Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #76

Menyongsong Kehadiran Buah Hati

[partImg:[0]]

Menyongsong Kehadiran Buah Hati dengan Persiapan Iman.

Sore hari di teras belakang ndalem Pondok Pesantren Al-Falah memancarkan kehangatan yang begitu menenteramkan jiwa. Pukul 16.15 WIB, cahaya matahari akhir pekan menembus rimbunnya dedaunan pohon mangga di pekarangan, memantulkan bias keemasan di atas lantai marmer yang bersih. Angin berhembus sepoi-sepoi dari arah lembah pesantren, membawa kesejukan alami yang menyegarkan. Di tempat itu, Zaidan duduk di kursi rotan panjang, mengenakan kemeja koko putih polos berbalut sarung tenun cokelat tua. Di sampingnya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis longgar berwarna dusty pink dan jilbab senada, memperlihatkan perutnya yang kini mulai tampak membuncit seiring usia kandungan yang memasuki bulan ketujuh.

Setelah badai ancaman putusan sela arbitrase internasional terkait tanah wakaf berhasil digagalkan melalui pembuktian dokumen hukum yang sah beberapa waktu lalu, suasana pesantren kini kembali berada dalam kedamaian yang stabil. Di atas meja kayu jati di hadapan mereka, sepoci teh chamomile hangat dan sepiring jajanan pasar tradisional tersaji rapi, menebarkan aroma harum yang menenangkan. Suara santri-santri yang melantunkan hafalan Al-Qur'an dari surau utama terdengar sayup-sayup, menemani detik-detik senja yang penuh berkah.

"Udara sore ini terasa sangat ramah, Zaidan," ucap Nayla lembut sambil mengelus perlahan perutnya dengan senyuman hangat. "Gerakan kecil si kecil di dalam perut rasanya semakin aktif setiap kali mendengar lantunan ayat suci dari surau."

Zaidan menoleh, memandang istrinya dengan sorot mata penuh cinta dan ketulusan mendalam. "Itu tanda bahwa ia sudah terbiasa mendengarkan zikir dan kalam Ilahi sejak dalam kandungan, Nayla. Semoga kelak ia tumbuh menjadi anak yang saleh dan mencintai Al-Qur'an."

Suara desau angin dan gemercik air kolam ikan di samping teras menambah keheningan sore yang begitu syahdu.

❖ ❖ ❖

Bagi Zaidan dan Nayla, fase penantian kelahiran buah hati pertama mereka bukan sekadar mempersiapkan kamar bayi, pakaian, atau perlengkapan fisik semata, melainkan sebuah momentum sakral untuk memperkuat fondasi iman dan kesiapan mental sebagai orang tua. Target utama Zaidan sore hari ini adalah menyamakan visi pengasuhan anak secara Islami, memastikan bahwa pendidikan karakter sang buah hati kelak didasarkan pada nilai-nilai tauhid, keteladanan akhlak, serta kecintaan mutlak kepada Allah SWT di atas segala materi duniawi.

"Nayla, mari kita manfaatkan waktu sore ini untuk merancang kurikulum awal pendidikan iman bagi anak kita kelak," kata Zaidan dengan suara mantap namun penuh kelembutan. "Aku ingin kita sepakat bahwa pendidikan pertama yang ia terima bukanlah ambisi dunia, melainkan pengenalan kepada Sang Pencipta."

Nayla menatap suaminya dengan binar mata berkaca-kaca penuh haru. "Aku sangat sepakat denganmu, Zaidan. Harta dan kedudukan di pesantren ini tidak ada artinya jika kita gagal mendidik anak kita menjadi hamba Allah yang taat."

"Kita harus memulainya dari keteladanan kita sendiri di rumah," lanjut Zaidan menegaskan prinsip dasarnya. "Bagaimana kita berbicara, bagaimana kita menjaga kejujuran, dan bagaimana kita mendirikan salat akan terekam kuat di dalam jiwa anak kita sejak dini."

Nayla meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat dengan penuh keyakinan. "Mari kita jadikan rumah tangga kita sebagai madrasah pertama yang penuh dengan cinta kasih dan keberkahan-Nya, Zaidan."

Tujuan suci tersebut terpancar jelas dari raut wajah keduanya, memperkokoh tekad mereka sebagai calon orang tua yang siap mengemban amanah agung dari Allah SWT.

❖ ❖ ❖

Obrolan penuh visi spiritual itu mendadak diwarnai oleh derap langkah kaki teratur dari arah pintu penghubung ndalem. Pak Karto muncul dengan membawa map laporan bulanan yayasan serta sekotak kurma segar kiriman dari salah seorang wali santri. Begitu melihat Zaidan dan Nayla sedang serius berbincang, pengurus senior itu langsung memperlambat langkahnya dan membungkuk hormat.

"Maaf mengganggu waktu santai sore Gus Zaidan dan Neng Nayla," sapa Pak Karto dengan nada takzim. "Saya hanya ingin menyerahkan rekapitulasi laporan bulanan sekaligus menyampaikan kurma segar ini untuk kesehatan Neng Nayla."

Lihat selengkapnya