Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

Musyawarah dalam Setiap Keputusan

Pukul delapan lewat sepuluh menit di malam Sabtu yang tenang, suasana di ruang keluarga rumah minimalis milik pasangan Fathian dan Nayla di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu hangat, intim, dan menenteramkan. Sinar lampu gantung bercahaya kuning temaram memantul lembut pada dinding cat krem dan perabotan kayu jati yang tertata rapi, menciptakan atmosfer rumah tangga yang penuh kedamaian setelah melewati pekan yang sarat dengan dinamika masalah hukum keluarga. Aroma teh chamomile hangat berpadu harmonis dengan wangi uap minyak esensial lavender dari diffuser di sudut ruangan, menghadirkan ketenangan bagi siapa saja yang menghirupnya.

Fathian duduk bersandar di sofa beludru abu-abu terang, mengenakan kemeja koko kasual berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana bahan hitam longgar. Di sisi sebelah kanannya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis rumah berbahan katun lembut berwarna soft pink dan jilbab instan senada, sambil merapikan beberapa dokumen keuangan serta surat-surat notaris di atas meja kopi kayu di hadapan mereka. Wajah keduanya memancarkan ketenangan batin yang mendalam, meski di balik senyuman itu tersimpan kesadaran penuh bahwa kehidupan pernikahan menuntut keputusan-keputusan strategis yang harus diambil bersama.

"Alhamdulillah, malam ini kita bisa duduk santai dan merapikan semua berkas pasca-mediasi kemarin, ya Mas," ucap Nayla pelan sambil menatap suaminya dengan senyuman tulus yang menyiratkan rasa syukur yang tiada tara.

Bagi Fathian dan Nayla, malam Sabtu ini memiliki makna muhasabah yang sangat penting. Setelah melewati rangkaian prosesi mediasi yang dramatis terkait sengketa aset keluarga besar, mereka menyadari bahwa kunci keberhasilan dalam mengarungi biduk rumah tangga bukanlah dominasi salah satu pihak, melainkan tradisi musyawarah yang konsisten dalam setiap pengambilan keputusan. Fathian meyakini bahwa Allah SWT sendiri telah memerintahkan kaum mukminin untuk selalu bermusyawarah dalam urusan mereka, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syu'ara dan Ali 'Imran.

"Betul sekali, Sayang," jawab Fathian lembut sambil meraih cangkir teh hangat di hadapannya. "Sebesar apa pun masalah atau rencana yang akan kita ambil ke depannya, keputusan tidak boleh diputuskan sepihak. Segala sesuatunya harus diselesaikan dengan kepala dingin melalui musyawarah."

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah meneguk teh hangat untuk membasahi tenggorokannya, Fathian membuka sebuah buku catatan khusus bersampul kulit hitam di atas meja. Hari ini, Fathian bersama Nayla menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: mereka ingin merumuskan keputusan akhir mengenai tawaran pengelolaan aset sengketa keluarga yang dialihkan kepada mereka, sekaligus merencanakan anggaran keuangan bulanan pasca-kasus hukum agar stabilitas ekonomi keluarga tetap terjaga dengan transparan.

"Nayla, mari kita bedah satu per satu opsi yang diberikan oleh pihak notaris kemarin. Aku ingin mendengar pandanganmu secara jujur, apakah kita sebaiknya menerima tawaran pengelolaan ruko warisan itu atau kita alihkan saja haknya?" tanya Fathian dengan nada suara yang sangat santun dan penuh penghargaan terhadap pendapat istrinya.

Nayla menatap lembaran kertas perjanjian di hadapannya, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum meyakinkan. "Menurut pandanganku, Mas, kalau kita kelola separuh hasil sewanya untuk dana amal dan sebagian lagi untuk tabungan masa depan anak-anak kita nanti, itu pilihan yang sangat bijak. Tapi keputusan tetap ada di tanganmu sebagai kepala keluarga."

"Jangan berkata begitu, Sayang. Dalam rumah tangga kita, keputusan besar adalah keputusan bersama. Tujuanku malam ini adalah kita mencapai mufakat tanpa ada rasa terpaksa dari pihak mana pun," tegas Fathian menyanggah dengan penuh kelembutan.

Tujuan utama Fathian dan Nayla sangat jelas: membangun tradisi musyawarah yang demokratis berlandaskan nilai-nilai Islam. Mereka tidak ingin ada ganjalan di hati masing-masing terkait keputusan finansial maupun sosial yang berdampak jangka panjang. Dengan melibatkan istri dalam setiap pertimbangan pelik, Fathian ingin memastikan bahwa rumah tangga mereka berjalan di atas fondasi kepercayaan yang mutlak.

"Aku sangat mendukung pandangan itu, Mas. Mari kita tuliskan poin-poin kesepakatan ini di buku catatan kita," sahut Nayla penuh semangat, memegang pena dengan sigap.

❖ ❖ ❖

Azan Isya berkumandang merdu dari pengeras suara masjid terdekat, memecah kesunyian malam di kawasan perumahan tersebut. Suara kumandang azan yang bersahut-sahutan itu langsung direspons oleh Fathian dan Nayla dengan menghentikan sejenak aktivitas diskusi keuangan dan merapikan lembaran berkas di atas meja. Dengan sigap, Fathian berdiri dan membimbing istrinya untuk mengambil air wudu dan bersiap menunaikan salat Isya berjemaah di ruang salat khusus yang terletak di bagian belakang rumah mereka.

Perpindahan dari sesi musyawarah strategis keluarga menuju kesyahduan ibadah salat Isya berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi pasangan muda tersebut. Mereka berwudu secara bergantian dengan penuh ketenangan, merasakan setiap tetesan air menyucikan fisik sekaligus mendinginkan pikiran dari segala kepenatan angka-angka dan dokumen hukum sepanjang sore itu.

"Allah tempat kita memohon petunjuk terbaik dalam setiap keputusan," gumam Nayla pelan saat merapikan sajadah beludru hijau miliknya.

Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian dan Nayla. Mereka menyadari bahwa sebaik apa pun hasil musyawarah akal manusia, keputusan tersebut tidak akan pernah membawa berkah sejati jika tidak direstui dan disandarkan kepada petunjuk Allah SWT melalui salat berjemaah. Melalui ibadah malam itu, mereka menyerahkan seluruh keraguan dan ikhtiar duniawi kepada Sang Pencipta, memohon agar pilihan yang mereka ambil melalui musyawarah senantiasa mendatangkan maslahat.

Selesai salat Isya dan zikir ba'diyah yang dipimpin langsung oleh Fathian dengan suara lembutnya, suasana rumah kembali hening dan syahdu. Tepat pada pukul delapan lewat empat puluh lima menit, mereka kembali ke ruang keluarga untuk melanjutkan sisa agenda musyawarah mereka dengan hati yang jauh lebih lapang.

Lihat selengkapnya