Sore hari di teras belakang ndalem Pondok Pesantren Al-Falah memancarkan kehangatan yang begitu menenteramkan jiwa. Pukul 16.30 WIB, cahaya matahari akhir pekan menembus rimbunnya dedaunan pohon mangga di pekarangan, memantulkan bias keemasan di atas lantai marmer yang bersih. Angin berhembus sepoi-sepoi dari arah lembah pesantren, membawa kesejukan alami yang menyegarkan. Di tempat itu, Zaidan duduk di kursi rotan panjang, mengenakan kemeja koko putih polos berbalut sarung tenun cokelat tua. Di sampingnya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis longgar berwarna dusty pink dan jilbab senada. Di pangkuan Nayla, bayi laki-laki mereka yang berusia empat bulan tampak tertidur pulas dalam balutan selimut rajut putih bersih, napasnya yang teratur menciptakan irama damai yang menyentuh relung hati.
Setelah melewati masa-masa kritis persalinan beberapa bulan lalu yang menguji keteguhan iman dan mental mereka, hari-hari di pesantren kini dihiasi oleh tawa renyah dan kehadiran sang buah hati yang menjadi pusat kebahagiaan keluarga kecil tersebut. Di atas meja kayu jati di hadapannya, sepoci teh chamomile hangat dan sepiring pisang rebus tersaji rapi, menebarkan aroma harum yang menenangkan. Suara santri-santri yang melantunkan hafalan Al-Qur'an dari surau utama terdengar sayup-sayup, menemani detik-detik senja yang penuh berkah.
"Udara sore ini terasa sangat bersahabat, Zaidan," ucap Nayla lembut sambil menatap wajah bayinya yang tidur lelap. "Lihatlah betapa tenangnya ia tertidur di tengah lantunan ayat suci dari surau."
Zaidan menoleh, memandang istri dan anaknya dengan sorot mata penuh cinta dan ketulusan mendalam. "Itu karena ia tumbuh dalam lingkungan yang senantiasa dihidupkan dengan zikir dan doa, Nayla. Anak-anak merekam ketenangan batin orang tuanya jauh lebih cepat daripada apa yang kita ucapkan."
Suara desau angin dan gemercik air kolam ikan di samping teras menambah keheningan sore yang begitu syahdu.
❖ ❖ ❖
Bagi Zaidan dan Nayla, merawat dan mendidik seorang anak di lingkungan pesantren memberikan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan fisik semata. Target utama Zaidan sore hari ini adalah merumuskan prinsip dasar pengasuhan berbasis keteladanan langsung—memastikan bahwa pembentukan karakter sang buah hati kelak tidak hanya bersandar pada nasihat verbal, melainkan pada konsistensi perilaku nyata orang tua yang mencerminkan nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
"Nayla, mari kita jadikan momen sore ini untuk menegaskan kembali komitmen kita dalam mendidik anak," kata Zaidan dengan suara mantap namun penuh kelembutan. "Aku tidak ingin kita menjadi orang tua yang hanya pandai memerintahkan kebaikan kepada anak, tetapi lalai mempraktikkannya dalam keseharian."
Nayla menatap suaminya dengan binar mata penuh persetujuan mendalam. "Aku sangat sepakat denganmu, Zaidan. Anak adalah peniru ulung; apa yang ia lihat kita lakukan di rumah ini akan menjadi cetak biru kepribadiannya di masa depan."
"Maka segala gerak-gerik kita, cara kita berbicara satu sama lain, hingga cara kita menghormati tamu harus dijaga dengan penuh kesadaran," lanjut Zaidan menegaskan prinsip keteladanan. "Keteladanan orang tua adalah kurikulum pertama dan utama sebelum ia mengenal bangku sekolah."
Nayla meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat dengan penuh keyakinan. "Mari kita mulai dari diri kita sendiri, Zaidan, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang jujur, santun, dan taat kepada Allah."
Tujuan suci tersebut terpancar jelas dari raut wajah keduanya, memperkokoh tekad mereka sebagai orang tua yang siap mengemban amanah agung.
❖ ❖ ❖
Obrolan penuh visi pengasuhan itu mendadak diwarnai oleh derap langkah kaki teratur dari arah pintu penghubung ndalem. Pak Karto muncul dengan membawa map laporan bulanan yayasan serta sekotak buah apel segar kiriman dari salah seorang wali santri senior. Begitu melihat Zaidan dan Nayla sedang serius berbincang sambil menimang bayi, pengurus senior itu langsung memperlambat langkahnya dan membungkuk hormat.
"Maaf mengganggu waktu sore Gus Zaidan dan Neng Nayla," sapa Pak Karto dengan nada takzim. "Saya hanya ingin menyerahkan rekapitulasi laporan kegiatan santri sekaligus menyampaikan buah segar ini untuk kesehatan keluarga."
Zaidan tersenyum ramah menyambut kehadiran pengurus senior tersebut. "Silakan masuk, Pak Karto. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Letakkan saja di atas meja."
Pak Karto meletakkan kotak buah tersebut dengan hati-hati. "Sama-sama, Gus. Melihat bayi kalian tumbuh sehat dan aktif adalah kebahagiaan bagi seluruh pengurus di pesantren ini."