Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #79

Kelahiran Sang Buah Hati

Kelahiran Sang Buah Hati: Tangis Syukur di Sepertiga Malam.

Cahaya lampu neon putih kebiruan memantul tenang pada lantai keramik koridor lantai tiga Rumah Sakit Ibu dan Anak Ibnu Sina di kawasan Jakarta Selatan, menciptakan atmosfer yang steril namun terasa begitu mendebarkan. Jam dinding besar di ujung lorong menunjuk tepat pada pukul dua lewat lima belas menit dini hari, menandakan waktu di sepertiga malam terakhir yang senantiasa sunyi dan penuh kemustajaban. Di dalam kamar bersalin VIP nomor 302, aroma antiseptik berpadu lembut dengan wewangian minyak aromaterapi lavender yang sengaja dinyalakan untuk menenangkan suasana. Fathian berdiri mondar-mandir di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian, sementara Nayla berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat menahan kontraksi hebat yang datang bergelombang.

"Fath... rasanya kontraksinya semakin rapat dan intens," rintih Nayla pelan dengan suara bergetar, memegang erat seprai putih ranjang rumah sakit.

Fathian segera menghentikan langkahnya, bergegas menghampiri sang istri, lalu menggenggam jemari Nayla yang terasa dingin dengan kedua tangannya yang hangat. "Sabar ya, Sayang. Tarik napas yang dalam lewat hidung, lalu hembuskan perlahan lewat mulut seperti yang diajarkan perawat tadi. Aku ada di sini menemanimu," ucap Fathian dengan nada suara yang sangat tenang, berusaha menyalurkan ketenangan batin ke dalam jiwa istrinya.

Nayla mengangguk lemah, mengikuti instruksi suaminya sambil memejamkan mata erat-erat, menahan rasa sakit luar biasa yang mendera tubuhnya. Suasana dini hari itu menjadi saksi bisu detik-detik paling menentukan dalam perjalanan rumah tangga mereka, di mana seorang istri bertaruh nyawa di antara hidup dan mati, dan seorang suami bersimpuh dalam doa yang tiada putus mengharapkan keselamatan bagi belahan jiwanya.

❖ ❖ ❖

Tujuan Tokoh (Goal): Menyambut Kelahiran Buah Hati dengan Dzikir dan Doa Keselamatan

Tujuan utama Fathian di sepertiga malam itu sangat spesifik, suci, dan penuh kepasrahan kepada Sang Pencipta: ia ingin mendampingi istrinya melewati proses persalinan dengan selamat, serta menyambut kelahiran buah hati pertama mereka diiringi lantunan ayat suci, zikir, dan doa-doa keselamatan. Fathian tahu betul bahwa momen melahirkan adalah salah satu bentuk jihad seorang wanita di jalan Allah, di mana doa-doa mustajab sedang berhamburan di langit malam. Di dalam hatinya, Fathian tidak henti-hentinya memanjatkan permohonan agar Allah melancarkan proses persalinan Nayla tanpa ada kurang suatu apa pun.

"Fath... tolong bacakan ayat kursi dan surat Al-Insyirah di dekat telingaku," pinta Nayla dengan napas tersengal-sengal di sela-sela rasa sakit kontraksi yang mendera perutnya.

Fathian mendekatkan wajahnya ke sisi bantal sang istri, lalu dengan suara yang parau, lembut, dan penuh kekhusyukan, ia mulai melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an:

"Inna ma'al 'usri yusra... fa idza faraghta fansab... wa ila rabbika farghab..."

Gema suara Fathian yang merdu mengalir masuk ke dalam relung jiwa Nayla, memberikan kekuatan gaib yang luar biasa besar untuk meredakan rasa sakit fisiknya. Setiap kata yang terucap dari bibir suaminya menjadi perisai penenang yang mengukuhkan keyakinan di dalam hati Nayla bahwa Allah senantiasa membersamai mereka dalam ujian terberat tersebut.

"Terima kasih, Fath... teruslah membaca doanya," bisik Nayla lirih dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.

Tujuan mulia itu tercapai dalam bentuk ikhtiar batin yang kuat; Fathian dan Nayla menyatukan jiwa raga mereka dalam dzikir dan tawakal total, bersiap menyambut amanah terindah yang dititipkan Allah ke dalam bahtera rumah tangga mereka.

❖ ❖ ❖

Transisi: Masuknya Tim Medis dan Ketegangan di Ruang Bersalin

Menjelang pukul tiga pagi, pintu kamar bersalin terbuka lebar ketika dokter spesialis obstetri dan ginekologi—Dokter Rahmat—bersama dua orang perawat senior masuk dengan langkah cepat dan sigap. Suasana ruangan yang tadinya intim dan penuh doa mendadak berubah menjadi ruang tindakan medis yang profesional, cepat, dan penuh konsentrasi tinggi. Dokter Rahmat segera memeriksa kondisi pembukaan jalan lahir Nayla, sementara para perawat menyiapkan peralatan medis steril di atas meja stainless steel di sisi ruangan.

"Pembukaannya sudah lengkap, Pak Fathian. Sebentar lagi proses persalinan aktif akan segera kita mulai," ujar Dokter Rahmat ramah namun tegas menatap Fathian yang berdiri siaga di samping ranjang.

Fathian mengangguk takzim. "Baik, Dok. Mohon bantuannya yang terbaik untuk istri dan anak saya."

Nayla menatap suaminya dengan sorot mata yang menyiratkan campuran antara rasa cemas, lelah, dan tekad yang kuat. Fathian segera menggenggam tangan istrinya lebih erat, mencium kening Nayla penuh kasih sayang, lalu membisikkan kalimat penenang di telinganya. "Kamu pasti bisa, Sayang. Tarik napas panjang, kumpulkan tenaga, dan kita hadapi ini bersama-sama karena Allah."

Transisi dari suasana dzikir privat menuju tindakan medis yang intensif menguji ketahanan mental pasangan suami istri tersebut. Tidak ada ruang untuk panik; yang ada hanyalah fokus total, kerja sama yang padu antara pasien dan tim medis, serta kepasrahan mutlak kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya