet beludru abu-abu yang bersih dan empuk, Nayla duduk bersila dengan anggun mengenakan gamis panjang berwarna hijau lumut berpadu jilbab syar'i senada yang menjuntai rapi menutupi dada. Di hadapannya, Farhan—suami tercinta yang telah menikahinya beberapa bulan lalu—duduk bersandar santai pada sofa rotan, mengenakan kemeja koko putih polos dengan peci kain rajut putih di pangkuannya. Di tengah meja kayu kecil di antara mereka, terhampar sebuah kitab tafsir Al-Qur'an berukuran sedang dengan sampul kulit hitam tebal, berdampingan dengan dua cangkir poci teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis beraroma melati.

"Alhamdulillah, sore ini cuacanya sangat bersahabat untuk kita manfaatkan melingkar bersama membaca ayat-ayat Allah, Mas," ucap Nayla membuka percakapan dengan nada suara yang lembut, menjaga intonasi agar tetap rendah dan santun di hadapan suaminya.

Farhan tersenyum hangat, menatap istrinya dengan binar mata penuh kasih sayang dan kekaguman. "Iya, Adinda sayang. Waktu senja seperti ini adalah momen terbaik untuk mengisi jiwa kita dengan cahaya ilmu sebelum malam menjelang."

Bagi pasangan muda ini, waktu luang di rumah selalu diisi dengan rutinitas bermakna. Di tengah kesibukan harian Farhan mengurus pekerjaan kantor dan Nayla yang tekun merulis artikel dakwah, menyediakan waktu khusus untuk duduk bersama mempelajari lembaran-lembaran kitab suci menjadi sebuah kebutuhan spiritual yang tidak pernah ditinggalkan.

❖ ❖ ❖

Farhan meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja kayu, lalu membuka sampul kitab tafsir Al-Qur'an di hadapannya dengan penuh kehati-hatian dan takzim. Tujuan utama Farhan dan Nayla meluangkan waktu sore ini sangat spesifik: mereka ingin membangun quality time yang berkualitas tinggi secara ruhani—bukan sekadar duduk berduaan menghabiskan waktu luang dengan hiburan duniawi, melainkan mendalami makna kandungan ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama-sama agar rumah tangga mereka senantiasa dibimbing oleh pemahaman agama yang lurus dan mendalam.

"Nayla, mari kita lanjutkan bacaan tafsir kita pada surah An-Nur ayat yang membahas tentang cahaya di atas cahaya," kata Farhan memulai sesi belajar dengan nada suara yang sangat tenang dan terstruktur. "Tujuan kita sore ini bukan sekadar khatam membaca, tapi meresapi bagaimana Allah menanamkan ketenteraman di dalam rumah tangga orang-orang yang beriman."

Nayla mengangguk khidmat, merespons arahan suaminya dengan antusiasme yang tinggi. "Insya Allah, Mas. Nayla sudah menyiapkan catatan kecil di buku catatan untuk mencatat poin-poin penting tentang adab berumah tangga yang kita pelajari hari ini."

"Bagus sekali, Adinda," balas Farhan tersenyum lembut. "Tujuan utama kita menikah adalah menjadikan rumah ini sebagai miniatur surga dunia. Dan tidak ada jalan lain untuk mencapainya selain menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama komunikasi dan interaksi kita sehari-hari."

Nayla menunduk sejenak, meresapi tujuan mulia tersebut. Di tengah zaman modern di mana banyak pasangan menghabiskan waktu berkualitas dengan gawai atau hiburan harian yang melalaikan, Farhan dan Nayla memilih jalur yang berbeda—menghidupkan rumah mereka dengan majelis ilmu mini. Tujuan ini memperkuat ikatan batin mereka, menyatukan frekuensi akal dan hati di bawah naungan wahyu Ilahi.

❖ ❖ ❖

Waktu beranjak maghrib ketika sesi pembacaan tafsir Al-Qur'an tersebut dihentikan sejenak oleh berkumandangnya suara azan dari surau terdekat yang bersahutan merdu. Farhan menutup kitab tafsir dengan rapi, lalu mengajak istrinya untuk segera bersiap menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta. Suasana transisi sore menuju malam itu terasa begitu syahdu dan menenangkan jiwa.

"Mari kita jeda sebentar, ambil air wudhu, dan tunaikan shalat Maghrib berjamaah. Setelah itu kita sambung lagi tadarus kita sambil menikmati makan malam," ujar Farhan bijak.

"Baik, Mas. Nayla siapkan mukena dulu di kamar," jawab Nayla seraya bangkit dengan gerakan yang ringan dan penuh keanggunan.

Di dalam kamar mandi, Nayla membasuh wajahnya dengan air wudhu yang dingin dan segar, merasakan ketenangan batin yang langsung meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Transisi batin yang ia alami terasa begitu nyata; dari perenungan ayat-ayat suci Al-Qur'an di sore hari, kini jiwanya ditarik menuju kesyahduan ibadah shalat maghrib berjamaah di bawah imam suaminya tercinta.

Selepas shalat Maghrib berjamaah yang diimami langsung oleh Farhan dengan bacaan surah pendek yang merdu, suasana malam di ruang keluarga kembali diterangi cahaya lampu pijar kuning hangat. Di atas meja makan kecil di sudut ruangan, hidangan malam sederhana berupa nasi hangat, sayur bening, dan ikan goreng buatan Nayla telah tersaji rapi, menebarkan aroma sedap yang menggugah selera.

"Masya Allah, bacaan surahmu tadi malam ini sangat menyentuh hati, Mas," puji Nayla tulus saat mereka duduk kembali di ruang keluarga usai makan malam.

"Alhamdulillah, terima kasih, Neng. Semua itu berkat ketenangan hati yang kita bangun lewat majelis tafsir tadi sore," balas Farhan tersenyum hangat.

Lihat selengkapnya