Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #73

Mensyukuri Nikmat Cinta

Mensyukuri Nikmat Cinta yang Datang di Waktu yang Tepat.

Sore itu, Kota Bandar Lampung kembali disapa oleh langit jingga keemasan yang perlahan meredup di ufuk barat, memantulkan kehangatan di atas genteng-genteng rumah warga. Di ruang keluarga rumah kecil keluarga Fathian, suasana terasa begitu tenang, khusyuk, dan jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota. Jam dinding kayu di sudut ruangan menunjukkan pukul empat lewat empat puluh lima menit sore. Angin senja berhembus lembut melalui jendela kaca yang terbuka separuh, membawa aroma wangi melati dari halaman depan yang basah usai disiram air oleh Salma beberapa jam sebelumnya.

Di atas karpet beludru abu-abu yang bersih dan empuk, Nayla duduk bersila dengan anggun mengenakan gamis panjang berwarna emerald green berpadu jilbab syar'i senada yang menjuntai rapi menutupi dada. Di hadapannya, Farhan—suami tercinta yang telah menikahinya beberapa bulan lalu—duduk bersandar santai pada sofa rotan, mengenakan kemeja koko putih polos dengan peci kain rajut putih di pangkuannya. Di tengah meja kayu kecil di antara mereka, terhampar sebuah cangkir poci teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis beraroma melati, menemani momen istirahat mereka setelah seharian sibuk dengan rutinitas harian.

"Alhamdulillah, sore ini cuacanya sangat bersahabat untuk kita manfaatkan duduk santai sejenak sambil merenungkan perjalanan hidup kita, Mas," ucap Nayla membuka percakapan dengan nada suara yang lembut, menjaga intonasi agar tetap rendah dan santun di hadapan suaminya.

Farhan tersenyum hangat, menatap istrinya dengan binar mata penuh kasih sayang dan kekaguman. "Iya, Adinda sayang. Waktu senja seperti ini adalah momen terbaik untuk mensyukuri segala nikmat Allah, terutama nikmat cinta yang datang di waktu yang paling tepat."

Bagi pasangan muda ini, waktu luang di rumah selalu diisi dengan rutinitas bermakna. Di tengah kesibukan harian Farhan mengurus pekerjaan kantor dan Nayla yang tekun merulis artikel dakwah, menyediakan waktu khusus untuk merefleksikan anugerah pernikahan menjadi sebuah kebutuhan spiritual yang sangat penting untuk mempererat ikatan batin mereka.

❖ ❖ ❖

Farhan meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja kayu, lalu menatap Nayla lekat-lekat dengan pandangan yang sarat akan rasa syukur. Tujuan utama Farhan dan Nayla meluangkan waktu sore ini sangat spesifik: mereka ingin merayakan dan mensyukuri nikmat cinta halal yang hadir setelah melalui berbagai ujian kesabaran yang panjang di masa lalu—bukan sekadar menikmati kebersamaan duniawi, melainkan mengukuhkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas ketepatan waktu takdir-Nya dalam menyatukan dua jiwa.

"Nayla, mari kita renungkan sejenak perjalanan hidup kita sebelum akhirnya Allah mempertemukan kita di pelaminan," kata Farhan memulai sesi perbincangan dengan nada suara yang sangat tenang dan terstruktur. "Tujuan kita sore ini adalah menghitung nikmat Allah dan mensyukuri mengapa cinta ini baru datang setelah kita benar-benar siap secara mental dan spiritual."

Nayla mengangguk khidmat, merespons arahan suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun dipenuhi senyuman bahagia. "Insya Allah, Mas. Kalau seandainya cinta ini datang lebih cepat di saat iman dan kesabaran kita belum diuji, mungkin kita tidak akan menghargai indahnya ikatan suci ini sebesar sekarang."

"Tepat sekali, Adinda," balas Farhan tersenyum lembut, merengkuh tangan istrinya dengan penuh kehangatan. "Tujuan utama kita hari ini adalah menanamkan rasa syukur yang mendalam. Cinta yang datang di waktu yang tepat adalah hadiah terindah bagi hamba-hamba yang sabar menanti jalan-Nya."

Nayla menunduk sejenak, meresapi tujuan mulia tersebut. Di tengah masa-masa penyesuaian rumah tangga, mengenang kembali bagaimana Allah mengatur skenario pertemuan mereka memberikan kekuatan batin yang luar biasa. Tujuan ini memperkokoh fondasi cinta mereka, menyatukan frekuensi jiwa di bawah naungan keridhaan Ilahi.

❖ ❖ ❖

Waktu beranjak maghrib ketika sesi perbincangan mendalam tersebut dihentikan sejenak oleh berkumandangnya suara azan dari surau terdekat yang bersahutan merdu. Farhan merapikan duduknya, lalu mengajak istrinya untuk segera bersiap menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta. Suasana transisi sore menuju malam itu terasa begitu syahdu dan menenangkan jiwa.

"Mari kita jeda sebentar, ambil air wudhu, dan tunaikan shalat Maghrib berjamaah. Setelah itu kita sambung lagi obrolan penuh syukur ini sambil menikmati makan malam bersama," ujar Farhan bijak.

"Baik, Mas. Nayla siapkan mukena dulu di kamar," jawab Nayla seraya bangkit dengan gerakan yang ringan dan penuh keanggunan.

Di dalam kamar mandi, Nayla membasuh wajahnya dengan air wudhu yang dingin dan segar, merasakan ketenangan batin yang langsung meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Transisi batin yang ia alami terasa begitu nyata; dari perenungan nikmat cinta di sore hari, kini jiwanya ditarik menuju kesyahduan ibadah shalat maghrib berjamaah di bawah imam suaminya tercinta.

Selepas shalat Maghrib berjamaah yang diimami langsung oleh Farhan dengan bacaan surah pendek yang merdu, suasana malam di ruang keluarga kembali diterangi cahaya lampu pijar kuning hangat. Di atas meja makan kecil di sudut ruangan, hidangan malam sederhana berupa nasi hangat, ayam goreng bumbu rempah, dan sayur asem buatan Nayla telah tersaji rapi, menebarkan aroma sedap yang menggugah selera.

"Masya Allah, bacaan surahmu tadi malam ini sangat menyentuh hati, Mas," puji Nayla tulus saat mereka duduk kembali di ruang keluarga usai makan malam.

"Alhamdulillah, terima kasih, Neng. Semua itu berkat ketenangan hati yang kita bangun lewat rasa syukur tadi sore," balas Farhan tersenyum hangat.

Lihat selengkapnya