Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

Refleksi Perjalanan Panjang Fathian dan Nayla.

Refleksi Perjalanan Panjang Fathian dan Nayla.

Pukul delapan lewat sepuluh menit di malam Minggu yang sejuk, suasana di ruang keluarga rumah minimalis milik pasangan Fathian dan Nayla di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, terasa begitu hangat, intim, dan menenteramkan jiwa. Sinar lampu gantung bercahaya kuning temaram memantul lembut pada dinding cat krem dan perabotan kayu jati yang tertata rapi, menciptakan atmosfer rumah tangga yang penuh kedamaian setelah melewati rangkaian ujian hidup yang begitu panjang dan melelahkan. Aroma teh chamomile hangat berpadu harmonis dengan wangi uap minyak esensial lavender dari diffuser di sudut ruangan, menghadirkan ketenangan bagi siapa saja yang menghirupnya.

Fathian duduk bersandar di sofa beludru abu-abu terang, mengenakan kemeja koko kasual berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana bahan hitam longgar. Di sisi sebelah kanannya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis rumahan berbahan katun lembut berwarna soft pink dan jilbab instan senada, sambil memegang cangkir teh hangat dengan kedua tangannya yang sedikit merentang di atas perut buncitnya yang kini memasuki bulan kesembilan kehamilan. Wajah keduanya memancarkan ketenangan batin yang mendalam, sebuah cerminan dari jiwa yang telah ditempa oleh berbagai badai kehidupan rumah tangga.

"Alhamdulillah, tidak terasa ya Mas, kita sudah melewati begitu banyak babak kehidupan sejak hari pertama akad sampai detik ini," ucap Nayla pelan sambil menatap suaminya dengan senyuman tulus yang menyiratkan rasa syukur yang tiada tara.

Bagi Fathian dan Nayla, malam Minggu ini memiliki makna muhasabah yang sangat penting dan sakral. Setelah melewati serangkaian ujian berat mulai dari sengketa warisan keluarga, teror penggusuran, hingga drama pemeriksaan medis kehamilan yang menegangkan beberapa waktu lalu, mereka menyadari bahwa perjalanan panjang pernikahan mereka adalah sebuah sekolah kehidupan yang mengajarkan arti kesabaran sejati. Mereka sepakat meluangkan waktu khusus malam ini untuk merenungkan kembali setiap jejak langkah dan hikmah yang telah Allah SWT bentangkan di hadapan mereka.

"Betul sekali, Sayang," jawab Fathian lembut sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Setiap air mata, setiap ketakutan, dan setiap sujud syukur yang kita lewati bersama telah membentuk kita menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dan saling mencintai karena Allah."

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah meneguk teh hangat untuk membasahi tenggorokannya, Fathian membuka sebuah album foto pernikahan sekaligus jurnal catatan harian bersampul kulit hitam di atas meja kopi kayu di hadapan mereka. Hari ini, Fathian bersama Nayla menetapkan sebuah tujuan mulia yang sangat spesifik dan terarah: mereka ingin melakukan refleksi total atas perjalanan pernikahan mereka selama ini, mengevaluasi sejauh mana mereka telah berhasil menjaga keharmonisan rumah tangga, serta menuliskan lembaran baru komitmen cinta menyambut kelahiran buah hati tercinta yang tinggal hitungan minggu.

"Nayla, mari kita buka kembali halaman-halaman awal jurnal kita dulu. Apakah kamu masih ingat cita-cita kecil yang kita tulis di malam pertama kita menikah?" tanya Fathian dengan nada suara yang sangat santun, penuh perhatian, dan dibalut nostalgia yang manis.

Nayla tersenyum simpul, matanya berbinar hangat menatap lembar demi lembar foto kenangan di dalam album tersebut. "Masih ingat jelas, Mas. Kita menulis bahwa rumah kita harus menjadi surga kecil yang dipenuhi zikir, tempat berlindung dari segala keburukan dunia, dan tempat di mana kita saling menguatkan dalam ketaatan."

"Alhamdulillah, meski badai sengketa dan ujian datang silih berganti, Allah membuktikan bahwa janji-Nya itu nyata. Tujuan kita malam ini adalah mensyukuri semua itu dan memperbarui janji setia kita," ujar Fathian menegaskan tujuan muhasabah mereka.

Tujuan utama Fathian dan Nayla sangat jelas: mengukuhkan fondasi mental dan spiritual menjelang babak baru sebagai orang tua. Mereka tidak ingin terjebak dalam euforia kesuksesan melewati masa-masa krisis semata, melainkan ingin merajut kembali visi jangka panjang keluarga mereka di atas landasan takwa. Dengan menetapkan tujuan refleksi ini, mereka ingin memastikan bahwa hati mereka senantiasa bersyukur dan tidak pernah sombong atas pertolongan Allah SWT.

"Aku sangat setuju, Mas. Mari kita tuliskan resolusi baru kita untuk menyambut kelahiran anak kita di lembar terakhir jurnal ini," sahut Nayla penuh semangat, memegang pena dengan jemari lentiknya.

❖ ❖ ❖

Azan Isya berkumandang merdu dari pengeras suara masjid terdekat, memecah kesunyian malam di kawasan perumahan tersebut. Suara kumandang azan yang bersahut-sahutan itu langsung direspons oleh Fathian dan Nayla dengan menghentikan sejenak aktivitas membaca jurnal dan merapikan lembaran foto di atas meja. Dengan sigap, Fathian berdiri dan membimbing istrinya untuk mengambil air wudu dan bersiap menunaikan salat Isya berjemaah di ruang salat keluarga yang terletak di bagian belakang rumah mereka.

Perpindahan dari sesi refleksi historis dan penulisan resolusi menuju kesyahduan ibadah salat Isya berjemaah menjadi jembatan transisi batin yang sangat menenangkan bagi pasangan suami istri tersebut. Mereka berwudu secara bergantian dengan penuh ketenangan, merasakan setiap tetesan air menyucikan fisik sekaligus melepaskan segala sisa-sisa kenangan penat masa lalu dari pikiran mereka.

"Allah tempat kita memuji dan bersyukur atas segala nikmat yang telah disempurnakan," gumam Nayla pelan saat merapikan mukena putih bersih miliknya.

Transisi spiritual ini sangat krusial bagi Fathian dan Nayla. Mereka menyadari bahwa muhasabah dan refleksi perjalanan hidup tidak akan pernah bermakna hakiki tanpa diiringi dengan sujud syukur mutlak kepada Sang Pencipta melalui salat berjemaah. Melalui ibadah malam itu, mereka menyerahkan seluruh lembaran hidup masa lalu dan masa depan kepada Allah SWT, memohon agar sisa usia pernikahan mereka senantiasa diberkahi dengan kedamaian.

Lihat selengkapnya