Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #77

Masa Kehamilan Nayla

Pukul empat sore lewat lima belas menit di hari Selasa yang cerah, suasana di dalam kamar tidur utama rumah minimalis milik pasangan Fathian dan Nayla di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu hangat, privat, dan menenteramkan. Sinar matahari sore memantul lembut melalui tirai gorden berwarna krem, menyinari lantai kayu parket yang bersih serta sebuah bantal kehamilan (maternity pillow) berwarna hijau pastel yang tertata rapi di atas tempat tidur berukuran king size. Aroma minyak esensial chamomile dan lavender berpadu lembut dari diffuser elektrik di sudut meja rias, menghadirkan ketenangan bagi siapa saja yang menghirupnya.

Fathian duduk bersandar di kursi kerja minimalis dekat jendela, mengenakan kemeja katun abu-abu terang yang dipadukan dengan celana bahan hitam longgar. Di sisi sebelah kanannya, Nayla berbaring santai dengan posisi miring ke kiri di atas tempat tidur, mengenakan gamis rumahan berbahan katun organik yang longgar dan nyaman. Wajah Nayla tampak berseri-seri, memancarkan rona kehamilan bulan keempat yang semakin mempercantik parasnya, meski di balik senyuman itu tersimpan rasa lelah ringan yang biasa dialami oleh seorang calon ibu muda.

"Alhamdulillah, hari ini gerakan si kecil di dalam perut rasanya semakin aktif, Mas," ucap Nayla pelan sambil mengelus lembut perutnya yang mulai membuncit, menatap suaminya dengan senyuman tulus yang menyiratkan rasa syukur yang tiada tara.

Bagi Fathian dan Nayla, fase kehamilan ini memiliki makna spiritual dan emosional yang sangat mendalam. Setelah melewati berbagai badai sengketa keluarga dan ujian hukum yang menguras tenaga beberapa waktu lalu, kehadiran buah hati di rahim Nayla menjadi anugerah terindah dari Allah SWT. Mereka menyadari bahwa pendidikan anak tidak dimulai setelah lahir ke dunia, melainkan sejak janin masih berada di dalam kandungan melalui kebiasaan ibu dan ayah memperbanyak doa serta melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

"Masya Allah, sungguh karunia yang luar biasa dari Allah, Sayang," jawab Fathian lembut sambil bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati tempat tidur. "Mari kita lanjutkan kebiasaan rutin kita membaca surah Maryam dan surah Yusuf sore ini untuk menyambut buah hati kita."

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah duduk di tepi ranjang dan merapikan selimut yang menutupi kaki istrinya, Fathian membuka Al-Qur'an berukuran sedang bersampul kulit cokelat tua yang selalu terletak di atas nakas. Hari ini, Fathian bersama Nayla menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: mereka ingin merutinkan tilawah harian khusus masa kehamilan—membaca surah-surah pilihan seperti Maryam, Yusuf, dan Luqman dengan tartil, lalu meniupkannya secara perlahan ke perut Nayla sambil memanjatkan doa perlindungan dan kecerdasan bagi sang janin.

"Nayla, apakah hari ini kamu sudah membaca zikir pagi-petang dan surah Al-Waqiah seperti yang kita jadwalkan kemarin?" tanya Fathian dengan nada suara yang sangat santun, penuh perhatian, dan dibalut kasih sayang yang mendalam.

Nayla mengangguk pelan sambil tersenyum meyakinkan. "Alhamdulillah sudah selesai, Mas. Tadi pagi selepas duha aku juga sempat mendengarkan murotal surah Maryam sambil beristirahat di kamar ini."

"Bagus sekali, Sayang. Target kita sore ini adalah menyempurnakan tilawah surah Yusuf ayat satu sampai sepuluh, lalu mendoakan agar kelak anak kita dikaruniai akhlak yang mulia, keteguhan iman, serta wajah dan hati yang bersih," ujar Fathian menjelaskan rencana ibadah sore mereka.

Tujuan utama Fathian dan Nayla sangat jelas: membangun benteng spiritual dan mental bagi sang anak sejak dalam kandungan. Mereka ingin memastikan bahwa janin yang tumbuh di dalam rahim Nayla senantiasa mendengarkan suara ayat-ayat suci Al-Qur'an, zikir, dan kalimat tayibah, alih-alih kecemasan duniawi. Dengan menetapkan tujuan ruqyah mandiri kehamilan ini, mereka ingin menghadirkan keberkahan dan ketenangan jiwa bagi ibu dan bayi.

"Aku sangat siap, Mas. Mari kita mulai membaca bersama-sama dengan suara yang pelan dan merdu," sahut Nayla penuh semangat, merapikan posisi bantalnya agar lebih nyaman.

❖ ❖ ❖

Azan Asar berkumandang merdu dari pengeras suara masjid terdekat, memecah kesunyian sore di kawasan perumahan tersebut. Suara kumandang azan yang bersahut-sahutan itu langsung direspons oleh Fathian dan Nayla dengan menghentikan sejenak aktivitas membaca Al-Qur'an dan merapikan posisi duduk mereka. Dengan sigap, Fathian berdiri mengambilkan segelas air zamzam hangat di dalam teko kecil untuk diminum oleh istrinya sebelum melanjutkan ibadah.

Perpindahan dari sesi perencanaan tilawah menuju kesyahduan menikmati air zamzam dan persiapan salat berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi pasangan suami istri tersebut. Nayla meneguk air zamzam perlahan sambil membaca doa keselamatan bagi dirinya dan bayinya, merasakan kesejukan air suci itu menyegarkan tenggorokan dan menenteramkan sekujur tubuhnya.

"Semoga Allah memberkahi pertumbuhan anak kita dan menjadikannya anak yang saleh dan salihah," gumam Nayla pelan penuh harap.

Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian dan Nayla. Mereka menyadari bahwa ikhtiar medis menjaga kesehatan kehamilan harus selalu diiringi dengan kepasrahan total kepada Sang Pencipta melalui ibadah yang khusyuk. Melalui salat Ashar berjemaah di kamar tidur utama, Fathian bertindak sebagai imam yang membimbing keluarganya, memohon agar setiap detik kehamilan ini dinaungi oleh rida dan perlindungan Allah SWT dari segala marabahaya.

Selesai salat Ashar dan zikir singkat yang dipimpin dengan suara lembut oleh Fathian, suasana kamar kembali hening dan syahdu. Tepat pada pukul empat lewat empat puluh lima menit, mereka kembali duduk bersandar di atas ranjang untuk melanjutkan agenda utama sore itu: melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an khusus bagi sang buah hati tercinta.

Lihat selengkapnya