Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #75

Menghadapi Badai Kecil

Menghadapi Badai Kecil dengan Solusi Istighfar dan Shalat.

Pukul tiga pagi di sepertiga malam terakhir menghadirkan keheningan yang begitu magis, syahdu, dan menenangkan di dalam kamar kecil rumah kediaman Fathian dan Syafiqah, yang terletak di kawasan pemukiman asri pinggiran kota Bandung. Cahaya lampu tidur berwarna kuning temaram memancarkan pijar lembut, menyinari sajadah terbentang rapi di atas lantai kayu yang bersih. Aroma wangi kayu gaharu bercampur dengan udara malam yang dingin menyegarkan ruangan, menciptakan atmosfer spiritual yang sangat khusyuk di tengah kepekatan malam yang sunyi dari segala aktivitas duniawi.

"Mas Fathian, bangunlah. Waktu sahur sudah hampir tiba, dan sepertiga malam ini adalah saat yang paling utama untuk kita bermunajat kepada Allah," bisik Syafiqah lembut sambil merapikan selimut suaminya dengan penuh kasih sayang.

Fathian mengerjap perlahan, membuka matanya dengan senyuman teduh menyambut sapaan sang istri. Ia bangkit dari pembaringan, lalu mengusap wajahnya perlahan untuk menghapus sisa kantuk. "Alhamdulillah, terima kasih sudah membangunkanku, Syafiqah. Mari kita dirikan shalat tahajud bersama sebelum fajar menyingsing."

Syafiqah mengangguk takzim, mengambil air wudhu yang telah disiapkan di sudut kamar. Suasana di dalam rumah kecil itu terasa begitu damai dan sakral; tidak ada suara bising selain desau angin malam yang menyejukkan. Fathian menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa ketenangan batin yang mereka rasakan malam itu adalah hasil dari kebiasaan mereka menyandarkan setiap masalah hidup langsung kepada Sang Pencipta melalui sarana istighfar dan shalat.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Fathian dan Syafiqah di sepertiga malam itu bukanlah sekadar menunaikan ibadah sunnah rutin atau mempersiapkan santap sahur harian semata. Jauh melampaui urusan rutinitas domestik biasa, mereka membawa sebuah misi spiritual yang sangat fundamental dan luhur: mereka bertekad untuk membentengi diri dan rumah tangga mereka dari segala bentuk badai kecil kehidupan—baik berupa tekanan ekonomi, kesalahpahaman rumah tangga, maupun fitnah dunia luar—dengan menjadikan istighfar yang istiqomah dan shalat malam sebagai solusi utama penyelamat jiwa.

"Dengarkan aku, Syafiqah," ujar Fathian dengan nada suara yang tenang namun penuh keteguhan saat mereka berdiri berdampingan di atas sajadah. "Dalam hidup berumah tangga, badai kecil berupa selisih paham atau ujian rezeki pasti akan selalu datang menerpa. Kunci utama agar kita tidak tersesat atau stres adalah kembali kepada Allah melalui shalat dan perbanyak istighfar."

Syafiqah mengangguk mantap, menatap lurus ke arah kiblat dengan penuh keikhlasan. "Aku sangat meyakini itu, Mas Fathian. Seringkali manusia mencari solusi masalahnya dengan mengeluh kepada sesama atau marah-marah, padahal pintu penyelesaian terbaik sudah dibukakan oleh Allah melalui sujud malam dan istighfar yang tulus."

"Tepat sekali," timpal Fathian dengan penekanan lembut. "Allah berfirman bahwa istighfar itu bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga membuka jalan keluar dari setiap kesempitan dan melimpahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."

"Dan mari kita niatkan shalat malam ini," tambah Syafiqah tulus, "agar Allah senantiasa menjaga keharmonisan hati kita, melapangkan dada kita dalam menghadapi cobaan, dan melindungi keluarga kecil kita dari segala marabahaya."

Tujuan suci itu menuntut konsistensi iman yang tinggi untuk selalu menjadikan ibadah sebagai tempat bersandar utama sebelum mengadu kepada manusia, yang sebentar lagi akan diuji secara langsung oleh datangnya sebuah masalah mendadak di pagi hari.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek di jam dinding ruang tengah menunjuk angka lima lewat tiga puluh menit ketika azan subuh berkumandang merdu dari surau terdekat, memecah kesunyian fajar dengan seruan agung Hayya 'alas shalah. Fathian dan Syafiqah yang telah selesai menunaikan shalat tahajud dan witir segera bersiap menunaikan shalat subuh berjamaah di rumah dengan penuh khidmat.

"Mari, Syafiqah, kita dirikan shalat subuh berjamaah sebelum matahari terbit," ajak Fathian sambil merapikan peci putihnya.

Syafiqah merapikan mukena putihnya, berdiri di makmum belakang suaminya dengan hati yang dipenuhi kedamaian spiritual setelah bermunajat panjang semalaman.

Masa transisi dari kekhusyukan malam menuju aktivitas hari baru terjadi begitu tenang dan teratur di dalam rumah kecil tersebut. Suara bacaan ayat suci Al-Qur'an dari lisan Fathian mengalir lembut, meresap ke dalam relung jiwa Syafiqah, menciptakan ikatan batin yang semakin kokoh di antara suami istri.

Begitu salam terakhir diucapkan menandai usainya shalat subuh, Fathian memanjatkan doa panjang memohon keberkahan, keselamatan, dan keteguhan hati bagi keluarganya, sementara Syafiqah mengamini setiap bait doa dengan air mata haru yang menetes perlahan.

Lihat selengkapnya