Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #78

Fathian Siaga Menjaga

Fathian Siaga Menjaga Istri dalam Ketaatan.

Sore itu, suasana di kediaman keluarga Fathian di Bandar Lampung terasa begitu tenang dan damai, diselimuti oleh bias cahaya keemasan matahari yang perlahan turun di ufuk barat. Pukul empat sore lewat tigapuluh menit, angin sepoi-sepoi berhembus lembut melewati celah jendela ruang tengah, membawa aroma harum melati dari halaman depan yang baru saja disiram oleh Salma. Di sudut ruangan, jam dinding kayu berdetak konstan, mengiringi ritme kehidupan rumah tangga yang kian matang dan penuh keberkahan.

Di ruang keluarga yang beralaskan karpet beludru abu-abu bersih, Nayla duduk bersimpuh sambil merapikan beberapa lembar catatan artikel dakwah yang baru saja ia selesaikan. Mengenakan gamis panjang berwarna navy berpadu jilbab syar'i senada, ia tampak sedikit kelelahan setelah seharian berkonsentrasi penuh di depan meja kerjanya. Di sisi lain ruangan, Fathian—sang ayah mertua sekaligus pelindung keluarga yang bijaksana—tengah duduk bersandar santai di kursi rotan, memegang sebuah cangkir teh hangat beraroma melati yang mengepul tipis.

"Bagaimana tulisannya hari ini, Neng? Apakah sudah rampung semua?" tanya Fathian dengan suara bariton yang hangat dan kebapakan, menatap menantunya penuh perhatian.

Nayla mendongak, lalu tersenyum simpul seraya merapikan tumpukan kertas di hadapannya. "Alhamdulillah sudah selesai, Abah. Tinggal tahap editing akhir saja sebelum dikirim ke redaksi."

"Alhamdulillah kalau begitu. Jangan terlalu diforsir tenaganya ya, Neng. Kesehatan fisik dan batin itu adalah amanah yang harus dijaga agar ibadah dan ketaatan kita kepada Allah tetap optimal," nasihat Fathian lembut sambil meletakkan cangkirnya di atas meja kayu.

Bagi keluarga ini, sore hari selalu menjadi waktu yang tepat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjaga ketenangan batin di tengah dinamika harian yang kian padat.

❖ ❖ ❖

Fathian menarik napas dalam-dalam, menegakkan duduknya, lalu mengarahkan pandangannya secara saksama kepada Nayla yang tampak mulai merapikan peralatan kerjanya. Tujuan utama Fathian pada sore hari ini sangat jelas dan spesifik: ia ingin memastikan bahwa peran dan tanggung jawabnya sebagai wali sekaligus pelindung di dalam rumah tangga berjalan dengan optimal, khususnya dalam hal siaga menjaga istri dan menantunya agar senantiasa berada dalam koridor ketaatan kepada Allah Ta'ala tanpa ada tekanan yang berlebihan.

"Nayla, Abah ingin kita berbicara sebentar mengenai rutinitas harianmu belakangan ini," ucap Fathian memulai pembicaraan dengan nada yang sangat tenang dan penuh wibawa. "Tujuan Abah hari ini adalah memastikan bahwa kesibukan menulismu tidak mengorbankan waktu istirahat dan kualitas ibadah wajibmu."

Nayla merespons dengan mengangguk takzim, menaruh perhatian penuh pada setiap petuah bijak ayah mertuanya. "Iya, Abah. Nayla sangat memahami kekhawatiran Abah. Kadang memang kalau sedang asyik menulis, waktu istirahat jadi sedikit bergeser."

"Itulah mengapa Abah ingin mengambil peran siaga penuh untuk mengingatkanmu," sambung Fathian dengan senyuman hangat. "Tujuan seorang pemimpin di dalam rumah bukan sekadar mencari nafkah lahir, melainkan menjadi garda terdepan yang menjaga anggota keluarganya agar tidak lalai dari mengingat Allah, serta melindungi dari kelelahan duniawi yang sia-sia."

Nayla meresapi setiap kata yang diucapkan Fathian dengan hati yang bergetar haru. Ia menyadari betapa beruntungnya ia memiliki sosok ayah mertua yang tidak hanya tegas dalam prinsip agama, tetapi juga sangat peduli dan siaga memperhatikan kesejahteraan fisik serta spiritual anggota keluarganya.

❖ ❖ ❖

Waktu beranjak mendekati maghrib ketika percakapan penuh nasihat di ruang keluarga tersebut dihentikan sejenak oleh kumandang azan yang berkumandang merdu dari surau terdekat. Fathian berdiri dari kursi rotannya, mengajak seluruh anggota keluarga untuk segera bersiap menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta. Suasana transisi sore menuju malam itu terasa begitu syahdu, mengubah keheningan ruang keluarga menjadi ladang ibadah yang khusyuk.

"Mari kita bersiap mengambil air wudhu, Neng. Waktu maghrib sudah tiba," ujar Fathian lembut sambil melangkah menuju tempat wudhu di bagian belakang rumah.

"Baik, Abah. Nayla segera menyusul ke musala rumah," jawab Nayla patuh seraya membereskan sisa lembar kerjanya.

Di dalam kamar mandi, Nayla membasuh wajahnya dengan air wudhu yang dingin dan menyegarkan, merasakan transisi batin yang sangat kontras; dari keletihan fisik akibat menulis, kini jiwanya ditarik menuju ketenteraman total di hadapan Allah Ta'ala. Suara langkah kaki Farhan yang baru saja pulang dari kantor cabang turut meramaikan suasana rumah, berpapasan di ruang tengah dengan senyuman hangat penuh keakraban.

"Sudah mau maghrib, Mas. Mari kita jemaah bersama Abah," sapa Nayla ramah kepada suaminya yang masih mengenakan kemeja kerja berbalut jaket tipis.

"Alhamdulillah, pas sekali. Abah sudah menunggu di musala keluarga," balas Farhan tersenyum manis, merangkul bahu istrinya sekilas sebelum mengambil air wudhu.

Transisi dari aktivitas duniawi menuju ibadah berjamaah malam itu memperkokoh pilar-pilar keharmonisan rumah tangga yang dibangun di atas ketaatan mutlak kepada syariat Islam.

Lihat selengkapnya