
Saling Mengingatkan dalam Kebaikan (Amar Ma'ruf Nahi Munkar di Dalam Rumah).
Pukul empat sore lewat sepuluh menit di hari Kamis yang cerah, suasana di ruang tamu rumah minimalis milik pasangan Fathian dan Nayla di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu tenang, sejuk, dan tertata rapi. Sinar matahari sore memantul lembut melalui jendela kaca besar berbingkai kayu jati, menyinari lantai keramik putih bersih dan beberapa pot tanaman hias hijau di sudut ruangan. Aroma teh melati hangat berpadu manis dengan wangi uap minyak esensial lemon dari diffuser kecil di atas meja sudut, menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus menenteramkan jiwa setelah badai masalah keluarga yang sempat mereda pekan lalu.
Fathian duduk bersila di atas karpet beludru abu-abu terang, mengenakan kemeja koko putih bersih berkerah shanghai yang dipadukan dengan celana bahan hitam rapi. Di sisi sebelah kanannya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis rumah berbahan katun lembut berwarna sage green dan jilbab instan senada, sambil merapikan beberapa buku catatan keuangan keluarga di atas meja kopi kayu di hadapan mereka. Wajah keduanya memancarkan ketenangan batin yang mendalam, meski di balik sorot mata mereka tersimpan kesadaran penuh bahwa ujian hidup berumah tangga menuntut penjagaan spiritual yang konsisten setiap harinya.
"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan rahmat dan ketenangan di rumah ini, ya Mas," ucap Nayla pelan, membuka percakapannya dengan nada suara yang sangat santun dan menyejukkan.
Bagi Fathian dan Nayla, hari Kamis ini memiliki makna muhasabah yang sangat krusial. Setelah melewati serangkaian cobaan berat mulai dari sengketa warisan hingga teror penggusuran yang berhasil diredam melalui jalur musyawarah, mereka menyadari bahwa benteng pertahanan terbaik sebuah keluarga muslim bukanlah sekadar harta atau perlindungan fisik, melainkan tradisi saling mengingatkan dalam kebaikan (amar ma'ruf nahi munkar) yang hidup di dalam rumah tangga mereka sendiri. Fathian meyakini bahwa suami istri adalah cerminan bagi pasangannya, di mana nasihat yang disampaikan dengan penuh cinta adalah wujud kasih sayang yang hakiki.
"Semoga Allah senantiasa menjaga lisan kita agar selalu lembut dalam menasihati dan lapang dada dalam menerima nasihat," gumam Fathian dalam hati, meluruskan niatnya semata-mata mengharap rida Sang Pencipta.
❖ ❖ ❖
Sesaat setelah meneguk sedikit teh hangat untuk membasahi tenggorokannya, Fathian merapikan letak buku catatan harian di atas meja di hadapannya. Hari ini, Fathian bersama Nayla menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: mereka ingin membangun budaya komunikasi terbuka berbasis amar ma'ruf nahi munkar di dalam rumah tangga—di mana keduanya berkomitmen untuk tidak pernah sungkan saling menegur, mengingatkan jika ada kelalaian ibadah, atau memperbaiki sikap apabila ada tindakan yang menyimpang dari adab Islam, sekecil apa pun itu.
"Nayla, apakah selama beberapa hari terakhir ini kamu merasa ada hal-hal kecil dari keseharianku yang perlu aku perbaiki atau aku tingkatkan kualitas ibadahnya?" tanya Fathian dengan nada suara yang sangat terbuka dan penuh kerendahan hati.
Nayla menatap suaminya lekat-lekat, lalu tersenyum hangat. "Alhamdulillah, sejauh ini ibadahmu sudah sangat luar biasa, Mas. Tapi kalau boleh jujur, kemarin malam aku sempat melihatmu sedikit tergesa-gesa saat menunaikan salat sunah rawatib karena terlalu fokus memikirkan dokumen kantor. Mungkin ke depannya kita bisa lebih meluangkan waktu tenang sebelum salat."
Fathian mengangguk takzim mendengarkan teguran tersebut, sama sekali tidak merasa tersinggung. "Masya Allah, terima kasih banyak atas koreksinya, Sayang. Teguranmu itu benar sekali, kadang urusan dunia membuat kita lalai dari kekhusyukan."
Tujuan utama Fathian dan Nayla hari ini sangat jelas: menjadikan rumah tangga mereka sebagai madrasah pertama yang saling menyucikan jiwa. Mereka ingin menghapus rasa gengsi atau ego ketika dikritik oleh pasangan sendiri. Bagi mereka, nasihat dari pasangan hidup adalah hadiah terindah yang menyelamatkan diri dari kelalaian duniawi. Buku catatan di hadapan mereka menjadi saksi atas komitmen untuk terus saling membimbing menuju surga-Nya.
❖ ❖ ❖
Azan Ashar berkumandang merdu dari pengeras suara masjid terdekat, memecah kesibukan sore hari di kawasan perumahan tersebut. Suara kumandang azan yang bersahut-sahutan itu langsung direspons oleh Fathian dan Nayla dengan menghentikan sejenak percakapan mereka mengenai evaluasi ibadah harian. Dengan sigap, Fathian merapikan buku catatan, mengambil air wudu, dan bersiap memimpin salat Ashar berjemaah di ruang salat keluarga yang bersih dan nyaman di bagian belakang rumah.
Perpindahan dari sesi evaluasi dan perencanaan komunikasi keluarga menuju kesyahduan ibadah salat berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi pasangan suami istri tersebut. Mereka berwudu dengan penuh kesadaran, merasakan setiap tetesan air melunturkan sisa-sisa kelelahan mental dan memperbarui kesucian hati sebelum berdiri menghadap Sang Pencipta.
"Allah tempat kita bergantung dalam menjaga keistiqomahan," gumam Nayla pelan saat merapikan sajadah beludru hijau tuanya.
Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian dan Nayla. Mereka menyadari bahwa budaya saling mengingatkan dalam kebaikan tidak akan pernah efektif atau berkah jika tidak didasari oleh ketaatan mutlak kepada Allah SWT melalui salat berjemaah. Melalui ibadah tersebut, mereka menyerahkan ego pribadi dan menyatukan frekuensi hati dalam satu keimanan, memohon agar lisan mereka senantiasa dibimbing untuk mengucapkan kata-kata yang diridai-Nya.