Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

Menghadapi Ujian Rezeki

Menghadapi Ujian Rezeki dengan Qana'ah.

Pukul tujuh malam di hari Rabu yang basah akibat guyuran hujan deras menghadirkan suasana yang begitu sunyi dan dingin di ruang dapur kecil rumah kontrakan Malik dan Syafiqah, yang terletak di kawasan pinggiran kota Bandung. Cahaya lampu pijar kuning temaram menerangi meja makan kayu sederhana yang hanya beralaskan taplak kain motif kotak-kotak usang. Aroma uap air hujan berpadu dengan wangi rebusan air putih di atas kompor minyak kecil, menciptakan suasana malam yang sangat bersahaja di tengah himpitan realitas hidup yang kian menguji ketahanan mental pasangan pengantin baru tersebut.

"Hujan di luar tampaknya semakin lebat saja, Mas Malik. Apakah dagangan kerajinan tangan di galeri hari ini banyak yang terjual?" tanya Syafiqah pelan sambil menyajikan dua mangkuk kecil bubur beras hangat di atas meja kayu.

Malik mendongak perlahan dari kursi kayunya, melepaskan jaket basah yang melekat di bahunya dengan senyuman letih namun tetap berusaha terlihat tegar di hadapan istrinya. "Alhamdulillah, Syafiqah. Hari ini belum ada satu pun pesanan kerajinan kayu yang laku terjual, dan galeri sepi karena pembeli enggan keluar rumah di tengah cuaca buruk seperti ini."

Syafiqah duduk tenang di hadapan suaminya, menyambut kabar tersebut tanpa secercah kepanikan atau keluhan di wajahnya. "Tidak apa-apa, Mas. Rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT, dan kita tidak perlu cemas selama kita berusaha dengan cara yang halal."

Malik tersenyum hangat, menatap manik mata istrinya dengan penuh rasa kagum yang mendalam. Suasana di dalam rumah kecil itu terasa begitu intim dan sarat akan kesederhanaan; tidak ada tumpukan kemewahan, tidak ada makanan berlimpah, melainkan hanya ada ketulusan hati yang saling menguatkan di tengah ujian ekonomi yang sedang mendera. Malik menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa lembaran kehidupan rumah tangga mereka kini memasuki fase ujian rezeki yang sesungguhnya, di mana sifat qana'ah—rasa cukup dan puas atas pemberian Allah—akan menjadi perisai utama kelangsungan hidup mereka.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Malik dan Syafiqah malam itu bukanlah sekadar meratapi nasib buruk atau mencari jalan pintas instan demi mendapatkan uang pinjaman berbunga tinggi untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin mendesak. Jauh melampaui urusan kepanikan materi semata, mereka membawa sebuah misi spiritual yang sangat luhur dan fundamental: mereka bertekad untuk menanamkan serta mempraktikkan sifat qana'ah secara nyata—menerima dengan lapang dada segala ketentuan rezeki dari Allah, menahan diri agar tidak berkeluh kesah kepada sesama manusia, dan tetap bersyukur atas sekecil apa pun nikmat yang masih tersisa di rumah mereka.

"Dengarkan aku, Syafiqah," ujar Malik dengan nada suara yang tenang namun penuh keteguhan saat mereka menyantap bubur hangat bersama di malam yang dingin itu. "Tabungan kita di celengan bambu kini benar-benar sudah habis untuk membayar sewa tempat dan bahan baku kayu bulan lalu. Ujian keuangan ini datang menguji seberapa besar ketulusan iman kita dalam berserah diri kepada-Nya."

Syafiqah mengangguk mantap, menggenggam lembut tangan suaminya yang terasa kasar akibat bekerja keras memahat kayu setiap hari. "Aku sangat paham, Mas Malik. Sejak awal aku memilihmu, aku tahu hidup kita tidak akan bergelimang harta duniawi. Tujuan kita bukan menjadi kaya raya dengan cara yang meragukan, melainkan hidup tenang dalam rida Allah dengan rezeki yang berkah dan halal."

"Betul sekali," timpal Malik dengan penekanan penuh keyakinan. "Sifat qana'ah mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah tentang banyaknya harta benda, melainkan tentang kaya hati yang tidak pernah merasa kurang atas apa yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta."

"Dan aku berjanji, Mas," tambah Syafiqah tulus, "aku tidak akan pernah menuntut atau mengeluhkan keterbatasan ekonomi kita kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua kita, agar kehormatan rumah tangga kita tetap terjaga suci."

Tujuan suci itu menuntut keteguhan mental yang luar biasa besar untuk melawan rasa cemas manusiawi terhadap masa depan finansial keluarga. Tujuan tersebut menegaskan bahwa mereka menolak tunduk pada gaya hidup konsumtif yang penuh utang riba, yang sebentar lagi akan diuji secara langsung oleh kedatangan seorang tamu yang membawa godaan pinjaman materi.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding dapur menunjuk angka delapan lewat lima belas menit ketika suara ketukan pintu depan terdengar nyaring di tengah deru suara hujan deras yang menderu di luar rumah. Malik dan Syafiqah saling berpandangan sejenak, merasa heran karena malam sudah sangat larut dan cuaca begitu buruk bagi siapa pun untuk bertamu.

"Sebentar, biar aku lihat siapa yang datang malam-malam begini," kata Malik sambil berdiri dari kursi lalu melangkah menuju pintu depan rumah.

Begitu daun pintu dibuka lebar-lebar, berdirilah Pak Hartono—seorang kenalan lama dari pusat kota yang dikenal sebagai pengusaha sukses—dengan mengenakan jas hujan plastik tebal yang basah kuyup, didampingi oleh seorang sopir yang membawakan tas koper kecil.

"Assalamualaikum, Ustadz Malik! Wah, untung lampu rumahmu masih menyala," sapa Pak Hartono ramah, langsung melangkah masuk ke ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan karena derasnya air hujan di luar.

Malik sedikit terkejut menyambut kedatangan tamu penting tersebut. "Wa'alaikumussalam, Pak Hartono. Silakan masuk, mari berteduh di dalam. Wah, basah kuyup begini, silakan duduk dulu."

Syafiqah yang berada di dapur segera merapikan meja makan kecil, lalu menyiapkan secangkir air hangat untuk menyambut tamu suaminya dengan takzim.

Masa transisi dari perbincangan intim suami istri mengenai prinsip qana'ah menuju ujian duniawi yang nyata terjadi begitu cepat di ruang tamu tersebut. Pak Hartono langsung duduk di kursi sofa usang, membuka jas hujannya, lalu menatap tajam ke arah Malik dengan senyuman penuh arti yang menyiratkan maksud kedatangan bisnis tertentu.

Lihat selengkapnya