Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Bab 70: Fathian Menunjukkan Keteladanan Pemimpin

Fathian Menunjukkan Keteladanan Pemimpin Keluarga yang Lembut dan Tegas.

Pukul empat sore di hari Jumat yang sejuk dan diberkahi menghadirkan suasana yang sangat menenangkan di teras belakang rumah mungil Fathian dan Syafiqah, yang terletak di kawasan pemukiman asri pinggiran kota Bandung. Cahaya matahari sore yang keemasan menyusup lembut di antara dedaunan tanaman hias di pekarangan, memantulkan bias hangat ke atas lantai keramik putih yang bersih. Aroma wangi uap teh rosella merah bercampur dengan harumnya kue basah tradisional buatan rumah terhidung lembut di udara, menciptakan atmosfer sore hari yang damai, harmonis, dan sarat akan nuansa kekeluargaan yang penuh kasih sayang.

"Bagaimana, Syafiqah? Apakah laporan keuangan bulanan galeri kerajinan tangan kita minggu ini sudah selesai kau rekap dengan rapi?" tanya Fathian lembut sambil meletakkan pena di atas meja kerja kayu kecil di sudut teras.

Syafiqah mendongak perlahan dari buku catatan besar bersampul cokelat di pangkuannya, menatap suaminya dengan seulas senyuman teduh yang menyiratkan kedamaian batin. "Alhamdulillah sudah beres, Mas Fathian. Semua pengeluaran dan pemasukan tercatat seimbang, dan kita masih menyisakan sedikit dana untuk tabungan amal pekan ini."

Fathian mengangguk puas, tersenyum hangat kepada istrinya. "Alhamdulillah, kerja bagus. Kejujuran dan kerapian dalam mengelola amanah kecil ini adalah kunci keberkahan rumah tangga kita ke depan."

Syafiqah merapikan helaian jilbabnya yang tertiup angin sore, lalu menuangkan secangkir teh hangat ke dalam cangkir suaminya. Suasana di teras belakang itu terasa begitu intim dan terjaga; tidak ada suara keributan dunia luar, melainkan hanya ada ketulusan komunikasi yang terjalin erat antara suami istri. Fathian menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa peran sebagai pemimpin keluarga menuntut perpaduan yang harmonis antara kelembutan hati dalam merangkul istri dan ketegasan prinsip dalam menegakkan aturan syariat Islam.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Fathian dan Syafiqah sore itu bukanlah sekadar menikmati waktu santai melepas penat setelah sepekan bekerja keras mengurus galeri seni kayu. Jauh melampaui urusan rutinitas domestik biasa, Fathian membawa sebuah misi kepemimpinan spiritual yang sangat fundamental dan luhur: ia bertekad untuk menunjukkan keteladanan nyata sebagai seorang pemimpin keluarga yang ideal—yakni sosok suami yang mampu menyeimbangkan sikap kelembutan penuh cinta kasih kepada istrinya dengan ketegasan prinsip yang adil dalam membimbing bahtera rumah tangga menuju ridha Allah SWT.

"Dengarkan aku, Syafiqah," ujar Fathian dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa saat mereka duduk berdampingan menikmati sore. "Menjadi pemimpin di rumah ini bukanlah tentang memaksakan kehendak atau mencari-cari kesalahan pasangan, melainkan tentang bagaimana aku bisa menjadi pelindung, pendengar yang baik, sekaligus pengarah yang tegas ketika ada prinsip agama yang harus kita jaga bersama."

Syafiqah mengangguk takzim, menatap lurus ke mata suaminya dengan penuh rasa hormat dan cinta. "Aku sangat merasakannya, Mas Fathian. Kelembutan sikapmu selama ini membuatku merasa dihargai sebagai istri, namun ketegasanmu dalam mengambil keputusan-keputusan penting juga memberiku rasa aman yang luar biasa."

"Itulah esensi kepemimpinan dalam Islam," timpal Fathian dengan penekanan lembut. "Rasulullah SAW adalah teladan terbaik; beliau sangat lembut terhadap keluarganya di dalam rumah, namun sangat tegas dan berwibawa ketika menghadapi urusan prinsipil. Aku ingin rumah tangga kita berdiri di atas teladan mulia itu."

"Dan sebagai makmummu," tambah Syafiqah tulus, "aku berjanji untuk selalu mendukung kepemimpinanmu, mendengarkan nasihatmu, dan senantiasa mengingatkan dengan santun jika ada langkah kita yang melenceng."

Tujuan suci itu menuntut konsistensi moral yang tinggi dari seorang suami untuk tidak mudah goyah oleh ego pribadi, serta kesiapan mental untuk memimpin dengan teladan nyata, yang sebentar lagi akan diuji secara langsung oleh kedatangan tamu yang membawa persoalan keluarga yang pelik.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding ruang tengah menunjuk angka empat lewat empat puluh lima menit ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan beriringan dengan salam yang diucapkan dengan nada tergesa-gesa. Fathian dan Syafiqah saling berpandangan sejenak, mengenali suara ketukan yang tidak asing lagi dari arah ruang tamu.

"Sebentar, biar aku lihat siapa yang datang," kata Fathian sambil bangkit dari kursi teras lalu melangkah cepat menuju pintu depan rumah.

Begitu daun pintu dibuka lebar-lebar, berdirilah adik ipar Fathian—Rian—dengan wajah pucat pasi, napas tersengal-sengal, dan raut ketakutan yang mendalam akibat perselisihan hebat yang baru saja ia alami dengan istrinya di rumah mereka sendiri.

"Assalamualaikum, Kak Fathian... Tolong saya, rumah tangga saya hancur..." rintih Rian langsung menerobos masuk ke ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan dengan tenang.

Fathian segera merangkul pundak Rian dengan penuh ketenangan, menuntun pemuda itu duduk di sofa. "Wa'alaikumussalam, Rian. Tarik napas dulu yang dalam. Tenangkan dirimu, lalu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."

Syafiqah yang menyusul dari belakang segera menyiapkan segelas air mineral dingin untuk menenangkan adiknya yang sedang dirundung kepanikan emosional.

Masa transisi dari ketenangan sore hari menuju krisis keluarga pihak lain terjadi begitu cepat di ruang tamu tersebut. Rian langsung menangis sesenggukan, menceritakan bagaimana ia membentak istrinya secara kasar sore tadi hanya karena masalah sepele urusan rumah tangga, hingga membuat sang istri kabur pulang ke rumah orang tuanya.

Lihat selengkapnya